Suasana di luar ruang tunggu ICU mulai mengeliat bersama denyut pagi yang muram. Selasar dingin rumah sakit perlahan riuh oleh langkah-langkah kaki yang gundah. Beberapa keluarga pasien terjaga untuk membasuh wajah dan menunaikan salat Subuh, sementara sebagian besar lainnya memilih tetap gemetaran meringkuk di alas tikar atau kain, atau kursi berlengan. Tak sedikit pula yang lelap dalam keletihan yang pasrah.
Andira terjebak di antara kantuk dan kecemasan. Semalaman matanya enggan terpejam, disandera oleh rasa takut yang menggantung. Pagi ini, ketika kelopak matanya kian berat, ia menyerah. Disandarkannya kepala di dipan tipis itu, membiarkan tubuhnya tenggelam sejenak sebelum sang surya benar-benar meninggi. Ia tak lagi peduli pada lalu-lalang orang yang sesekali menaruh iba. Di tempat ini, ketika martabat kemanusiaan diuji oleh kepasrahan, privasi adalah kemewahan yang tak lagi dipikirkan.
Kantuk yang lebat akhirnya merenggut kesadarannya cukup jauh. Ketika matanya kembali terbuka, jarum jam sudah merambat ke angka sembilan pagi. Saat membuka mata kembali, sinar matahari sudah menembus kaca-kaca tinggi ruang tunggu. Ruang tunggu telah disesaki oleh tatapan-tatapan cemas keluarga pasien lain.
Kak Saras yang sudah terjaga lebih dulu menyodorkan sebungkus roti yang dibelinya dari minimarket. Tanpa banyak kata, Andira menyambut dan mengunyahnya lambat—sekadar mengisi perut yang hampa.
“Kak, ada kabar Mamak?” tanya Andira, suaranya parau.
Saras menggeleng perlahan, matanya menerawang. “Belum ada, Ra. Dari tadi Akang juga nungguin. Beberapa kali suster keluar panggil nama keluarga, tapi bukan nama kita.”
Pintu ICU adalah ambang batas antara harapan dan kehancuran. Di ruang tunggu ICU, setiap langkah perawat selalu menjadi pusat perhatian. Setiap kali selarik gaun putih perawat melintas di balik kaca, semua pasang mata serta-merta tertuju ke sana. Pandangan-pandangan penuh was-was bersilang di udara. Entah kabar baik yang akan memutihkan duka, atau kabar buruk yang siap merobohkan dada. Semua menanti dalam gigil kesunyian. Begitu pula Andira dan Saras; ketiadaan kabar dari balik dinding steril itu justru menjadi siksaan tersendiri. Waktu berputar lambat menuju pukul sebelas—jam besuk yang amat mereka dambakan sekaligus takuti.
Tiba-tiba, seorang perawat pria melangkah tergesa membelah lorong. Tanpa komando, puluhan kepala menoleh seketika. Menggantungkan nasib pada satu seruan nama.
“Keluarga dari Pak Rustam?” panggil perawat itu.
Di sudut ruangan, sebuah keluarga bangkit berdiri. Dari guratan di wajah mereka yang mendadak pias, Andira tahu: takdir buruk telah jatuh. Ibu mereka yang telah dua minggu bertahan di ruang ICU, akhirnya menghembuskan napas terakhir.
"Ibu sudah berpulang..."
Kalimat itu lirih. Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku. Tak seorang pun mengenal keluarga itu secara dekat. Tetapi kesedihan memiliki bahasa yang dapat dipahami semua orang. Beberapa orang ikut menundukkan kepala.
Seketika, redup yang lebih pekat menaungi ruang tunggu. Ada duka yang membelah udara, dan ada ketakutan terselubung yang merayapi dada setiap orang di sana—bagaimana jika giliranku yang dipanggil berikutnya?
Dalam kepungan bisik doa yang makin kencang, jarum jam akhirnya mengetuk angka sebelas. Jam besuk dibuka. Hanya dua orang yang diizinkan melangkah masuk. Dengan dada yang bergemuruh oleh rasa penasaran dan rindu yang membuncah, Andira dan Saras melangkah melintasi tirai-tirai dingin.
Di dalam bilik, sosok wanita yang begitu mereka cintai masih terbaring kaku. Belum ada tanda-tanda kesadaran. Tanpa sanggup membendung rembesan air mata, Saras meluruh, memeluk tubuh lemah itu dan mengecupi wajah Ibunya yang pucat serta dingin.
“Ibu masih belum sadar penuh, Mbak,” bisik seorang perawat lembut. “Sempat membaik sebentar, lalu tertidur lagi. Nanti malam kita rencanakan untuk tindakan cuci darah yang kedua. Nanti keluarga tunggu panggilannya saja.”
Andira menatap lekat-lekat wajah ibunya itu. Begitu tenang. Tak ada guratan kesakitan di sana, seolah ia hanya tengah lelap dalam tidur yang amat pulas. Namun justru ketenangan itulah yang mengiris hati Andira.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Andira hanya merapikan selimut yang sedikit tersingkap, menutupi tubuh ibunya yang terbuka karena berbagai alat medis menempel di dada dan lengannya. Sentuhan kecil itu terasa seperti satu-satunya bentuk kasih sayang yang masih bisa ia berikan. Namun ketika menatap wajah ibunya lebih lama, sebuah rasa bersalah perlahan menyusup.
Apakah aku salah membawamu ke Medan?
Apakah perjalanan panjang itu justru membuat keadaanmu semakin buruk?
Lalu suara lain di dalam kepalanya membantah.
Kalau tidak dibawa ke sini, apa Ibu akan lebih baik?
Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah rasa bersalah yang selalu datang terlambat. Pertanyaan-pertanyaan itu bergema di kepalanya tanpa jawaban. Semesta seolah telah menetapkan jalannya: racun dalam tubuh Ibu merayap begitu senyap, bersarang, dan melumpuhkan tanpa ada seorang pun yang menyangkanya.
Waktu berkunjung habis. Saat melangkah keluar dari pintu tebal itu, mereka disambut oleh Bang Deri dan Kak Wilda yang baru saja tiba membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti.
"Kondisi Mamak gimana?" tanya Bang Deri buru-buru.
"Masih belum sadar penuh, Bang. Tapi tadi katanya sempat buka mata."
Mereka saling berpandangan.
Sedikit harapan tumbuh.