Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #3

BAB 3 — Membasuh luka di langit biru


Satu bulan telah berlalu, sejak takdir mematahkan poros dunianya. Andira mulai menyadari dan terbiasa bahwa hidupnya tidak lagi berjalan di jalur yang pernah ia rencanakan. Dulu, ketika memutuskan ikut ibu pindah ke Riau, ia datang membawa harapan yang sederhana. Ia membayangkan dirinya bekerja di kantor Bang Deri seperti Indira dan Almira. Mengenakan pakaian kerja setiap pagi, berangkat ke kantor, menerima gaji di akhir bulan, lalu perlahan membangun masa depannya sendiri.

Namun hidup rupanya lebih pandai menyusun rencana daripada manusia. Kini harapan itu menguap bagai kabut pagi yang dihalau matahari. Alih-alih duduk di meja kantor, Andira justru lebih sering duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit. Dan setiap Senin serta Kamis, kenyataan itu selalu terasa lebih nyata. Sebab, inilah hari-hari pelaksanaan prosedur hemodialisis tiba, jam dinding di kamar Andira seolah berputar lebih lelah. Ia harus mencuri waktu dari sunyi, bangun jauh sebelum fajar menyapa.

Setelah mengambil wudu dan menunaikan salat Subuh, ia duduk sebentar di atas sajadah. Doanya tidak pernah berubah. Tentang kesehatan ibu, meminta kepada-Nya kekuatan untuk menjalani hari, serta kemudahan yang diharapkan dapat menemani setiap langkahnya, tentang dirinya sendiri dan mimpi-mimpi yang belum sempat hidup tetapi sudah lebih dulu dikuburkan.

Rutinitas itu menyambutnya kembali dengan setia. Di luar jendela, langit masih gelap. Rumah juga masih tenggelam dalam sunyi. Tak terdengar suara apa pun selain dengungan kipas angin dan napas pelan orang-orang yang masih tertidur. Dapur yang masih diselimuti remang, Andira mulai merajut kasih lewat wajan. Suasana rumah masih sepi senyap; Indira, Almira, dan ibu masih terlelap dalam buaian mimpi masing-masing. Andira mengiris bawang merah, menumisnya tanpa bumbu muluk-muluk, hanya sejumput garam perasa. Nasi goreng itu adalah menu kesukaan ibunya.

Aroma bawang yang ditumis perlahan memenuhi dapur. Andira mengaduk nasi dengan gerakan otomatis, gerakan yang kini begitu akrab bagi tangannya. Sementara nasi goreng untuk ibu hampir selesai, ia merebus air untuk membuat teh.

Tangan Andira bergerak dengan ketelitian seorang apoteker saat menyeduh teh manis panas di cangkir kecil. Sejak vonis itu jatuh, ia terpaksa belajar menakar cairan yang masuk ke tubuh sang ibu. Setitik air adalah musuh tersembunyi yang siap menggenang di paru-paru ibunya jika ia lengah. Maka, cangkir kecil itu adalah batas aman yang bisa ia berikan. Sementara untuk dirinya sendiri, Cukuplah sebungkus mie instan pedas yang dimasak tergesa—sensasi membakar di lidah yang kerap kali menyamarkan rasa getir di hatinya.

Lima belas menit berlalu. Andira mendekati ranjang ibunya, berbisik lirih membangunkan wanita yang melahirkannya itu.

"Mak, bangun dulu. Sarapan." Suaranya selembut embun. Ibu membuka mata perlahan. Wajahnya tampak lelah. Ada kantung gelap di bawah mata yang tidak pernah ada sebelumnya.

"Udah pagi?"

“Iya. Hari ini HD."

Proses membangunkan ibu adalah tarian di atas pecahan kaca. Dengan kateter Double Lumen (CDL) yang tertanam di dada kanan ibu, ruang gerak wanita tua itu terkunci. Andira harus menyangga tubuh ibu dengan kehati-hatian yang penuh. Jangankan bergerak bebas, menoleh ke arah kanan pun menjadi kemewahan yang mustahil karena rasa nyeri yang siap menikam. Tidur ibu pun kini hanya bisa terlentang kaku, tanpa bisa miring ke kiri ataupun ke kanan.

"Aduh, Dir... sakit," rintih ibu saat Andira tak sengaja menyenggol sedikit area dadanya.

"Maaf, Mak. Maaf... Andira pelan-pelan," bisik Andira, hatinya ikut berdenyut perih.

Dengan sisa tenaga, Andira memindahkan ibu ke kursi roda, lalu mendorongnya menuju ruang tengah, tempat sebuah ranjang kecil yang menjadi saksi bisu hari-hari sepi ibu. Di sana, ibu mulai menyuap nasi gorengnya. Lambat sekali. Seolah mengunyah adalah pekerjaan yang menghabiskan seluruh energi yang tersisa.

Melihat ibu mulai makan, Andira bergegas ke kamar mandi. Ia mandi secepat kilat—tak sampai lima menit—sebab ia tahu, ia tidak boleh meninggalkan ibunya terlalu lama. Ketika ia kembali untuk makan bersama, nasi di piring ibu baru berkurang seperempatnya.

"Susah kali habisinnya ya, Mak?"

"Mulut ibu pahit."

Andira hanya tersenyum kecil. Ia mulai menyantap mie instannya sambil membuka kotak make up. Tangannya bergerak cepat, memakai pelembap, bedak, pensil alis, sedikit lip tint. Semuanya dilakukan sambil makan untuk menghemat waktu. Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

"Dir, Bang Deri yang antar kita hari ini?" tanya ibu dengan suara parau.

Andira tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan nada kecewa. "Enggak, Mak. Bang Deri lagi ke Jakarta, ada urusan sama klien."

"Oh..." Muka ibu berubah kecewa.

Lihat selengkapnya