Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #35

34. Kejutan Pilu

Tiga bulan telah berlalu, dan permainan sandiwara mereka semakin matang. Di kantor, mereka kerap berubah menjadi rival yang sengit. Sejak Lucia secara resmi dipromosikan ke posisi yang setara dengan Matthew, percikan api kerap tercipta saat ide mereka bertolak belakang. Suara Lucia yang biasanya tenang bisa berubah tajam bagai pisau bedah saat mempertahankan argumennya, sementara mata Matthew yang biasanya hangat bisa membeku dalam debat.

"Data yang kamu ajuin nggak memperhitungkan risiko jangka panjang," sergah Lucia dalam satu rapat penting, jarinya menunjuk ke slide presentasi Matthew.

"Justru analisis aku udah pertimbangin semua skenario," balas Matthew dengan dingin, kedua tangannya mengepal di atas meja kayu mahoni.

Ruangan rapat berubah menjadi arena gladiator, dengan para kolega yang menyaksikan dengan nafas tertahan. Tensi meninggi, ego saling berbenturan, dan tak jarang rapat harus diistirahatkan sebentar agar suasana mereda.

Namun begitu jam kerja berakhir, dinamika mereka berubah total. Saat matahari terbenam dan lampu kota mulai menyala, mereka akan berjalan terpisah menuju lift yang berbeda, bertemu lagi di basement parkiran yang sepi. Mobil hitam Matthew, menjadi ruang rahasia mereka—tempat di mana semua ketegangan dan amarah yang terakumulasi seharian menemukan jalan keluar yang lain.

Begitu pintu mobil terkunci, Matthew langsung menarik Lucia ke pelukannya. "Tadi di rapat kamu nyebelin banget," gumannya di antara ciuman panas yang membakar.

"Kamu juga nggak kalah nyebelin," balas Lucia dengan nafas tersengal, tangannya sudah meraih kerah kemeja Matthew.

Ciuman mereka bukan lagi sekadar sentuhan lembut, melainkan perpaduan antara rasa frustrasi, gairah, dan kebutuhan yang tak terbendung. Matthew mendorong Lucia ke sandaran kursi, tubuhnya menindih dengan lembut tapi penuh keinginan. Lidah mereka bertarung dengan intensitas yang sama seperti saat mereka berdebat tadi siang—hanya kali ini, tidak ada yang ingin menang atau kalah. Tangan Matthew meraba punggung Lucia, menariknya semakin dekat, sementara Lucia menjatuhkan tangan ke pangkuan Matthew, membuat pria itu mengerang pelan.

"Udah, nanti ada orang," bisik Lucia lemah, meski tangannya masih erat memeluk Matthew.

"Lima menit lagi," desis Matthew, mulutnya kembali menyerang leher Lucia yang sensitif.

Pola ini terus berulang: bertengkar di ruang rapat, bercumbu di parkiran. Sebuah siklus yang melelahkan tapi membuat ketagihan. Dalam diam, mereka tahu hubungan ini tidak sehat—tapi seperti dua magnet, tolak-menolak mereka justru membuat tarikan antara mereka semakin kuat. Dan di kedalaman hati mereka, keduanya sadar: mungkin justru konflik-konflik itulah yang membuat api hubungan mereka terus menyala.

Malam ini, di restoran seafood yang dipenuhi suara riuh rendah percakapan dan denting piring. Tim Sales dan Sales Support berkumpul dalam suasana santai, jauh dari kesan formal rapat kerja. Matthew dan Lucia, dengan penuh perhitungan, datang terpisah dan duduk di ujung meja yang berseberangan. Selama tiga bulan mereka dengan susah payah mempertahankan sandiwara ini.

"Jadi..." Matthew tiba-tiba memecah keheningan di tengah obrolan ringan, "kalian semua udah tahu?" Wajahnya mencerminkan rasa tak percaya yang dalam. Selama ini ia mengira aktingnya sempurna.

Anggi menyeringai lebar sebelum berteriak lantang, "Iya lah! Siapa di sini yang nggak tahu?" Tatapannya menyapu seluruh meja, seolah menantang siapa pun yang berani menyangkal.

Suasana seketika berubah. Beberapa kolega tertawa terkekeh, ada yang dengan malu-malu mengangguk, sementara yang lain hanya tersenyum penuh arti. Rafael bahkan tak bisa menyembunyikan gelinya, sampai harus menutup mulut dengan serbet.

Matthew dan Lucia seperti terkena pukul telak. Pandangan mereka yang awalnya tertuju ke masing-masing sudut ruangan, perlahan bergerak dan akhirnya bertemu. Di dalam mata Lucia, Matthew melihat keheranan yang sama dengan yang ia rasakan. Rasanya dunia berputar lebih lambat saat mereka menyadari betapa naifnya mereka selama ini.

"Tapi..." Lucia akhirnya bersuara, suaranya sedikit parau, "gimana kalian bisa tahu?"

"Gimana nggak tahu, kalau kalian berantem pas rapat, itu kelihatan kayak pertengkaran suami istri," sahut Anggi disambut tawa rekan-rekan lainnya. "Terus mata Mas Matthew, selalu ada bunga-bunganya kalau natap mata kamu."

Seseorang menambahkan, "Kalian juga sengaja pakai lift terpisah, tapi sama-sama ke basement."

Ruang restoran yang megah tiba-tiba terasa seperti panggung sandiwara dimana mereka berdua adalah pemain utama yang tidak tahu bahwa semua penonton sudah membaca naskahnya. Matthew menarik napas dalam, sementara Lucia menutup mata sejenak, wajahnya memerah karena malu dan sedikit merasa bodoh.

Dalam keheningan yang menyergap, tatapan Matthew dan Lucia akhirnya bertemu. Di antara rasa malu yang membara, sebuah kelegaan tak terucapkan mengalir pelan. Akhirnya, segala sandiwara yang melelahkan itu berakhir.

"Sini, pindah duduk di sini!" panggil Matthew tiba-tiba, suaranya lantang dan penuh keyakinan sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya, meminta Lucia untuk berpindah.

Lihat selengkapnya