Ambulans berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat, Andira seolah berubah menjadi seseorang yang harus memahami segala sesuatu dalam waktu bersamaan. Langkah Andira terasa berat menyusuri koridor rumah sakit yang lengang. Segala urusan administrasi—lembar demi lembar berkas rawat inap yang menuntut tanda tangan—ia selesaikan seorang diri.
"Yang mendampingi pasien siapa?" tanya petugas administrasi.
"Saya," jawab Andira pelan.
"Obat rutin yang diminum ibu apa saja?"
Pertanyaan itu kembali menghampirinya. Dokter dan perawat mengulang pertanyaan yang sama. Dan setiap kali ditanya, hanya Andira yang mampu menjawab satu per satu nama obat beserta dosisnya. Selama berbulan-bulan mendampingi ibunya cuci darah, hanya dialah yang hafal semua itu. Kakak atau adiknya bahkan tidak pernah benar-benar mengetahui obat mana diminum pagi, siang, atau malam. Dia menghafal semua itu luar kepala.
Ketika mentari meredup di ufuk sore, ibu dipindahkan ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Pintu besar berwarna putih itu terbuka perlahan. Udara dingin langsung menyergap kulit, berbeda jauh dengan hiruk-pikuk lorong rumah sakit di luar. Di balik pintu itu, dunia terasa berjalan lebih pelan, tetapi setiap detiknya justru jauh lebih menegangkan. Seorang dokter bertanya tentang akses cimino pada lengan ibu.
"Pasien punya akses cimino, ya?"
"Iya, Dok. Sudah dipakai selama sebulan sewaktu di rumah sakit di Riau, Dok,” tutur Andira, menatap cemas pada lengan ibunya yang kini membengkak hebat.
Dokter mengangguk prihatin. “Ini bengkak sekali ya tangannya, kemungkinan akan sulit untuk dipakai.”
“Tidak bisa dipakai ya dok?”
“Kita coba pakai akses yang ada dulu ya, mudah-mudahan bisa, kalau engga bisa terpaksa kita akan membuka akses cuci darah lain.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Andira semakin sesak. Di rumah sakit, kata kami usahakan sering kali berarti harapan masih ada, tetapi tidak ada satu pun yang berani menjanjikan hasilnya. Andira hanya bisa mengangguk lemas. Dalam lubuk hatinya ia meminta Tuhan mau berbaik hati melancarkan proses cuci darah ibu kali ini dengan cimino yang sudah ada.
Kemudian, setelah satu jam berlalu, ia diminta menemani ibu cuci darah di dalam ruangan. Di sana, hatinya remuk seketika. Tubuh rentan yang selama ini memeluknya kini telanjang, dililit juluran kabel alat rekam jantung (ECG/EKG) dan selang misterius yang tak ia pahami fungsinya. Ibu masih bergeming. Selang infus menggantung dari kedua tangan. Monitor jantung berkedip tanpa henti. Mesin-mesin di sekeliling tempat tidur bekerja dengan bahasa yang tidak pernah ia pahami.
Ia hanya mengenal bunyinya.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara yang terdengar sederhana, tetapi mampu membuat siapa pun menahan napas setiap kali iramanya berubah. Andira menarik kursi ke sisi ranjang. Tangannya perlahan menggenggam jemari ibu yang terasa dingin.
Andira duduk di samping brankar ibu, menatap sekeliling. ICU terasa begitu sunyi, namun kesunyian yang mencekam. Hanya irama ritmis mesin pemantau jantung yang memecah udara dingin—seolah menegaskan bahwa di ruangan inilah garis antara hidup dan mati dipertaruhkan.
Andira menarik kursi ke sisi ranjang. Tangannya perlahan menggenggam jemari ibu yang terasa dingin.
"Mamak... Andira di sini."
Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Hanya suara mesin yang seolah mengambil alih percakapan mereka. Matanya lalu berkeliling menyapu seluruh ruang ICU. Ruangan itu sunyi, tetapi bukan sunyi yang menenangkan. Kesunyian di sana terasa berat, dipenuhi doa-doa yang tidak diucapkan dengan suara.
Di bilik sebelah, seorang nenek renta terbaring tanpa kesadaran. Seluruh wajahnya tertutup selang ventilator. Kabel-kabel melilit tubuhnya jauh lebih banyak daripada milik ibu. Dadanya naik turun perlahan mengikuti bantuan mesin, seakan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk sekadar bernapas sendiri.
Di seberang bilik, dua pasien lain juga terbaring dengan kondisi tak jauh berbeda. Lampu monitor terus berkedip hijau, kuning, merah. Irama mesin jantung saling bersahutan seperti orkestra yang memainkan lagu paling menyedihkan di dunia.
Andira tidak dapat melihat seluruh isi ruang ICU. Namun satu hal ia pahami. Ibunya tidak sedang berjuang sendirian. Di balik dinding-dinding penyejuk udara ini, puluhan jiwa tengah berada di ambang batas—menanti apakah takdir akan memanggil mereka pulang atau memberi kesempatan untuk kembali. Detik itu, dada Andira bergetar. Betapa murah hatinya Sang Pencipta yang masih membiarkan manusia menghirup udara tanpa perlu menukarnya dengan rasa sakit yang luar biasa.
Ruang ICU mengajarkan pelajaran yang tak pernah ada di bangku sekolah. Di sana, sehat adalah kemewahan. Bernapas tanpa bantuan mesin adalah anugerah. Dan mampu membuka mata ketika pagi tiba merupakan hadiah yang sering kali baru disadari ketika hampir kehilangannya. Di balik pintu ruang ICU, bukan hanya pasien yang sedang bertaruh dengan hidup. Keluarga mereka pun sedang diuji dengan cara yang sama.
ICU bukan sekadar tempat penantian bagi yang terbaring, melainkan juga panggung kecemasan bagi mereka yang menanti di luar. Ruangan itu menyimpan ribuan cerita pilu: tentang vonis dokter yang meremukkan harapan, tentang kabar kesadaran yang tak kunjung datang, hingga tentang kematian yang mengintai sangat dekat.
Ketakutan Andira kian menjalar saat menyadari keluarga pasien di sebelah bilik ibunya baru saja diterpa duka—seseorang di sana telah mengembuskan napas terakhirnya. Isak tangis pecah, merambat pelan menembus dinding pembatas. Hati Andira mencelos. Tuhan, tolong jaga Ibu... bisiknya lirih dalam doa yang gemetar.