Sekelam Hati Aksara

DW AMOUR
Chapter #1

Aksara

Langit pegunungan pagi itu tampak mendung. Di puncaknya, seorang pemuda berdiri dengan sebuah kamera di tangan, fokusnya pada hamparan hijau dari ketinggian yang diselimuti kabut putih.

Aksara Mahesa, sejak usianya baru delapan tahun ia sudah menyukai dunia fotografi. Dengan modal kamera tua peninggalan sang kakak, Aksara mulai mendalami dunia fotografi alam.

Meski sang ayah menentang keras hobi yang kini sulit ia tinggalkan itu, Aksara tetap menggeluti dunia fotografi, persetan dengan ocehan dan omelan ayahnya.

Hengki Mahesa, merupakan orang berada di kota Jakarta, pemilik perusahaan besar di bidang pertambangan, merasa kesal karena sang putra memilih jurusan fotografi daripada bisnis.

Setelah putra sulungnya, Yudistira meninggal karena suatu penyakit, harapan Hengki satu-satunya cuma Aksara. meski masih ada putri bungsunya yaitu Rinjani, gadis berusia 19 tahun yang kini sedang mengecap pendidikan di universitas ternama di kota Bandung.

"Bro! Turun dulu! Cuacanya lagi ekstrem!" teriak Zaki, teman satu tim pendakian Aksara.

Zaki sudah berteman dengan Aksara sejak mereka duduk di bangku SMA, sudah tahu betul watak temannya itu. Aksara bukan cuma keras kepala, tapi juga tak mau diatur-atur dan suka 𝘯𝘨𝘦-𝘨𝘢𝘴 kalau ngomong.

Aksara yang sedang fokus mengincar dari balik lensa kameranya, mengeluarkan suara tanpa menoleh ke belakang di mana Zaki masih berdiri menunggunya. "Lo aja duluan! Lagi nanggung!"

Zaki mendengus bosan, kepalanya geleng-geleng. "Yaudah gue sama anak-anak duluan! Lo hati-hati!"

Aksara tidak menjawab, fokus mengambil gambar burung-burung belibis yang terlihat hinggap di pematang sawah dari kejauhan. Zaki tahu, anak itu tidak akan menjawabnya, namun ia tahu Aksara tidak 𝑏𝑢𝑑𝑒𝑘.

Zaki pun berjalan turun menuju pos pendakian. Tiga rekannya, Anto, Beni dan Rio yang sudah berada di pos, menatap ke arahnya, melihat ke sekitar Zaki yang tampak berjalan seorang diri.

"Aksara mana? Kok lo sendirian?" tanya Anto. Dia 𝑘𝑢𝑎𝑡𝑖𝑟 pada Aksara karena cuaca di pegunungan sedang ekstrem, langit mendung dan angin mulai kencang.

Beni dan Rio yang sedang duduk sambil beristirahat menoleh ke arah Zaki, penasaran kenapa Aksara tidak ikut turun.

Zaki menghela nafas panjang, melepaskan ranselnya dan duduk di samping Rio, kepalanya menggeleng. "Lo tahu sendiri lah si Aksara. Mana mau di turun sebelum 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑢𝑝 angin."

"Hus! Jangan ngomong sembarangan!" cela Beni. "Cuacanya lagi buruk begini, kenapa lo tinggalin Aksara di puncak sendirian?"

Zaki menatap wajah semua temannya dengan ekspresi jengah. "Udah gue bilang, dia nggak mau turun. Mending lo aja susul dia, gua males debat sama tuh orang."

Beni dan Rio saling pandang. Mereka tahu, jika saat ini Aksara sedang ada masalah dengan ayahnya, makanya dia lari ke gunung. Percuma juga kalau mereka bujuk Aksara turun, dia nggak bakal mau dengar. Tapi, mereka juga tidak mau ambil resiko, karena cuacanya makin buruk.

"Gini aja, lo sama Anto tunggu di sini, biar gua sama Beni yang susul Aksara," ujar Rio memecah keheningan di antara mereka berempat.

Lihat selengkapnya