Ketika bibir sang dokter terbuka, sebuah pernyataan meluncur bak badai senyap yang meruntuhkan seluruh langit harapan mereka.
"Untuk diagnosa sementara, kami menduga Ibu Ruswina mengalami gagal ginjal kronis," ujar dokter, nadanya datar namun menghantam ulu hati bagai godam yang tak bermata.
Kalimat itu merayap di udara bagai racun yang dingin. Dokter menjelaskan, diabetes yang selama ini bersarang di tubuh Ibu—yang mereka kira telah jinak setelah berbulan-bulan tanpa keluhan—rupanya adalah musuh dalam selimut. Penyakit gula itu layaknya rayap yang bekerja dalam sunyi, menggerogoti organ-organ vital Ibu tanpa suara, hingga kini kedua ginjalnya menyerah, tak lagi mampu menopang racun-racun kehidupan.
“Besok pagi, dokter spesialis penyakit dalam akan menjelaskan lebih lanjut mengenai penyakit ibu, juga terkait prosedur pengobatan lanjutannya.” Dokter bertampang putih dengan gaya rambut klimis berusaha menata kalimatnya dengan hati-hati.
“Setelah ini, ibu akan di rawat inap dan untuk prosedur lainnya akan dilakukan oleh perawat kami.”
Setelah mendengar penjelasan singkat dokter, Bang Deri terpaku, matanya menatap kosong ke arah dinding putih. Baginya yang baru pertama kali menghadapi kerapuhan Ibu di rumah sakit, vonis ini adalah sebuah pukulan telak yang membuat seluruh sendi tubuhnya mati rasa. Di sudut lain, Indira terisak pelan, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya yang gemetar, mencoba meredam jerit histeris agar tidak pecah di sepertiga malam yang lengang.
Di atas ranjang pesakitan, di balik sekat kain yang tipis, Ibu masih terbaring dalam kepasrahan yang sunyi. Selang oksigen masih setia mendesis, mengalirkan napas buatan ke dalam dada yang kian merapuh, mengiringi tubuh sepuh yang kini harus bersiap mengarungi takdir baru yang jauh lebih terjal dan menyakitkan.
“Untuk pemindahan ke ruangan VIP sesuai pesanan keluarga, akan menunggu waktu 30 menit lagi, kami harap untuk menunggu sebentar ya Bapak, Ibu.” Jelas Perawat bertubuh gempal dengan ramah. Andira dan Indira mengangguk kompak sembari melempar senyum tanggung, sementara Bang Deri dan Almira sudah hanyut dengan pikiran masing-masing.
~
Ruang VIP terasa dingin pagi sekali, Bukan karena pendingin udara yang bekerja tanpa belas kasih, tetapi juga karena kalimat-kalimat yang sebentar lagi akan mengubah hidup mereka selamanya. kata-kata dokter terasa seperti lempengan es yang dijatuhkan ke atas dada keempat bersaudara itu
Dokter Sepsialis Penyakit Dalam berbadan sedikit berisi, kulit sawo matang dengan kacamata bulat berdiri di hadapan mereka dekat ranjang Ibu, dengan wajah hati-hati—wajah seseorang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar buruk, tetapi tak pernah benar-benar terbiasa melakukannya. Di kanannya, seorang dokter muda sembari membawa catatan, sementara di sebelah kirinya, seorang perawat senior ikut menunggu kalimat pertama yang keluar dari Dokter Spesialis.
“Ginjal ibu sudah tidak bekerja sebagaimana mestinya,” ujar dokter pelan, membuka hasil laboratorium yang disodorkan dokter muda disampingnya. “Kadar kreatinin di tubuh ibu Ruswina sangat tinggi.”
Andira menatap lembaran hasil pemeriksaan itu tanpa benar-benar mengerti angka-angka yang berjajar seperti bahasa asing. Dokter melanjutkan dengan suara tenang.
“Normalnya, ginjal bertugas membuang racun dan cairan berlebih dari tubuh lewat urine. Tapi pada kondisi ibu, ginjal sudah kesulitan melakukan itu.”
Dokter berhenti sebentar, memberi ruang bagi kalimat itu untuk mendarat. “Makanya tubuh ibu bengkak, sesak napas, cepat lelah. Itu semua karena racunnya sudah menumpuk di tubuh.”
“Jadi… sakit gula ibu kambuh lagi, Dok?” tanya Bang Deri hati-hati.
Dokter menggeleng pelan. “Ini lebih dari itu. Kemungkinan besar ibu mengalami gagal ginjal, biasanya memang punya hubungan dengan riwayat diabetes yang lama.”
Andira merasa seperti ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dadanya. Gagal ginjal. Dua kata itu terdengar terlalu besar. Terlalu jauh, seolah hanya milik orang lain, bukan ibu mereka. Bukan perempuan yang beberapa minggu lalu masih berjalan-jalan di Bukittinggi, tertawa kecil di depan Jam Gadang.
“Kalau diobati biasa bisa sembuh, Dok?” suara Indira nyaris seperti bisikan.
Dokter menarik napas pendek. “Karena racunnya sudah tinggi, akan sulit bagi tubuh ibu pulih secara normal. Buang air kecil juga kemungkinan tidak berjalan normal lagi.”
Ruangan mendadak terasa sempit. Andira bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Kalau racunnya enggak dikeluarkan,” lanjut dokter, “akan berbahaya. Bisa menyerang organ lain.”
Lalu kalimat itu datang. Kalimat yang terdengar begitu asing. “Kami menyarankan ibu segera menjalani prosedur cuci darah.” Ucap Dokter.
Untuk beberapa detik, suasana berubah hening. Begitu hening sampai suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Cuci darah. dua kata itu mendarat asing dan jahanam di telinga Andira dan saudara-saudaranya. Kata itu terdengar seperti sebuah maklumat yang mengikat raga Ibu seumur hidup pada mesin.
Andira menoleh pada Bang Deri. Ia justru menoleh ke Indira. Tak ada yang benar-benar mengerti. Istilah itu terasa jauh, seperti penyakit yang hanya muncul di televisi atau cerita orang lain. Bukan bagian dari hidup mereka.
“Cuci darah itu… gimana, Dok?” suara Almira akhirnya ikut bersuara.
“Dilakukan dua kali seminggu. Darah ibu akan dibersihkan menggunakan mesin karena ginjal sudah tidak mampu bekerja maksimal.”
“Seumur hidup?” tanya Almira lagi, kali ini lebih pelan.
Dokter mengangguk tipis. “Kalau fungsi ginjal tidak kembali, iya.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dasar dada Andira.