Sebagai saudara kembar, Andira dan Indira tumbuh dengan ikatan yang tak pernah benar-benar mampu dijelaskan oleh siapa pun. Mereka tidak selalu sepakat, tidak selalu berada di sisi yang sama dalam setiap perdebatan, tetapi ada satu hal yang tak pernah berubah sejak kecil: mereka selalu menjadi tempat pulang bagi pikiran satu sama lain.
Malam itu, benak Andira masih tertinggal pada untaian kalimat pilu yang dibisikkan Ibu semalam. Saat cerita itu berpindah ke telinga Indira, adiknya itu pun terenyak. Mereka tidak pernah menduga bahwa palung hati Ibu telah digerogoti oleh rasa sesal yang begitu menghunjam.
Setelah ibu kembali tertidur akibat kelelahan, Andira duduk di teras rumah bersama Indira yang baru selesai menyeduh teh hangat.
Andira memutar gelas di tangannya pelan sebelum akhirnya membuka suara. “In, kau tahu apa yang Mamak bilang siang tadi sama aku?”
“Bilang apa?” Tanya Indira sembari meneguk teh ditangannya.
“Mamak nyesal cuci darah katanya.”
“Kenapa kok tiba-tiba mamak ngomong gitu samamu?”
Andira mengangkat bahunya, “Entahlah, mungkin karena dia merasa harus cuci darah, belum ngerasain sakit pas ditusuk jarum. Harus bangun pagi-pagi untuk cuci darah, apalagi CDL yang di leher mamak yang bikin mamak sudah untuk bergerak.”
Napas berat terhela, Indira meletakkan cangkir di meja di depannya. Semakin Andira bercerita, semakin pudar warna wajah Indira. "Aku enggak nyangka ibu mikir sejauh itu."
Andira mengangguk pelan. “Aku juga."
“Kukira, Mamak baik-baik saja dengan keputusan cuci darah, ternyata sedalam perasaan Mamak selama ini?”
“Aku pernah dengar dari pasien HD juga, sebagian dari keluarga pasien bilang, kalau wajar pasien cuci darah itu ngerasa down di awal cuci darah, tapi kalau makin lama dinikmati saja, sudah terbiasa pasti tidak merasakan perasaan putus asa lagi.”
“Nah itulah, mungkin karena ini baru bagi Mamak, lagipula siapapun engga akan siap jika harus berdiam sambil tangannya ditusuk jarum terus darahnya dicuci begitu.” Indira menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, sembari menatap nanar lurus ke depan.
Mereka mengira ibu telah menerima semuanya dengan lapang dada. Mereka mengira ibu hanya perlu beradaptasi dengan jadwal cuci darah, dengan obat-obatan, dengan makanan yang mulai dibatasi. Mereka salah.
Jauh lebih sulit, ternyata bukan menusukkan jarum berukuran besar ke lengan ibu dua kali setiap minggu. Lebih sulit menerima kenyataan bahwa tubuh sendiri perlahan berhenti bekerja sebagaimana mestinya. Dan yang paling sulit adalah menerima bahwa hidup tak lagi sepenuhnya berada dalam genggaman sendiri. Diam-diam ibu sedang memikul ketakutan yang tak pernah sempat ia ceritakan kepada siapa pun. Sendirian.
"Apa kita ajak ibu jalan-jalan ya?" usul Indira tiba-tiba.
Andira mengangkat kepala. "Jalan-jalan?"
"Iya. Cari suasana baru. Biar ibu enggak terus-terusan mikirin rumah sakit."
Andira terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Ya udah, Bilang aja sama Bang Deri, pasti dia mau tuh.”
“Besok kubilang di kantor.”
Mungkin benar. Kadang yang dibutuhkan seseorang bukanlah nasihat. Melainkan jeda. Sedikit ruang untuk bernapas sebelum kembali melanjutkan perjuangan.
Ide itu disampaikan kepada Bang Deri pada malam harinya. Di luar dugaan, abang mereka langsung menyetujuinya.
"Bagus itu. Kita bawa mamak cari angin."
Akhirnya mereka memilih sebuah vila kecil di pinggiran Pekanbaru yang memiliki pemandangan danau kecil dan pantai buatan sederhana. Almira diperintah untuk memesan villa kecil untuk dua hari satu malam saja. Tidak jauh dari rumah. Tidak perlu perjalanan panjang. Sebab jadwal cuci darah tetap menunggu seperti ombak yang selalu tahu kapan harus kembali ke pantai.
Hari pertama di vila itu terasa seperti kehidupan yang pernah mereka miliki sebelum semua ini terjadi. Ibu duduk di beranda sambil menikmati teh hangat. Bang Deri sibuk memanggang jagung. Indira dan Almira saling berdebat soal lagu yang akan diputar. Sementara Andira hanya duduk memperhatikan semuanya.
Menjelang sore, Bang Deri mengajak ibu berjalan menuju tepi pantai. Langit sedang murah hati hari ini. Semburat jingga memenuhi cakrawala, sementara laut memantulkan warna emas yang berkilauan seperti serpihan kaca. Di tempat pelarian sejenak itu, desau angin berbisik lembut. Bang Deri duduk berdua bersama Ibu di tepian air yang tenang, menatap hamparan air yang berkilau bak cermin raksasa di hadapan mereka. Dengan nada suara yang diatur selembut mungkin, Bang Deri memecah keheningan.
“Ada yang lagi Mamak pikirkan belakangan ini?”
Ibu bergeming. Beliau hanya menoleh sekilas, lalu kembali melempar pandangannya lurus ke depan. Seolah-olah, menatap wajah putra tunggalnya terlalu lama akan meruntuhkan seluruh pertahanan yang telah ia bangun.
“Capek ya, Mak, harus cuci darah terus?” tanya Bang Deri lagi, suaranya sarat akan kegetiran.
“Enggak,” jawab Ibu, datar dan singkat. Angin menerbangkan bagian belakang kerudungnya.
Namun, naluri seorang anak tidak bisa dikelabui. Bang Deri tahu ada rahasia yang sedang dikubur rapat-rapat di balik riak wajah itu.
"Cuma dengan cuci darah mamak bisa sehat. Bisa makan enak lagi. Bisa jalan-jalan sama kami."
“Iya, mau bagaimana lagi. Memang sudah jalannya harus begini.” Kalimat itu terdengar ringan. Namun, Bang Deri tahu, di dalam hati ibunya terdapat badai yang tidak pernah benar-benar reda.
Sikap Ibu saat ini sungguh paradoks, bertolak belakang dengan keluh kesah yang ia tumpahkan pada Andira kemarin. Ibu selalu menggunakan topeng yang sama di hadapan Bang Deri: berpura-pura baik-baik saja, berlagak tegar seolah sanggup memanggul seluruh beban dunia.
"Kalau capek bilang ya, Mak."
Ibu menggeleng pelan. "Mamak enggak apa-apa."
Bang Deri menatap laut di hadapan mereka. Kadang orang tua memang seperti itu. Sepanjang hidup mereka mengajarkan anak-anaknya untuk bercerita ketika sedih. Namun mereka sendiri memilih memendam semuanya seorang diri.
"Pokoknya mamak harus bahagia."
Ibu mengulas senyum tipis, sebuah lengkungan hambar, lalu mengangguk pelan.
"Kalau mamak senang, kami juga senang."
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara. Hanya suara ombak yang datang dan pergi. Percakapan itu pun menguap begitu saja. Dialog mereka memang tidak pernah bertahan lama, sebab Ibu bukanlah tipikal wanita yang pandai menelanjangi perasaannya lewat kata-kata. Sejak dulu, ia sudah terbiasa memenjarakan emosinya sendiri demi satu alasan yang sakral: ia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi ketenangan anak-anaknya. Terlebih kepada Bang Deri, sang anak lelaki yang kini menjadi nakhoda di kantornya. Ibu tidak ingin menambah kusut isi kepala putranya yang sudah dipenuhi oleh urusan pekerjaan yang melelahkan. Barangkali ada perasaan yang memang terlalu besar untuk diterjemahkan menjadi kata-kata.
Setelah berusaha membalut kegundahan yang diam-diam menggerogoti hati ibu, Andira merasa keputusan membawa ibu menjauh sejenak dari jadwal cuci darah dan dinding-dinding putih rumah sakit adalah pilihan yang tepat. Setidaknya, untuk beberapa waktu, ibu bisa beristirahat dari rutinitas yang selama ini mengurung hari-harinya dalam bunyi mesin dan aroma antiseptik.
Dan benar saja, Andira kembali menemukan sesuatu yang sempat lama hilang dari wajah ibu: senyum itu.
Lihatlah bagaimana sudut bibir ibu terangkat pelan saat menatap cucu bungsunya—anak bontot Bang Deri—yang berlarian ke sana kemari dengan tingkah lucu dan celoteh polos khas anak-anak. Atau ketika Bang Deri mulai mengisahkan kembali masa kecilnya yang penuh kenakalan, tentang hari ketika Bapak pernah menggantungnya di tiang besi sebagai hukuman karena nekat bermain di pinggir rel kereta api. Rel yang bagi anak-anak hanyalah tempat bermain, tetapi bagi orang dewasa adalah garis tipis antara keselamatan dan kehilangan.
Gelak tawa kecil ibu pun pecah ketika Indira mulai membuka lembaran kenangan tentang dirinya dan Andira semasa kecil. Sebagai saudara kembar, mereka nyaris tak pernah kehabisan alasan untuk bertengkar. Andira yang lamban dan tenang selalu menjadi kebalikan dari Indira yang gesit dan serba cepat. Saat Indira telah rapi mengenakan seragam dan siap berangkat sekolah, Andira biasanya masih sibuk memasang sepatu atau mencari pita rambut yang entah terselip di mana. Hal sepele seperti itu saja sudah cukup menjadi pemantik perang kecil di antara mereka.
Jika pertengkaran mulai meninggi, Bapak biasanya akan keluar dengan wajah masam dan melempar benda apa saja yang berada di dekatnya agar keduanya berhenti beradu mulut. Namun lucunya, setelah pertengkaran yang terasa sebesar perang dunia itu, mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk kembali akur, bercanda, dan berbagi makanan seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Kenangan-kenangan lama yang dipungut kembali dari dasar ingatan itu perlahan menjahit senyum di wajah ibu yang sempat tercerai oleh sakit dan kecemasan. Untuk sesaat, penyakit seolah mundur beberapa langkah, memberi ruang bagi tawa untuk kembali pulang ke rumah.
Dua hari setelah menjemput senyum ibu sesaat dari rutinitas rumah sakit. sebelum takdir kembali menyeret mereka ke rumah sakit, Andira dan Ibu benar-benar meneguk habis waktu yang ada. Mereka melupakan sejenak rutinitas monoton dan dinginnya ruang cuci darah. Di bawah langit yang perlahan melukis jingga, mereka bercengkerama tentang hal-hal remeh, sesekali menyelipkan kelakar tentang masa lalu yang mengundang tawa. Hati Andira serasa mengembang penuh melihat senyum Ibu kembali merekah—senyum yang sempat raib ditelan bumi selama sebulan penuh sejak vonis hemodialisis itu dijatuhkan. Ada kelegaan yang membuncah di dada Andira saat mendengar tawa Ibu kembali mengalun. Tawa kecil yang mengalir sore itu terdengar begitu sederhana, tetapi bagi mereka, kebahagiaan semacam itu adalah kemewahan yang tidak selalu bisa dibeli oleh waktu.