Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #10

Badai Sebelum Fajar

Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun terlintas di benak Andira bahwa ia akan duduk di dalam sebuah tabung besi putih yang meraung-raung membelah malam. Ambulance—sebuah armada yang baginya selalu diselimuti aura ketakutan dan aura perpisahan. Ambulans adalah kendaraan dengan tugas yang begitu mulia, tetapi juga menyimpan bayangan yang menakutkan bagi banyak orang. Sewaktu kecil, cukup dengan mendengar lengkingan sirinenya dari kejauhan, Andira akan berlari sembunyi, seolah raungan itu adalah pertanda datangnya malaikat maut.

Namun hari ini, ketakutan childish itu menguap tanpa sisa. Rasa takutnya lenyap, tergilas oleh kecemasan yang jauh lebih raksasa. Ia tak peduli lagi pada dengung sirine yang memekakkan telinga. Hanya satu yang ada di pikirannya: bagaimana caranya agar kendaraan ini bisa membawa Ibu pulang dengan selamat ke Medan. Memastikan wanita terpuji itu kembali ke tanah kelahirannya, tanpa kurang satu apa pun. Pulang ke rumah mereka di Medan. Pulang ke tempat yang selama ini selalu menjadi tujuan setiap lelah dan rindu.

Di atas ranjang lipat yang bergetar mengikuti ritme jalanan, Ibu terbaring pasrah. Sepanjang perjalanan Riau–Medan, pandangan Andira tak pernah lepas dari wajah ibunya yang pucat. Dadanya dihantam pilu yang tak terperi. Sesekali ia mengusap punggung tangan yang mulai terasa dingin.

"Mak... sebentar lagi kita pulang," bisiknya lirih.

Tak ada jawaban. Hanya napas yang masih terdengar, cukup untuk membuat Andira sedikit tenang. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi rasa iba. Ibu telah menempuh perjalanan hidup yang begitu terjal sejak mengikat janji suci bersama Bapak, banyak badai yang harus ia lalui. Ada hari-hari ketika keadaan ekonomi begitu sulit. Ada pertengkaran yang menguras air mata. Ada luka yang hanya disembuhkan oleh waktu dan kesabaran.

Namun ibu tidak pernah benar-benar menyerah. Ia selalu bangun setiap pagi, memasak untuk keluarga, memastikan anak-anaknya tumbuh dengan baik, seolah hidup tidak pernah membebaninya. Kini, ketika anak-anaknya mulai dewasa, justru tubuh ibu yang perlahan menyerah. Penyakit itu datang tanpa permisi. Menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit.

Orang-orang sering berkata bahwa, “Penyakit adalah penghapus dosa”. Namun Andira membatin dengan dada sesak: Dosa sebesar apa yang pernah dilakukan seorang ibu yang teramat tangguh ini, hingga Tuhan menguji Mamak sejauh ini?

Pertanyaan itu hanya berputar di kepalanya. Tak pernah benar-benar ia ucapkan. Ia hanya menggenggam tangan ibunya semakin erat, lalu berdoa dalam diam. "Ya Allah... cukupkan penderitaan Mamak. Jangan ambil dia sekarang."

Ajaibnya, di balik deru mesin dan guncangan armada, Ibu justru tertidur begitu lelap. Bukan tidur sebentar seperti hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak damai. Tak ada lagi gumaman. Tak ada lagi tatapan kosong.

Padahal selama hampir empat hari terakhir, ibu nyaris tak pernah memejamkan mata. Tubuhnya memang lelah, tetapi pikirannya terus mengembara. Ia sering berbicara sendiri, terkadang menyebut nama orang-orang yang bahkan sudah lama tak ditemuinya. Sementara di sampingnya, desir gemuruh di dada Andira kian memuncak. Dalam diam, jemarinya bertaut erat, melantunkan doa-doa keselamatan agar perjalanan lintas provinsi ini dibebaskan dari marabahaya.

Sesekali ambulans menepi di rumah makan sederhana untuk memberi kesempatan sopir beristirahat dan mereka mengisi perut.

"Aku jagain Mamak dulu, Bang. Abang makan aja," kata Andira.

Bang Deri menggeleng. "Kita gantian. Kau juga harus makan. Jangan sampai nanti kau pulak yang tumbang."

Meski tak berselera, Andira memaksa dirinya menelan beberapa suap nasi. Baginya, rasa lapar sudah lama kalah oleh rasa cemas. Begitu perjalanan dilanjutkan, Sopir ambulans bekerja bagai pesulap jalanan—Saat jalanan macet, sirine meraung membelah kemacetan. Kendaraan-kendaraan perlahan menepi, memberi jalan bagi ambulans yang membawa seorang pasien dalam kondisi darurat. Namun ketika jalan mulai lengang, suara sirine dimatikan. Yang terdengar hanya deru mesin yang melaju membelah jalan lintas Sumatra.

Sopir itu tampak sangat berpengalaman. Tangannya mantap mengendalikan kemudi. Mobil melaju cepat, tetapi tetap terasa nyaman.

"Bapak udah lama bawa ambulans?" tanya Bang Deri pelan.

Pria paruh baya itu tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Sudah hampir sepuluh tahun."

"Wah... lama juga."

"Iya. Sudah sering bolak-balik Medan, Pekanbaru, Dumai. Kalau bawa pasien begini, yang penting selamat sampai tujuan."

Bang Deri yang duduk di samping kemudi mengangguk pelan. Lalu obrolan mereka terus berganti menjadi topik lain tentang seputar jalanan lintas sumatera yang sudah ditaklukan Bang Deri, sebab sudah sering ia pulang-pergi antara Medan dan Riau hanya dengan mobil yang dikendarainya. Sedangkan, Andira di belakang hanya diam mendengarkan percakapan itu, tanpa ingin menimpali, Andira hanya fokus memegangi tubuh ibunya.

Perjalanan yang biasanya memakan waktu hingga 16 jam menggunakan bus antarkota, kini terangkas menjadi kurang dari 14 jam. Saat kendaraan telah membelah kawasan pemukiman komplek perumahan yang masih lelap dalam kesunyian, sirine sepenuhnya dipadamkan. Mereka datang dalam diam, membungkus ketakutan rapat-rapat.

Mobil berhenti tepat di depan pagar. Di sana, di bawah remang lampu jalan, Bapak, Kak Wilda, dan Kak Saras sudah menanti dengan wajah yang dipenuhi jejak kecemasan. Terutama Bapak. Lelaki penutup duka itu menatap mobil ambulans dengan pandangan nanar. Puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Ibu, perjalanan mereka tentu tak selurus permukaan kaca. Ada gejolak, pertengkaran kecil, dan retakan yang terus ditambal. Mereka bukanlah pasangan romantis yang gemar mengobral kata manis; kasih sayang mereka tertanam dalam tindakan-tindakan yang sunyi.

Segelas teh hangat yang selalu tersedia setiap pagi.

Piring makan yang diam-diam disiapkan.

Pertanyaan sederhana, "Sudah makan?"

Atau menunggu pasangan pulang tanpa pernah mengeluh.

Namun malam ini, tak ada suami yang sanggup melihat wanita yang dulu dinikahinya kini kembali ke rumah dalam kondisi tak berdaya. Tanpa banyak bicara, dengan jemari yang gemetar, Bapak sigap membantu Bang Deri menurunkan tandu Ibu, dibantu oleh Kak Wilda dan Kak Saras.

"Hati-hati... pelan-pelan," ucapnya lirih. Tangannya tampak bergetar saat memegang sisi tandu.

Sekali lagi, keajaiban terlihat oleh semesta, saat tubuh ringkih itu direbahkan di atas kasur ruang tengah, kelopak mata Ibu perlahan terbuka. Kelopak mata yang selama beberapa hari di Riau tak mampu mengenali siapapun, mendadak memancarkan pendar kesadaran. Tatapannya masih sayu, tetapi kali ini berbeda. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan. Lalu berhenti di langit-langit rumah.

“Kita... sudah pulang, ya?” lirih Ibu. Suaranya serak dan tipis, bagai hembusan angin malam. Air mata Andira nyaris jatuh ketika mendengar ibu berbisik pelan.

“Iya, sudah pulang, Mak. Sudah di rumah kita sekarang,” sahut Kak Wilda. Suaranya bergetar hebat, menahan gelombang tangis.

“Udah sampai Medan kita, Mak...” Kak Saras menimpali, menyapu air mata yang menetes di pipinya.

Ibu menatap Kak Wilda dengan pandangan samar. “Kamu... siapa?”

Kak Wilda berusaha tersenyum di balik genangan air mata. “Ini Wilda, Mak. Anak Mamak yang paling suka Mamak bikin Mamak marah.”

Tatapan ibu bergeser ke arah Saras. "Kalau yang ini?"

“Ini Saras, Mak. Masa Mamak lupa sama anak sendiri?”

Ibu terkekeh pelan, tawa kecil yang terasa begitu berharga. “Mana ada... Aku enggak punya anak banyak-banyak. Anakku masih kecil, lagian cuma satu.”

Gelak tawa pecah seketika di ruang tengah, mengusir sejenak kedukaan yang menggantung.

Lihat selengkapnya