Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #4

BAB 4 — Orang Bertahan di Ruang Putih


Ruangan Hemodialisa (HD) didominasi warna putih yang dingin, namun atmosfer di dalamnya justru sehangat pasar tumpah di hari Senin. Di ruangan ini, detak jantung tidak lagi dihitung oleh denyut nadi, melainkan oleh ritme monoton mesin-mesin jangkung yang mengalirkan darah merah pekat melalui selang-selang transparan—sebuah prosesi sakral bernama dialisis.

Bagi Andira, Ruangan hemodialisa seperti dimensi lain yang terpisah dari kehidupan luar—dindingnya putih pucat, lampunya terang tanpa kehangatan, dan udara dinginnya merayap pelan hingga ke tulang. Namun, di balik dinginnya ruang itu, ada sesuatu yang hidup. Suara riuh rendah percakapan yang tak pernah benar-benar mati dari pasien dan keluarga pasien yang mengisi langit-langit Ruangan.

Setiap kali Sabrina mendorong kursi roda ibunya memasuki ruangan itu, ia tahu—ia tidak benar-benar datang ke tempat asing. Wajah-wajah yang sama menyambut, suara-suara yang sama memanggil, seolah mereka semua adalah bagian dari satu keluarga besar yang tidak pernah direncanakan.

"Pagi, Andira! Pre-HD hari ini berat badannya naik berapa?" sesosok pria tua menyapa dengan suara menggelegar.

Itu Opung. Tubuh rentanya selalu datang sendiri, Tak pernah ada anak atau cucu yang mengantar. Namun wajahnya selalu penuh senyum.

 jemarinya yang keriput menjinjing tas kain merah berisi bekal. Di lengan kirinya, tampak benjolan-benjolan besar menyerupai urat yang bergelung—sebuah Cimino yang telah bertahun-tahun menjadi jalan pintas bagi jarum-jarum raksasa nomor 16 untuk menusuk tubuhnya.

"Bah, rame kali udah ya!" serunya begitu memasuki ruangan. Beberapa pasien langsung tertawa.

"Opung, belum juga dipasang AV shunt udah ribut duluan." Sus Ika biasa dipanggil Kak Ika menyahut nyaring.

"Kalau aku diam, nanti kalian tidur semua."

"Tidur lebih baik daripada dengar cerita Opung yang itu-itu aja." Pasien lain ikut nimbrung.

"Tapi tetap kalian dengar, kan?"

Gelak tawa memenuhi ruangan. Opung tertawa paling keras. Keriput di wajahnya seperti lipatan-lipatan cerita yang sudah terlalu lama disimpan sendirian.

“Happy kali nampaknya pung,” Ujar Bang Karim—suster laki-laki yang paling rama.

“Harus dong Happy, tiap hari harus dimulai dengan kebahagiaan.”

 

“Cair duit dari anak di kota Pung?” pasien lain yang berada diseberang ranjang Opung berseru.

“Apa yang cair, air es iya cair.” Celetuk Opung mengundang tawa.

Celoteh riang itu terus membumbung ke langit-langit ruang HD. Entah ada yang membicarakan soal jadwal kontrol, masalah keluhan yang dirasakan, atau mengatur janji akhir pekan. Sebab sesama pasien sering melakukan janji temu untuk sekedar melepas penat dan hiburan.

Di sudut lain, kontras yang getir menampar kornea mata Andira. Seorang wanita berusia empat puluhan tampak didorong di atas kursi roda. Di belakangnya, sepasang malaikat kecil—anaknya yang masih berseragam SD dan SMP—berbagi tugas dengan kompak. Si kakak memeluk ransel hitam besar berisi bantal kesayangan ibunya, sementara si adik, dengan peluh yang membasahi dahi kecilnya, mendorong kursi roda dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.

Tak ada keluhan. Tak ada wajah kesal. Mereka melakukan semuanya dengan cekatan. Andira menatap mereka cukup lama. Di usia ketika anak-anak lain mungkin masih sibuk bermain atau mengeluh soal tugas sekolah, kedua anak itu sudah hafal jadwal HD, berat badan kering, batas minum, hingga nama obat-obatan ibunya. Mereka bahkan lebih dewasa dibandingkan sebagian orang dewasa yang pernah Andira kenal.

Mata Andira kemudian terpaku pada seorang remaja berseragam SMA di ranjang seberang dekat jendela, seorang remaja laki-laki sedang bermain gim di ponselnya. Usianya mungkin baru tujuh belas tahun . Wajahnya pucat, senyumnya tipis. Sejak kecil, saat anak-anak lain berteman dengan layang-layang, ia sudah berteman dengan jarum fistula. Ginjalnya lumpuh sejak dini, memaksanya menua lebih cepat di dalam ruangan ber-AC ini. Sebagian masa remajanya habis di rumah sakit. Sebagian mimpinya tumbuh bersama suara mesin HD. Namun wajahnya tetap cerah.

"Bang, kalah lagi?" goda seorang perawat.

Remaja itu mendengus. "Ini bukan kalah. Ini strategi."

"Strategi apanya? Dari tadi mati terus."

"Namanya juga belajar."

"Belajar tuh dari kekalahan bukan Belajar untuk kalah terus?"

“Apaan sih Bang Ridwan, ga nyambung,” ejek remaja itu, keduanya tersenyum cerah.

Yang paling membuat hati Andira sesak adalah perempuan kurus berusia tiga puluhan di ujung ruangan. Tubuhnya tinggal kulit membungkus tulang, terbaring pasrah, menatap layar ponsel sepanjang hari menunggu sore hari saat suaminya datang menjemput. Ia begitu ringkih hingga selimut tampak lebih besar daripada dirinya. Ia sudah tidak mampu berjalan. Dan paling memprihatinkan, ia datang dan dijemput dengan becak motor suaminya yang disampingnya diberi kasur kecil tempat istrinya berbaring. Terkadang muncul rasa syukur dalam diri Andira, kalau dia masih diberi kemudahan untuk datang ke rumah sakit dengan mobil, tidak perlu risau perihal terik matahari yang menyengat atau hujan yang menerjang.

Setelah dipasang jarum fistula dan mesin mulai bekerja, ia hanya berbaring. makan, minum sedikit, menonton video dari ponsel, lalu tidur. Sampai menunggu sore tiba, hingga suaminya selesai bekerja. Dan itu terjadi. Hari demi hari. Minggu berganti minggu. Bulan mengulang bulan.

Andira sering melihat perempuan itu menatap langit-langit cukup lama. Seolah sedang menghitung berapa banyak kesabaran yang masih tersisa dalam dirinya.

Namun, dii tempat yang dipenuhi penyakit kronis ini, masih terselip kegembiraan yang justru datang dan coba diciptakan oleh seorang pasien HD. Sebut saja dia Pak Budiman, ia gemar sekali menyanyi, saking cintanya ia pada tarik suara, ia membawa alat karaoke mini wireless.

Suatu siang ketika suasana sedang muram karena beberapa pasien mengeluhkan hipotensi saat ultrafiltrasi berlangsung, tiba-tiba suara nyanyiannya terdengar.

"♪ Hati yang gembira adalah obat..."

"Pak, fals!" seru seorang perawat.

"Yang penting semangat."

"Kalau begini pasien lain malah minta tambah dosis paracetamol."

Tawa kembali pecah. Bahkan beberapa pasien malah ikut bernyanyi bersama.

Mereka yang berada di ruangan ini telah melampaui batas hubungan darah. Mereka bertukar cerita, keluhan, dan tawa lebih sering daripada dengan keluarga kandung mereka sendiri. Kamar putih ini adalah rumah kedua yang menyatukan nasib-nasib yang terbuang dari kehidupan normal.

"Siska! Ini mesin saya kok alarm-nya bunyi terus dari tadi? Venous pressure-nya tinggi ya?" teriak seorang pasien paruh baya yang terkenal suka komplain.

Sus Siska, perawat senior dengan lingkaran hitam di bawah matanya akibat jam kerja yang tak kenal ampun, datang menghampiri sambil berkacak pinggang pura-pura galak.

"Yee, Pak Joko! Itu selangnya ketekuk pantat bapak, makanya mesinnya protes! Lagian Bapak engga bisa diem, daritadi duduk-tidur mulu, selangnya jadi geser kan!" seloroh Sus Siska, disambut tawa renyah dari pasien di lajur kiri dan kanan.

"Ah, Sus Siska bisa aja. Saya ngetes kesetiaan Neng Siska, mumpung Dokter Visite-nya belum datang," balas Pak Joko terkekeh.

Di ruangan ini, batas antara pasien dan perawat terasa tipis. Mereka saling menguatkan dengan cara yang sederhana—candaan, perhatian kecil, dan kesediaan untuk mendengar. Karena, seringkali, perawatlah yang lebih banyak mendengar keluhan dibanding dokter. Dokter HD datang hanya beberapa kali dalam seminggu. Ketika ia datang, suasana sedikit berubah. Lebih tenang dan serius. Dokter itu berjalan cepat, memeriksa satu per satu pasien dengan teliti.

“Bagaimana, Bu Ruswina? Masih sesak?” tanyanya pada ibu Sabrina.

“Kadang… kalau malam,” jawabnya lirih.

Dokter mengangguk, mencatat sesuatu. “Kita tambah sedikit dosisnya ya. Nanti dibantu perawat.”

Tak banyak bicara. Tepat, cepat, lalu berpindah ke pasien berikutnya.Berbeda dengan perawat yang menetap, menemani dari awal hingga akhir. Dokter spesialis konsultan ginjal hipertensi (KGH) memang seperti angin puyuh di ruangan ini. Kehadirannya yang hanya dua atau tiga kali seminggu selalu dinanti namun berlangsung cepat. Begitu datang, dokter akan memeriksa lembar status, mengecek apakah ada tanda-tanda Uremia (keracunan zat sisa) pada pasien, menginstruksikan penyesuaian dosis pengencer darah (Heparin), lalu bergegas pergi lagi demi jadwal operasi atau visite di ruang intensif. Perawatlah yang menjadi telinga sejati bagi segala keluh kesah mereka.

Hari-hari di ruang HD punya ritmenya sendiri. Hari Senin selalu ramai. Suara bercampur seperti pasar kecil—penuh cerita, tawa, dan keluhan yang saling bersahutan. Itu justru menjadi hiburan. Namun, di akhir pekan, ruangan bisa terasa lengang. Banyak pasien yang tidak datang—ada yang opname, ada yang mengganti jadwal, ada juga yang… tidak kembali lagi. Dan tidak ada yang benar-benar membicarakan itu dengan lantang.

Lihat selengkapnya