Pikiran Ibu serupa benang layang-layang yang putus di udara; sesekali mendekat memeluk ingatan, lalu mendadak lenyap diterpa angin hampa. Ia kerap lupa pada nama-nama orang yang mencintainya, tenggelam dalam halusinasi yang tak berpuncak. Bukan kesadaran yang langsung utuh, bukan pula kesadaran yang datang seperti matahari menyingkap seluruh gelap dalam sekali terbit. Ia datang sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang tersesat di jalan panjang lalu perlahan mengenali kembali rumahnya. Namun, sekadar melihat kedua mata itu terbuka saja sudah cukup bagi keluarga Andira untuk menarik napas panjang.
Beberapa hari terakhir mereka hidup seperti orang-orang yang lupa caranya bernapas. Setiap bunyi monitor membuat dada berdebar. Setiap langkah perawat mendekat ke ranjang ibu terasa seperti membawa berita yang tak berani mereka tebak.
Kini ibu sudah membuka mata. Ia sudah bisa memandang. Hanya saja, pandangan itu kadang berhenti terlalu lama pada wajah yang dikenalnya, kemudian berubah kosong seolah wajah itu mendadak menjadi wajah orang asing.
Kadang ibu mengenali Andira. Kadang tidak. Kadang ia memanggil nama anaknya dengan suara lirih. Kadang ia justru bertanya, "Ini di mana?"
Andira akan menggenggam tangannya. "Di rumah sakit, Mak."
"Kenapa?"
"Mamak kan lagi sakit."
Ibu diam sebentar. Dahinya berkerut seperti sedang mengorek-ngorek ingatan yang terselip jauh di dalam kepalanya. "Oh..."
Lima menit kemudian ia akan bertanya lagi. "Ini di mana?"
Andira menoleh kepada Kak Saras. Mereka saling pandang. Tak perlu bicara. Tatapan itu sudah cukup untuk menjelaskan betapa lelahnya mereka. Namun, anehnya, di sela-sela lelah itu ada sesuatu yang hangat.
Harapan.
Sebab ibu sudah kembali menjadi ibu mereka—meski belum sepenuhnya.
Sesekali ibu masih berhalusinasi. Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Pernah ia menunjuk sudut ruangan dan berkata ada seseorang berdiri di sana. Pernah pula ia berbicara kepada orang yang sebenarnya tidak ada.
"Jangan duduk di situ," katanya suatu malam.
Andira menoleh ke kursi kosong. "Siapa, Mak?"
"Itu orangnya."
"Siapa?"
Ibu menatap kursi itu lama. "Ya... orang."
Andira menahan senyum. "Mak, itu kursinya kosong."
Ibu memandang Andira, lalu mengerutkan hidung. "Yang kosong kau!"
Kak Saras yang mendengar dari sebelah langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa keras.
Andira melotot. "Kenapa aku?"
Ibu justru tersenyum polos. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari menghadapi ketakutan, mereka tertawa. Tawa yang kecil, tetapi terasa seperti cahaya yang menyusup dari celah tirai.
Kesadaran ibu yang datang dan pergi itu membuat urusan makan menjadi perkara tersendiri. Kadang ibu mau membuka mulut dan menyuap beberapa sendok. Kadang baru satu suapan sudah menolak.
"Sudah."
"Sedikit lagi, Mak."
"Enggak mau."
"Nanti lapar."
"Enggak."
"Kalau lapar?"
Ibu memejamkan mata.
"Ya, nanti saja."
Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Dokter memutuskan untuk memasang selang nasogastrik (NGT) atau sering juga disebut sonde. Selang plastik lunak yang dipasang lewat hidung sampai ke lambung. Selang transparan itu menjadi garis pertahanan hidup Ibu. Selama koma, ibu memang tidak diperbolehkan makan dan minum melalui mulut karena kesadarannya belum cukup baik dan ada risiko tersedak. Setelah kesadarannya mulai kembali, pemberian makanan melalui selang menjadi jalan yang paling memungkinkan agar tubuhnya tetap memperoleh asupan.
Andira dan Kak Saras kemudian mendapat pekerjaan baru: menjaga agar tangan ibu tidak meraih selang tersebut. Pekerjaan itu terdengar sederhana. Pada kenyataannya, tidak. Ibu bisa saja diam selama satu jam, lalu tiba-tiba tangannya bergerak. Dan Andira akan mengingatkan agar jangan mencabutnya.
“Mak, jangan dicabut.” Andira memberi peringatan, meraih tangan ibu agar menjauh dari selang itu.
“Ini jangan dicabut Mak, untuk makan Mamak nanti, susah kalau engga ada selang ini,” jelas Andira, ibu Cuma mengangguk seperti anak kecil yang mencoba paham penjelasan orangtuanya.
Ketika mereka lengah, selang itu sudah tidak berada di tempatnya. Andira awalnya tidak menyadarinya. Saat ingin memberi minum ibu di pagi hari, karena ibu kehausan, Andira ingin memberi minum melalui selang, namun saat ia merabanya, selang itu hilang. Andira terperanjat, ia mencari selang NGT itu, dan ternyata sudah tertimpa oleh ibu.
"Ya ampun Mak, kenapa selangnya ditarik?" tanya Andira setengah berteriak karena panik.
Kak Saras yang masih tertidur pun terbangun. “Kenapa dek?”
“Selang di hidung Mamak copot kak.”
“Lah kok bisa?”
“Dicabut Mamak.”
“Iya, Mamak yang cabut?” Tanya Kak Saras.
Ibu mengedipkan matanya polos, lalu berbisik meyakinkan, "Bukan Mamak yang cabut. Tadi malam ada dokter cowok masuk, dia yang lepaskan katanya Mamak sudah sembuh."
Andira mengernyit. "Mak, dokter enggak datang malam tadi."
Ibu tetap tenang. "Datang."
Andira dan Kak Saras saling pandang. Rasanya tak mungkin ada dokter yang menguji logika mereka di tengah malam buta. Lucunya, beberapa jam kemudian, ketika pertanyaan yang sama diulang, pertahanan Ibu runtuh.
Beberapa jam kemudian, setelah suasana kembali tenang, Andira bertanya lagi. "Mak. Tadi selangnya kenapa dicabut?"
Ibu menatap Andira. Kali ini jawabannya berbeda. "Karena mengganggu."
Andira sampai terdiam. "Kemarin kata Mamak dokter yang cabut."
Ibu menggeleng. "Enggak. Ibu sendiri." Lalu ia tersenyum polos sekali. Seperti anak sekolah yang baru saja ketahuan mencuri permen dari toples.
Kak Saras langsung pecah tertawa. Andira ikut tertawa sampai menundukkan kepala.
"Ya Allah, Mak!" Kak Saras terkekeh geli.
Ibu justru ikut tersenyum. "Apa?"
Andira mengusap wajah. "Enggak ada, Bu."
Peristiwa kecil itu kemudian menjadi bahan cerita keluarga. Ketika Kak Wilda dan Kak Maya akhirnya datang menjenguk, Andira menceritakannya dengan gaya yang sengaja dibesar-besarkan.
"Bayangkan, Kak. Selangnya sudah dipasang rapi, dijaga dua orang, tetap saja dicabut."
Kak Wilda tertawa. "Kalian pun bisa pula kecolongan."
Kak Maya ikut mendekat ke ranjang. "Mak, Siapa yang cabut selangnya?"
Ibu diam. Andira menunjuk ibu.
"Katanya dokter."
Kak Maya menatap ibu dengan wajah pura-pura serius. "Dokternya yang mana Mak?"
Ibu menjawab, "Dokter selang."
Kak Wilda langsung terbahak-bahak sembari memegang perutnya. "Dokter selang katanya we!"