Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #1

BAB 1 — Sukacita Semu

Lebaran kali ini terasa begitu megah dalam ingatan Andira, seperti jeda yang lama dinanti. Setelah hari-hari yang biasa dipenuhi kesibukan rumah dan rutinitas yang tak pernah benar-benar selesai. Atas titah Bang Deri, rombongan besar mereka. Bang Deri mengajak seluruh keluarga berlibur ke Padang. Mamak ikut. Istri dan anak-anak Bang Deri ikut. Mertuanya, Andira, Indira, Almira, bahkan delapan pegawai kantor pun turut serta berangkat menuju ranah Minang. Sebuah rombongan besar yang membawa tawa dan koper penuh harapan kecil.

Bagi Andira, ini adalah bentangan jarak terjauh yang pernah diarunginya. Biasanya, tamasya mereka hanyalah sekadar jeda singkat yang mentok di dinginnya Berastagi atau rimbunnya Sibolangit. Namun kali ini, Bukit tinggi menyambut mereka dengan udara yang lebih ramah dari ingatan mana pun. Matanya dimanjakan oleh kemegahan Jam Gadang yang berdiri kokoh menantang waktu, Andira berdiri lebih lama dari yang lain, mendongak ke arah menara tua yang menjulang seperti saksi waktu. Jarumnya bergerak tenang, seolah tahu bahwa manusia datang dan pergi membawa cerita masing-masing.

Mereka mengunjungi rumah peninggalan Bung Hatta saat muda, berjalan pelan menyusuri ruang-ruang yang dipenuhi sejarah. Malamnya mereka menginap di vila, bercengkerama sampai larut, tertawa tanpa beban seperti keluarga-keluarga utuh dalam cerita yang sering terlihat terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Mereka tak lupa pergi ke Payakumbuh, menikmati jalan panjang yang dikelilingi perbukitan hijau, makan bersama, berfoto bersama, dan membiarkan kebahagiaan singgah tanpa banyak tanya.

Tiga hari itu, bahagia seolah-olah mengkristal di setiap dada. Tawa membubung tinggi, menorehkan kenangan manis yang mereka kira akan abadi. Namun, dunia adalah panggung bagi ketidakpastian; kebahagiaan hanyalah sepotong senja yang lekas digulung malam.

Sepanjang jalan tol kembali menuju Riau, tubuh Ibu mulai mengirimkan sinyal-sinyal keprihatinan yang sunyi. Perlahan namun pasti, tubuh sepuh itu membengkak, dengan kaki sebagai bagian yang paling kentara menyimpan timbunan cairan misterius. Mula-mula hanya tampak samar, lalu perlahan semakin jelas seperti air yang diam-diam memenuhi tepian. Betis ibu membesar, kulitnya tampak tegang. Tidak hanya kaki, hampir seluruh tubuhnya terlihat membengkak. Wajahnya pun mulai tampak lebih sembap dari biasanya.

“Mungkin hanya penat karena terlalu lama melipat kaki di mobil,” bisik ego mereka masing-masing, sebuah pemahaman dangkal untuk segera mencurigai sesuatu yang lebih besar.

Mungkin hanya masuk angin atau kecapekan. Mungkin tubuh ibu hanya perlu istirahat. Terutama Bang Deri, yang menganggap semua itu sekadar efek perjalanan panjang. Lagi pula ibu sendiri berkali-kali berkata ia baik-baik saja. Selalu begitu. Ibu punya kebiasaan menyimpan sakitnya sendiri, seperti seseorang yang terlalu takut menjadi beban bagi orang lain. Selebihnya, Ibu kembali menjelma menjadi samudera yang tenang: meredam gejolak, mengunci keluhan, dan selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Ibu adalah seorang pengarsip rasa sakit yang paling ulung; Seolah tubuhnya adalah rahasia yang harus ia tanggung sendiri.

Pasca-kepulangan, badai yang sesungguhnya datang merubuhkan benteng pertahanan Ibu. Demam tinggi membakar tubuhnya, menyisakan raga yang lemas dan sekaku kayu jatih. Tubuhnya lemas, kaku, seperti kehilangan tenaga untuk sekadar berpindah posisi. Secara bergantian, jemari Andira dan Indira menari di atas kaki Ibu, memijat dan mengurai linu.

“Pijit kaki Mamak bentar…” katanya lirih.

Memijat kaki ibu memang sudah menjadi kebiasaan lama—ritual kecil yang tumbuh tanpa pernah disadari. Saat ibu kelelahan, Andira dan Indira akan duduk di lantai, memijat kaki yang telah terlalu lama menopang kehidupan keluarga.

Keluhan ibu tidak reda, datang seperti hujan yang tak selesai-selesai. Ia mulai sulit tidur. Pandangan matanya kabur bak ditutupi kabut pagi. Pinggangnya terasa sakit, seperti hendak patah, katanya. Di tengah malam, ibu sering terbangun karena sesak napas. Tarikan udaranya terdengar berat, seperti seseorang yang sedang berenang terlalu jauh dari tepian. Bahkan air kencing ibu berubah, mengeluarkan bau menyengat membawa aroma kepunahan fungsi tubuh yang kian nyata.

Andira dan Indira diam-diam mulai dicekam rasa takut. Ketakutan lama yang sempat tertidur kini bangkit kembali: diabetes Ibu. Tetapi ketakutan sering kali kalah oleh harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kita ke rumah sakit ya, Mak?” bujuk Andira, suaranya bergetar menahan tangis.

Lihat selengkapnya