Blurb
Sabrina tidak pernah membayangkan hidupnya akan berhenti di lorong rumah sakit. Di usia ketika orang-orang sibuk mengejar mimpi, ia justru belajar menghafal jadwal cuci darah, obat-obatan, tekanan darah, dan cara menahan tangis di depan ibunya yang divonis gagal ginjal.
Ketika saudara-saudaranya melanjutkan hidup masing-masing, Sabrina memilih tinggal—menjadi tangan yang menggandeng, pundak yang menopang, dan alasan ibunya bertahan hidup.
Namun menjadi kuat terlalu lama diam-diam melelahkan. Di tengah keletihan yang nyaris menenggelamkannya, hadir seseorang yang perlahan mengingatkan Sabrina bahwa hidupnya belum selesai. Bahwa ia juga berhak dicintai.
Tetapi bagaimana jika kebahagiaan mengharuskannya pergi?
Sebab bagi ibunya, Sabrina adalah sekoci terakhir—satu-satunya tempat pulang ketika tubuh tak lagi mampu melawan. Dan bagi Sabrina, meninggalkan berarti belajar hidup dengan rasa bersalah seumur hidup.
Ketika cinta datang membawa kemungkinan baru, Sabrina dihadapkan pada pertanyaan yang tak pernah diajarkan siapa pun:
Apakah memilih diri sendiri selalu berarti menjadi anak yang buruk?