Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #7

Pelepasan Sejenak

Selama ini, Andira merasa seperti seorang prajurit yang bertempur sendirian di medan laga yang sunyi. Di dalam dadanya, amarah tumbuh subur bagai semak berduri, namun ia tak pernah punya ruang untuk memangkasnya. Ia sadar, dalam hierarki rumah ini, ia tak memiliki kemewahan bernama "hak untuk marah". Maka, yang bisa ia lakukan hanyalah menelan bulat-bulat bongkahan kekesalan itu hingga mengendap menjadi racun di batinnya.

Hari ini kepalanya terasa berat sejak siang. Semenjak dari rumah sakit, jam tidurnya berantakan. Nyeri berdenyut di pelipisnya seperti seseorang yang terus mengetuk dari dalam tengkorak. Namun seperti biasanya, Andira memilih diam. Ia terlalu terbiasa menelan rasa sakitnya sendiri, bahkan untuk sekadar mengakui bahwa kepalanya sedang tidak baik-baik saja.

Tubuhnya menjerit meminta rehat, memohon pada kasur agar membiarkannya terpejam, Ia hanya ingin berbaring sedikit lebih lama.

Ketika azan magrib berlalu dan jam makan malam ibu tiba, Andira tetap memejamkan mata di atas ranjang. Biasanya, sebelum ibu meminta, ia sudah lebih dulu mengambilkan makanan dan menyiapkan semuanya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia sengaja membiarkan dirinya diam.

Barangkali Indira akan melakukannya, pikirnya.

Bukankah menjaga ibu bukan hanya tugas satu anak?

Andira berharap, sekali saja, peka itu lahir tanpa harus diminta.

Namun, suara Ibu memecah keheningan, memanggil namanya untuk tugas yang sama. "Kak, tolong ambilkan makan ibu."

Andira memejamkan mata lebih erat. Di ruang tengah, suara tawa dari video YouTube yang ditonton Indira terdengar samar-samar hingga ke kamarnya. Ia duduk santai. Tidak sedang melakukan apa pun.

Dalam kepungan rasa kesal yang memuncak, sebuah kalimat tajam tak sengaja lolos dari bibirnya—kata-kata bersungut yang semestinya tetap mengendap di kepala.

“Indira aja, Bu,” gumamnya pelan, nyaris seperti keluhan kepada dirinya sendiri. “Kan dia lagi di luar.”

Andira mengira gumamannya akan ditelan angin malam, namun telinga Ibu terlampau tajam. Suasana mendadak beku. Ibu menatapnya dengan kilat kecewa, lalu berucap dengan suara yang bergetar menahan luka.

“Sudahlah, Kak. Kalau memang tidak ikhlas, tidak usah. Biar Ibu tidak usah makan.” Kalimat itu menampar Andira lebih keras daripada bentakan apa pun.

Alih-alih meredam ego, Andira yang telanjur dikuasai kabut kekesalan pada adiknya hanya mampu menggerutu dalam hati. Dengan gerakan kaku dan sedikit hentakan kaki, ia tetap melangkah mengambil piring, mencoba menuntaskan kewajibannya. Namun, nasi telah menjadi bubur; hati Ibu telanjur tersayat. Ibu menatap Andira dengan tatapan menghunus, menyuruhnya membawa kembali makanan tersebut.

“Bawa lagi makanannya.”

Andira terdiam.

“Bawa lagi, Kak. Ibu nggak jadi makan.”

“Udah, Makan aja Mak, udah diambilin juga.” Nada suara Andira semakin kesal. Justru Pemantik amarah ibu.

“Sudah engga usah aja aku makan,” teriak ibu.

Kegaduhan itu akhirnya memancing langkah Indira. Ia melongokkan kepala ke dalam kamar dengan wajah tanpa dosa. “Ada apa sih?” tanyanya datar.

“Kalau memang terasa berat untuk memberi makan aku, tidak usah. Biarkan saja aku mati kelaparan,” sahut Ibu, meluncurkan kalimat yang menghantam ulu hati Andira bak gada besi.

Andira kian meradang. Ia tidak pernah berniat sekejam itu. Dengan napas memburu dan air mata yang mulai meluruh, ia membela diri.

“Kepala aku pusing dari tadi, Bu…” suaranya pecah. “Aku cuma mau Indira bisa gantikan sebentar.”

Namun, air mata Andira justru menyulut sinisme Indira. “Harusnya kamu bilang kalau pusing! Mana ada orang yang paham isi kepalamu kalau kamu Cuma diam!” sembur Indira.

Perkataan Indira memang memiliki kebenaran yang telanjang, tetapi keangkuhan Andira menolak kalah. “Seharusnya kamu juga sadar diri! Ini sudah jam makan malam Mamak, tidak perlu menunggu disuruh!” balas Andira sengit.

Malam itu, jam makan ibu terlambat. Dan jauh di dasar hatinya, Andira tahu ia telah melakukan sesuatu yang akan ia sesali lama setelah pertengkaran itu selesai. Hanya karena marah kepada adiknya, ia justru melukai orang yang paling ingin ia lindungi.

Dalam sekejap mata, panggung sandiwara rumah tangga itu berubah sutradara. Indira kini bertransformasi menjadi satu-satunya malaikat yang berbakti, sementara Andira—yang jiwanya seolah terkoyak oleh kelelahan mental—dilempar ke sudut ruangan sebagai sosok anak durhaka. Padahal tidak ada yang tahu bahwa seseorang bisa berubah menjadi buruk hanya karena terlalu lama menjadi kuat.

Ibu menghukumnya dengan keheningan, mengunci rapat bibirnya, enggan menegur Andira lagi. Dan diam ibu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahannya.

Malam merayap makin larut ketika Almira melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya ringan, wajahnya berseri-seri setelah menghabiskan waktu di luar. Ia pulang saat Ibu sudah terlelap dalam damai, sama sekali buta—dan tidak akan pernah tahu—bahwa beberapa jam lalu ada badai besar yang baru saja memporak-porandakan seisi rumah.

Di kamarnya yang sepi, Andira menatap langit-langit dengan kekosongan yang pekat. Dengan jemari bergetar, ia membuka aplikasi WhatsApp, mengetik sebuah kalimat di statusnya—sebuah jeritan sunyi yang ia sembunyikan khusus dari seluruh anggota keluarganya:

“Kalau begini caranya, Cuma aku yang akan berakhir menjadi anak durhaka.”

Hanya dalam hitungan menit, sebuah notifikasi muncul. Arga membalas statusnya.

“Kamu kenapa?”

Beberapa detik kemudian muncul pesan berikutnya.

“Ada masalah?”

Andira menatap layar ponselnya yang berpendar di kegelapan. Ia hanya membaca dua pesan itu, membiarkannya tetap biru, tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas. Baginya, menceritakan lukanya pada dunia tak akan pernah menyembuhkan kepalanya yang telanjur pecah.

~~~~

Ibu masih saja mengurung diri dalam diam, enggan menyapa Andira. Meski begitu, Andira tetap teguh menunaikan baktinya, merawat sang ibu tanpa cela. Ada sekat canggung yang membentang di antara mereka—sisa-sisa badai dari keributan semalam yang belum sepenuhnya reda.

Dengan gerakan jemari yang teramat santun, Andira mengusapkan selembar kain hangat ke kulit ibunya yang kian ringkih. Senyap merajai. Tidak ada lagi celoteh hangat seperti biasa; hanya keheningan yang setia menemani gerak-gerik mereka. Andira memakaikan baju, lalu dengan penuh takzim menyisir rambut ibu yang kian menipis dan rontok satu demi satu. Diusapkannya minyak angin dan minyak zaitun ke sekujur tubuh tua itu agar kulitnya tak gersang dimakan usia. Ketika jam berdentang, sebutir obat pun berpindah ke tangan ibu tepat waktu.

Semuanya ia lakukan dengan ketelitian seorang perawat yang tak pernah boleh lalai menjalankan tugasnya. Bedanya, tak ada jam pulang bagi Andira. Tak ada pergantian sif. Yang ada hanya hari-hari yang terus berulang, nyaris tanpa jeda.

Sesungguhnya, ada hasrat yang bergejolak di dada Andira untuk memohon ampun atas pertikaian semalam. Namun, bibirnya mendadak kelu. Ego yang angkuh ternyata masih mengangkangi rasa bersalahnya. Ia urungkan niat itu, memilih egois demi membasuh lukanya sendiri yang ia anggap benar. Sebab jauh di lubuk hatinya, ia merasa orang-orang di rumah ini harus mengerti: tubuhnya pun punya batas, ada lelah yang berakar dari batin.

Lihat selengkapnya