Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #6

Dibalik Cermin yang Berantakan

Delapan bulan telah meninggalkan jejak kelelahan yang nyata di pundak Andira. Bukan kelelahan yang dapat diobati dengan tidur lebih lama atau secangkir kopi hangat, melainkan lelah yang diam-diam bersarang di dalam dada—lelah yang tumbuh dari hari-hari panjang menjaga seorang ibu yang perlahan kehilangan kekuatan tubuhnya.

Yang paling melelahkan justru bukan rutinitas mengganti pakaian ibu, menyiapkan obat, atau menemani cuci darah berjam-jam di bawah lampu putih rumah sakit. Yang paling menguras dirinya adalah rasa iri yang berusaha ia kubur dalam-dalam kepada adik bungsunya sendiri, Almira. Ada kalanya, sikap Almira terasa seperti sembilu—dingin dan sama sekali tidak menghargainya sebagai seorang kakak.

Andira dan Almira tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan menjadi kakak dan adik seperti pada umumnya. Tidak ada obrolan larut malam, tidak ada cerita rahasia yang dibagi sebelum tidur, tidak pula tawa ringan di sela sore yang lengang. Hubungan mereka berdua layaknya dua kutub yang tak pernah bertemu. Tak ada ruang untuk sekadar bertukar cerita, apalagi saling menumpahkan isi dada. Almira jauh lebih leluasa dan hangat jika bersama Indira. Tentu saja, takdir seolah lebih berpihak pada kedekatan mereka berdua; bekerja di bawah atap kantor yang sama, menghabiskan waktu bersama, sementara Andira terkunci di dalam rumah.

Almira acap kali menjelma menjadi sosok yang teramat cuek. Perihal ibu, si bungsu itu seolah menutup mata dan telinga. Di dalam kepalanya, sudah tertanam sebuah dogma sepihak: mengurus Ibu adalah garis hidup Andira, maka seluruh peluh dan air mata dari urusan itu harus ditanggung oleh Andira seorang diri.

Seperti pagi itu.

Subuh baru saja selesai menyisakan dingin di sudut-sudut rumah ketika ibu terbangun karena tak lagi mampu menahan sakit perutnya. Ia melirik Andira yang masih tertidur lelap di ranjang sebelah. Wajah anaknya terlihat begitu letih hingga ibu tak tega membangunkannya. Dengan perlahan ia menurunkan kaki dari tempat tidur, berusaha berjalan sendiri menuju kamar mandi. Namun tubuh yang telah digerogoti penyakit tidak lagi mampu diajak berkompromi. Langkah ibu terlalu lambat untuk mengejar desakan tubuhnya sendiri. Setapak demi setapak, jejak-jejak yang tak semestinya tertinggal di lantai keramik putih rumah mereka.

Ibu berteriak, memanggil siapa saja yang bisa merengkuhnya dalam keputusasaan itu. Suaranya tenggelam di kejauhan kamar Andira. Namun, pekikan itu justru menembus dinding kamar Indira dan Almira yang letaknya persis di dekat sana. Keduanya terbangun, langsung dihadapkan pada pemandangan yang menguji isi perut.

Indira lebih dulu keluar kamar, lalu terdiam melihat lantai yang dipenuhi bercak kekuningan. Meski raut wajahnya menyiratkan rasa jijik yang hebat, Indira buru-buru menghampiri Ibu. "Ya ampun, Mak! Kenapa sendirian? Andira mana?"

"Andira masih tidur. Kamu bantu Mamak bersihkan ini dulu Dek," sahut Ibu, telunjuknya yang gemetar mengarah pada noda-noda kontras yang mengotori lantai pualam.

Sementara Indira bergulat dengan rasa mual, Almira melangkah cepat menuju kamar Andira. Alih-alih menggunakan tangan untuk membangunkan sang kakak, Almira justru menggunakan ujung kakinya. Ditepuknya tubuh Andira dengan kasar sembari memasang wajah masam yang pekat.

"Kak, bangun!" serunya ketus.

Tanpa sepatah kata penjelasan pun, Almira langsung berbalik pergi. Andira yang tersentak bangun terongkong dalam kebingungan. Pandangannya kosong, sebelum akhirnya menyadari ranjang di sebelahnya telah kosong melompong.

"Ada apa?" tanya Andira dengan suara berat dan parau khas orang baru terbangun. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, memaksa retinanya menangkap realitas di sekeliling.

Dari ambang pintu, Almira menyemburkan kekesalannya. "Lihat tuh di luar, Mamak berak! Kau kok bisa-bisanya nggak tahu Mamak bangun?!"

Jantung Andira bagai dihantam godam. Rasa bersalah langsung menyergap kegelapannya. Ia terperanjat memikirkan sang ibu yang harus berjuang sendiri ke kamar mandi tanpa topangannya.

"Kenapa enggak bangunin Andira, Mak?!" teriak Andira setengah histeris dari luar kamar mandi.

"Udah dipanggil, tapi telingamu itu nggak dengar! Mana bisa lagi kutahan sesak ini, ya sudah aku jalan sendiri!" sahut Ibu dari dalam, nadanya jauh lebih tinggi, sarat akan kejengkelan.

Andira menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terasa mengeringkan tenggorokan. Bukan perkara aroma menyengat yang kini menguasai atmosfer rumah, melainkan kelalaian dirinya yang mengutuk batin. Bagaimana mungkin tidurnya bisa sepuas itu? Sampai-sampai guncangan spring bed saat Ibu bangkit pun tak mampu mengusik lelapnya.

"Udah cebok, Mak?" tanya Andira lagi, suaranya bergetar.

"Udah kucebokin Mamak, tinggal disiram aja sisanya," timpal Indira yang baru keluar dari kamar mandi sembari membekap hidung dan mulut, menahan gejolak mual yang naik ke kerongkongan. "Kamu bersihin sisanya ya, An. Aku mau bawa Mamak ke kamar."

Tanpa membantah, Andira segera meraih kain lap kotor. Ia menyeka ceceran itu dengan saksama, menahan mual yang membakar dada demi menebus rasa bersalah yang menggunung. Disiramnya lantai itu berulang kali dengan pewangi, mencoba membunuh bau yang tertinggal, sementara di kamar sebelah, Indira membantu Ibu mengenakan pakaian. Sedangkan Almira telah kembali ke tempat tidurnya, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, seolah kekacauan pagi itu tak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Dan Andira kembali memahami satu hal yang selama ini berusaha ia sangkal: menjadi orang yang paling dekat dengan penderitaan seseorang sering kali berarti menjadi orang yang paling mudah disalahkan ketika sesuatu terjadi.

~

Sebenarnya, jika ditilik lebih dalam, ketiga bersaudara ini memiliki pembagian tugas. Indira bertugas menjaga isi dapur dan urusan masak-memasak. Almira memegang kendali atas setrikaan seminggu sekali, sekaligus menyokong biaya air, listrik, serta belanja bulanan. Sementara Andira memikul seluruh sisa beban domestik: merawat Ibu, menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian.

Namun, Almira kerap kali mengunci diri hanya pada dunianya. Di luar tugasnya, ia menutup mata. Baginya, rumah yang berantakan adalah mutlak urusan Andira.

Pagi itu, suasana rumah masih menyisakan ketegangan fajar. Almira menghabiskan waktu hampir satu jam di depan cermin, bersolek dengan saksama. Indira yang sudah rapi sejak tadi mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan kesal.

Saat Almira akhirnya keluar dengan wajah penuh riasan, ia melenggang begitu saja, meninggalkan meja rias yang berantakan, tempat tidur yang acak-acakan, serta handuk basah yang teronggok di atas kasur. Padahal, dialah yang bangun paling akhir.

“Lipstik merahku yang di laci mana?!" teriak Almira tiba-tiba dari ruang tengah, suaranya melengking tinggi menuntut jawaban. "Kak Andira! Kamu pindahin ya?!"

Andira yang sedang menjemur baju di belakang, berjalan setengah berlari dengan tangan yang masih basah. "Kakak simpan di kotak riasmu, Al. Biar nggak tercecer kayak kemarin."

Almira berbalik dengan wajah merengut, melipat tangan di dada. "Nggak usah sok tahu deh, Kak! Kalau dipindah-pindah begitu aku jadi susah nyarinya! Bikin telat kerja tahu nggak?!"

"Kakak cuma bersihin rumah, Al. Kamu bangun paling akhir, tapi handuk dan baju kotor main geletak aja. Kalau nggak Kakak rapihin, rumah ini mirip kapal pecah!" Andira mulai tersulut, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bertumpuk sejak subuh.

Lihat selengkapnya