Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela rumah sakit, tetapi tak sedikit pun mampu menghangatkan dingin yang menjalar di dada Andira dan kedua adiknya. Dokter kembali melakukan visit rutin. Langkahnya tenang menyusuri bangsal VIP sebelum berhenti di sisi ranjang ibu. Stetoskop kembali ditempelkan di dada yang sejak beberapa hari terakhir menjadi pusat kecemasan seluruh keluarga. Dokter memejamkan mata beberapa detik, mendengarkan bunyi napas yang masih terdengar berat. Setelah itu ia mengangguk pelan.
"Cairannya masih ada," ucapnya hati-hati.
Andira yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur langsung menegakkan badan.
"Bagaimana, Dok?"
"Kita masih punya peluang mengeluarkannya tanpa tindakan penyedotan. Kita coba lewat hemodialisis dua kali lagi, tetapi kali ini fokusnya bukan membuang racun. Melainkan mesin akan diarahkan untuk menarik kelebihan cairan sebanyak mungkin. Ditambah obat-obatan, semoga paru-parunya kembali bersih."
Andira mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. "Berarti... ibu tidak perlu disedot cairannya, Dok?"
"Belum. Selama responsnya baik, kita usahakan tanpa prosedur itu." Kalimat sederhana itu menjelma secercah harapan di tengah hari-hari yang terasa gelap.
Jadwal itu memaksa Ibu menjalani prosedur di luar jam reguler. Ibu harus melangkah di koridor yang sunyi, bertemu dengan wajah-wajah asing yang berbeda dari pasien siang hari, melintasi waktu hingga senja perlahan meredup menuju malam.
Wajah-wajah yang biasanya menyapa ibu berganti dengan orang-orang baru, mereka pasien cuci darah yang melakukan cuci darah di hari yang sama dengan ibu— hari Rabu dan Sabtu. Sebagian besar tampak lemah, sebagian lain tertidur sejak awal proses cuci darah dimulai. Suara mesin berdenging pelan, berpadu dengan aroma antiseptik yang telah begitu akrab bagi Andira.
Ia duduk di kursi kecil di samping ibu. Sesekali memijat tangan ibu. Sesekali membenarkan selimut. Namun beberapa jam setelah proses dimulai, sesuatu berubah. Ibu tiba-tiba membuka mata lebar-lebar. Tatapannya kosong. Seolah sedang melihat seseorang yang tidak dapat dilihat orang lain.
"Mak..."
Tidak ada jawaban.
"Kenapa Mak?"
Perempuan itu justru mengangkat telunjuknya ke sudut ruangan. "Itu..."
Andira menoleh. Kosong. Keningnya mengernyit heran.
"Hitam... hitam itu datang lagi....,” ucap ibu dengan suara serak dan bergetar.
"Mak... tidak ada siapa-siapa."
"Ada!" Ibu berteriak keras hingga beberapa pasien menoleh.
"Itu berdiri di sana! Jangan biarkan dia mendekat!" Andira langsung menggenggam tangan ibu.
"Mak... ini Andira."
Namun ibu justru menarik tangannya kasar.
"Pergi! Jangan sentuh aku!"
Perawat segera menghampiri.
"Ada apa, Bu?"
"Kalian semua jahat!" teriak ibu lagi.
"Kalian yang bikin aku sakit! Kalian jangan dekat-dekat!" Suara itu menggema memenuhi ruangan HD.
Beberapa pasien terbangun. Ada yang memandang iba. Ada yang ikut cemas. Ibu terus meronta sambil menunjuk ke berbagai arah.
"Lihat! Ada orang hitam di belakang kalian! Dia mengikuti kita sejak tadi!" Andira mematung. Dadanya seperti diremas.
Perempuan yang kini berteriak ketakutan itu bukan lagi sosok ibu yang ia kenal. Sesekali ibu masih mengenali salah satu perawat.
"Lho... Bang Adi...."
Beberapa detik kemudian ia kembali berubah. "Pergi kalian! Jangan pegang aku!"
Kalimatnya saling bertabrakan. Pembicaraannya tidak lagi utuh. Kadang menyambung. Kadang melompat ke hal-hal yang sama sekali tidak dipahami. Ingatan Ibu menguap bagai embun tersengat terik. Ia melindur, menyeracaukan kata-kata tanpa muara. Ada kalanya tatapan Ibu jernih dan kalimatnya bertaut, namun di detik berikutnya, mata itu menatap kosong.
Dokter HD segera datang memeriksa keadaan ibu. Melihat hasil laboratorium dan kondisi kesadarannya, dokter menarik napas pelan sebelum menjelaskan kepada keluarga.
"Kondisi ini disebut ensefalopati uremikum."
Andira mengernyit.
"Itu apa, Dok?"
"Karena hemodialisis hari ini difokuskan menarik cairan, pembuangan racun belum maksimal. Ureum dan kreatinin yang masih sangat tinggi dapat memengaruhi kerja otak."
"Jadi... ibu saya keracunan Dok?"
"Bisa dibilang begitu."