Keteguhan hati Alim berubah ketika Fatimah menjelaskan apa alasan dia mengidam ingin ke Desa Lembah. Ibu. Sebuah kata dengan sebegitu banyak makna. Makna dari sebuah ketegaran yang sesungguhnya. Keteguhan hati Alim kalah bila dibandingkan dengan ketegaran ibu. Keteguhan hati Alim selalu berada di bawah kaki sang ibu. Mualim tetiba bisa sontak berubah penurut jika berhubungan dengan satu nama: ibu.
Fatimah, ibu dari calon jabang bayi anak pertama Mualim, membuyarkan semua rencana Alim. Imbas dari itu semua, Pak Dipon yang ketempuan mengelola empang-empang gurami Alim selama Fatimah dan Alim pulang ke Desa Lembah.
Rencana berubah. Alim memberi kabar kepada Anna akan kepulangannya ke Desa Lembah bersama Fatimah. Anna gembira. Fatimah taksabar menanti mereka berdua bertemu karena selama ini mereka berdua hanya bersilaturahmi, mengobrol via HP.
Pada hari keberangkatan Mualim dan Fatimah, Pak Dipon mengantarkannya hingga stasiun kereta. Pak Wadi ikut pula mengantarkan mereka berdua kecuali Abah Kadi yang diberi tugas hari itu mengawasi empang-empang gurami milik Alim.
—
Seorang lelaki berpakaian biasa, berjaket, bercelana jin, melintas di jalan setapak Desa Lembah. Motornya perlahan-lahan menepi lalu tak bergerak, tak seberapa jauh dari sebuah rumah dengan satu empang kecil di belakang rumah. Dia mengamati seorang perempuan dan seorang anak lelaki yang sedang bermain di tepi empang di belakang rumah itu. Lalu perempuan itu masuk ke dalam rumah. Si lelaki melihat ujung daun pintu rumah bagian belakang terbuka. Setelah itu, seluruh tubuh perempuan menghilang, masuk ke dalam rumah. Asyik anak itu masih bermain meski sendirian. Dia melihat anak itu terpeleset masuk ke dalam empang. Anak itu takbisa berenang dan kaget juga menangis. Lelaki yang sedari tadi memperhatikan sekitar rumah dengan satu empang di belakang rumah itu lantas sigap berlari dan menolong si anak kecil. Dia membuang tubuhnya ke dalam empang, mendekati kepala anak yang timbul tenggelam dan mulutnya gelagapan. Anak itu selamat di tangan lelaki yang— seluruh apa yang dikenakannya—jadi kuyup: kaus, jaket, celana jin dan celana dalam, juga sepatu. Rambut sepanjang lebih dari tengkuknya pun basah. Jenggot tipisnya juga basah. Wajahnya bertitik-titik sisa air empang dan masih menempel saat dia membopong anak itu, berjalan—di empang sedalam setinggi dada lelaki itu—sampai ke pinggir empang.
Ketika lelaki berjenggot tipis itu hampir sampai di pinggir empang, pintu rumah bagian belakang terbuka mendadak mengeluarkan perempuan yang berlari waswas menuju empang. Dia berteriak memanggil, "Jang!" Berulang kali dia berteriak memanggil selagi gegas kakinya pontang-panting mendekati bibir empang.
"Kang, ayo Kang, saya bantu," ujar sang perempuan sembari menyingsingkan jilbab yang menjulur sehingga menyampir di bahunya bagian kanan. Setelapak tangan kanan sang perempuan terangsur lurus dan disambut oleh sang lelaki yang berkata,
"Ini, anak ini saja yang kamu gendong." Kedua lengannya menyerahkan Jang yang masih terisak-isak.
Tanpa mendebat, segera diterima badan Jang, anaknya, oleh kedua lengan sang perempuan. Kemudian, lelaki berjenggot itu naik dari empang perlahan-lahan hingga seluruh tubuhnya yang basah berdiri di tepi empang. Air mengucur turun membasahi tanah berumput di bawah kedua tapak kakinya.
Ibu dari Jang lantas menoleh pada lelaki berjenggot itu dan berkata, "Terima kasih, Kang." Diiringi senyum tipis dan peluh menitik di dahinya tampak jelas.
Lelaki berjenggot itu mengangguk, tersenyum.
"Kang, itu bajunya basah. Ayo masuk dulu ke rumah."
Lelaki itu takbisa menolak. Mana mungkin dia menjadikan motor tunggangannya menjadi "jemuran berjalan"? Dia mengikuti langkah kaki ibu dari anak yang tercemplung empang dan diselamatkan olehnya, dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Rumah itu sederhana dan lapang. Selama dia berjalan mengikuti tubuh perempuan berjilbab yang menggendong Jang, dia melihat tungku dan kompor, meja, rak barang pecah belah, lalu dia melangkah masuk ruangan berisikan barang-barang dominan berbahan kayu jati dan melihat cermin, lemari, televisi, bufet, meja makan lengkap dikelilingi beberapa bangku, juga kursi dan meja. Dia mengamati isi rumah dan beberapa pintu di dalam rumah yang tertutup rapat.
"Silakan duduk dulu, Kang," pinta sang perempuan dengan Jang tergendong menggunakan satu tangannya setelah mereka bertiga sampai di ruang tamu. Melekat tubuhnya dengan Jang yang membagikan basah merambati baju kurung sang ibu.
Sambil tersenyum, lelaki berambut sepanjang lebih dari setengkuk pun duduk. Dia dikelilingi oleh furnitur yang dominan berwarna cokelat, foto-foto, ornamen kaligrafi, dan lampu gantung yang menjulur rantai pengaitnya dari langit-langit ruang tamu rumah.
"Saya ambil pakaian buat Akang dulu, ya,"
"Iya. Terima kasih."
Jang yang sudah berganti pakaian berjalan di sisi ibunya yang membawa pakaian untuk lelaki yang telah menolong Jang sepuluh menit kemudian. Saat mengetahui lelaki itu hanya menyisakan basah di kursi ruang tamu, Anna pun kaget, sementara Jang polos celingak-celinguk mencari-cari sesuatu.
Daun pintu ruang tamu tertutup rapat dengan kunci pintu masih menggantung di lubangnya di dalam rumah dengan satu empang di belakang rumah itu.
—
Fatimah begitu menikmati perjalanannya. Di dalam gerbong kereta api yang membawanya ke Bogor, Fatimah duduk sambil menikmati pemandangan dari jendela gerbong penumpang. Sawah-sawah berjalan. Gunung, bukit, seperti mengajak bermain petak umpet dengan Fatimah karena bersembunyi di balik tebing maupun terowongan. Walau bisa dipastikan, Fatimah-lah yang menang bermain petak umpet sebab gunung dan bukit itu kembali ditemukan oleh matanya selama kendaraan di jalan raya seolah-olah tampak mengejar-ngejar dirinya yang duduk di dalam gerbong penumpang menikmati pemandangan.
Sementara itu, Alim yang mengenakan topi, memakai jaket kulit cokelat untuk menghalau dingin hawa Bogor yang kerap basah akibat hujan, duduk di samping Fatimah dengan bersedekap. Duduknya tegak. Matanya awas mengamati semua yang berada segerbong bersama dirinya dan Fatimah. Alim begitu waspada selama perjalanan.
Perjalanan Fatimah dan Mualim berakhir ditandai rintik hujan yang melekat di jendela gerbong penumpang kereta api yang membawanya menuju Stasiun Bogor. Rintik hujan yang bercampur dengan debu sebesar biji jagung melekat di jendela gerbong penumpang sehingga menghalangi pandangan mata Fatimah. Dia lalu menoleh kepada Mualim dan bertanya, "Kang, masih jauh?"
"Sudah basah. Itu artinya sudah masuk wilayah Bogor."
Benar saja. Lima menit sesudah Alim berkata, gerbong yang ditumpangi mereka berdua melambat. Klakson kereta api berbunyi bersamaan dengan kereta api berhenti di Stasiun Bogor.
Para porter cekatan naik ke dalam gerbong penumpang untuk menawarkan jasa mengangkut barang. Mulut mereka berteriak dengan bahasa Indonesia berlogat Sunda. Mereka menoleh ke kiri ke kanan selama berjalan menyusuri tempat yang mengantarai kursi-kursi gerbong penumpang yang berjejer. Satu dari porter dipanggil oleh Fatimah selagi Alim sibuk cergas menurunkan dua koper dan dua kardus dari para-para besi kromium tepat di atas tempat duduk Fatimah. Bagasi penumpang itu, memanjang sepanjang gerbong penumpang, letaknya satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan dekat jendela di atas kursi penumpang. Porter sigap mendekati Fatimah sesudah menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan bahwa dirinyalah yang dipanggil. Porter itu ramah tersenyum.
"Kang, tolong bawa ini dan ini," suruh Alim.
Segera si porter membungkuk dan memanggul satu koper. Setelah itu, tangan kiri dia menggembol kardus di pinggang. Begitu pun Alim.
"Ayo, Imah. Cepat."
Fatimah melangkah disusul Alim mengejar porter yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu gerbong bersama dengan para penumpang yang segerbong.
"Kiri, kanan, Kang?"
"Kanan." jawab Alim.
Porter pun menurut dan turun melalui pintu kanan gerbong. Lalu Alim dan porter bersikejar berjalan cepat melintasi dua jalur rel kereta api.