Dinding IGD malam itu terasa begitu dingin dan asing. Andira terduduk kaku di samping brankar, memandangi wajah ibunya yang pucat. Bau antiseptik menyengat udara, beradu dengan napas ibu yang memburu pendek-pendek. Belum sempat ia mengatur napasnya sendiri, seorang perawat menghampiri.
"Keluhannya apa?"
"Ibu sesak napas, Sus. Tadi sore mulai berat."
Perawat itu mengangguk singkat sebelum memanggil dokter jaga. Ia aberlalu setelah menanyakan riwayat keluhan, meninggalkan mereka dalam kegelisahan yang memekat.
Ibunya terbaring lemah di atas brankar. Dada perempuan itu naik turun lebih cepat dari biasanya, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan panjang yang harus ditaklukkan. Bibirnya sedikit pucat, sementara kedua matanya terpejam rapat menahan sesak yang kian menghimpit.
Dokter IGD datang, menempelkan stetoskop dinginnya ke dada ibu. Wajah dokter berubah serius. Ia mendengarkan lebih lama pada bagian belakang paru-paru, tanpa banyak kata, pria berjas putih itu menoleh tegas pada perawat di sisinya. “Pasang Rebreathing Mask (NRM) sekarang. 10 liter permenit”
Dokter kemudian menoleh kepada Andira. "Sudah sejak kapan ibu sesak seperti ini?"
Andira berusaha mengingat. "Mulainya kemarin pagi, Dok. Pas lagi cuci darah."
"Sesudah selesai cuci darah bagaimana?"
"Sudah agak lega, Dok. Tapi sore ini sesaknya datang lagi. Malah lebih berat."
Dokter mengangguk pelan. Tatapannya kembali tertuju pada hasil pemeriksaan. "Setelah saya dengarkan suara napas ibu, saya curiga ada cairan yang menumpuk di rongga paru-paru bagian belakang."
Andira spontan menahan napas. "Cairan... di paru-paru, Dok?"
"Iya. Tapi kita tidak boleh langsung menyimpulkan. Saya akan minta ibu dirontgen dulu supaya penyebabnya bisa dipastikan."
Suara dokter terdengar tenang, namun justru ketenangan itu membuat dada Andira semakin sesak. "Kalau memang benar ada cairan, nanti kita tentukan penanganan terbaik. Yang penting sekarang ibu tetap memakai oksigen dan jangan terlalu banyak bergerak."
Andira hanya mampu mengangguk pelan. "Baik, Dok." Begitu dokter berlalu, ia baru menyadari kedua telapak tangannya basah oleh keringat.
Sepeninggal dokter, Bang Deri melangkah mendekat. Dahi kakaknya itu berkerut tebal, menyimpulkan kecemasan yang transparan. "Gimana? Apa kata dokter?"
Andira menelan ludah sebelum menjawab. "Dokter bilang... kemungkinan ada cairan di paru-paru Mamak."
Wajah Bang Deri berubah tegang. "Kok bisa begitu?"
Belum sempat Andira menjawab, pertanyaan berikutnya meluncur pelan. "Selama ini makannya enggak dijaga?"
Kalimat itu sebenarnya terdengar sederhana.
Namun bagi Andira, setiap katanya berubah menjadi sebilah pisau yang menggores tepat di tempat paling rapuh dalam dirinya.
Makannya enggak dijaga.
Tiga kata yang seolah menuduh semua kelelahan yang telah ia jalani selama beberapa bulan terakhir terakhir tidak pernah berarti apa-apa.
Ia teringat setiap pagi yang dimulai setelah sholat Subuh, ketika ia memasak makanan rendah garam, menakar air minum ibu, mengingatkan obat, memandikan, mengganti pakaian, lalu mengantar ke rumah sakit dua kali setiap pekan. Ia teringat malam-malam ketika dirinya tidak benar-benar tidur karena harus beberapa kali terbangun hanya untuk memastikan ibu masih bernapas dengan tenang atau ibu yang terbangun tengah malam ia ikut terjaga. Namun semua pengorbanan itu seperti lenyap hanya oleh satu pertanyaan.
Andira menunduk. "Sudah kok, tapi engga tahu kok bisa begini." Suaranya bahkan nyaris tidak terdengar.