Sekisah tentang Mualim dengan Fatimah

Andriyana
Chapter #5

Bab 5

Seorang lelaki berusia sekitar 20—25-an tahun berjalan di jalan permukiman. Dia lintasi gang kumuh yang diapit selokan berisi air hitam yang bercampur dengan sampah. Bau khas sampah menusuk hidung tak dia pedulikan. Indra penciumnya seperti enggan melaporkan tugas pada otaknya. Matanya kosong, redup binarnya. Ramai anak-anak yang berlarian selama dia berjalan di gang sementara matahari sudah pergi meninggalkannya sekitar sejam lalu. Bajunya rapi walau masih menyisakan basah sisa keringatnya di kedua ketiak, tengkuk, dan punggungnya. Dia terus menyusuri gang hingga berpapasan dengan tukang sekoteng.

"Woi! Minggir! Kalau jalan jangan melamun," teriak si tukang sekoteng. 

Namun lelaki berbaju kemeja rapi walau lusuh itu hanya menyisi, memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan gerobak sekoteng lewat beserta sisa dongkol si pedagang yang melotot kepadanya di remang cahaya lampu gang yang tegak berdiri.

Dia memperlama miring tubuhnya sebab mendengar suara dentingan piring tukang ketoprak yang tergopoh-gopoh mendorong gerobak menyalipnya. Dagangan ketopraknya bisa ditinggal pembeli bila telat sampai di pangkalan tempatnya biasa berjualan.

"Terima kasih, Mas." Sopan si pedagang ketoprak selagi meninggalkan si lelaki yang redup binar sepasang matanya. 

Setelah disalip gerobak ketoprak, lelaki itu melanjutkan langkah dengan sekali mendongak karena merasa diperhatikan oleh gedung-gedung pencakar langit dengan kilauan lampu yang lebih terang ketimbang lampu-lampu redup gang yang membantunya berjalan menyusuri gang.

Sekeluarnya dari gang, dia hendak masuk ke dalam satu rumah berpagar setinggi dua meter. Kesan tertutup jelas tampak dari rumah itu. Karena di perkotaan, sikap bodo amat, takpeduli dengan tetangga dan lingkungan sekitar merupakan hal lumrah. Dia mendekati pintu pagar selebar daun pintu, menggeser batang besi keluar dari pengaitnya lalu menarik daun pintu pagar menggunakan pegangan pintu.

Dia menutup pintu pagar seperti semula lalu masuk dan membuka pintu beranda, masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah dan meletakkan sekotak di atas karpet yang mengalasi lantai. 

Sudah ada beberapa orang yang duduk-duduk di atas karpet berwarna hijau di ruang tengah itu. Dia ikut duduk bersama mereka.

Tak lama kemudian, seorang berambut keriting, panjangnya setengkuk, bertubuh kurus jangkung, tersenyum dan menepuk bahunya sekeluarnya dari dalam salah satu kamar.

"Wahahaha, Doni sudah pulang, mantap!" 

"Ya, Mas Kriwul," timpal Doni selagi Kriwul membungkuk lalu mengangkat kotak yang barusan diletakkan Doni dan membawanya ke dalam kamar.

Takada basa-basi antara Doni dan beberapa orang yang sama duduk di lantai beralaskan karpet hijau itu. Mereka mengambil oksigen sebanyak paru-parunya bisa untuk mengusir lelah setelah berkeliling maupun berjaga seharian suntuk.

Sementara itu, Kriwul masuk ke dalam kamar dan menutup daun pintu rapat-rapat. Dia meletakkan kotak yang dibawa Doni di atas meja, dekat dengan seorang berkepala botak yang sedang duduk di kursi. Kamar itu lumayan lapang. Satu meja dan satu kursi berikut satu white board dengan alas tikar yang melapisi lantai kamar yang berbentuk persegi panjang ada di dalam kamar itu. 

"Si Doni." Tangan Kriwul menepuk-nepuk kotak itu.

"Iya," jawab si Botak. "Kau urus." 

"Acang belum juga pulang, Bang."

"Biar saja. Kalau tidak pulang-pulang, linglung dia, dianggap orang hilang ingatan." sahut si Botak sembari mengikik aneh keluar dari tenggorokan berjakun menonjol miliknya.

Begitu selesai memberikan kajian agama selepas magrib di Masjid Al-Hijrah, Pak Dipon menyengaja duduk-duduk di beranda masjid. Pak Wadi dan Abah Kadi menemani Pak Dipon di beranda selain beberapa orang lainnya berkelompok-kelompok juga duduk-duduk sambil mengobrol ringan. 

Suara HP di saku Pak Dipon berbunyi ketika mereka sedang santai mengobrol. Pak Dipon cepat mengeluarkan HP itu dari saku dan menekan tombol hijau.

"Halo, assalamualaikum." Pak Dipon memulai obrolan. Sebentar dia menyimak lawan bicaranya sementara Pak Wadi dan Abah Kadi turut memperhatikan. "Oya. Ya sudah kalau sudah sampai di sana, Imah. Pak Larma ada?" Pak Dipon bertanya lalu menyimak. "O, masih di langgar. Ya sudah, baik-baik kamu di sana, Imah." Telinga Pak Dipon kembali mendengarkan lawan bicaranya di telepon. "Waalaikumsalam." 

"Wah, dikasih HP, ya, Pak. Hebat, hebat." Pak Wadi berkata, "Teknologi, gurami, listrik, pesat sekali perkembangannya."

Lihat selengkapnya