Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #14

Bakti yang Tak Bersuara

Ada hari-hari ketika penyakit tidak hanya menggerogoti tubuh, tetapi juga kesabaran. Ketika Ibu menjadi begitu rewel—sebuah kerewelan yang sejatinya lahir dari rasa frustrasi atas tubuhnya sendiri yang tak lagi berdaya. Di hari-hari seperti itu, Ibu sering kali menginginkan makanan yang jelas-jelas menjadi pantangan utamanya.

Suatu siang, Ibu menatap sepiring gulai yang baru saja dibawa tetangga. Andira menghentikan langkahnya. Ia memandangi kuah gulai yang berkilau oleh minyak dan santan.

"Jangan yang itu, Mak."

"Kenapa?"

"Garamnya tinggi. Santannya juga banyak."

"Sedikit saja."

Andira menggeleng pelan. “Enggak bisa sedikit.”

“Walah…” Ibu mengembuskan napas panjang. “Sekarang semua enggak boleh. Makan ini enggak boleh, makan itu enggak boleh.”

“Bukan enggak boleh, Mak….”

“Lalu apa?”

Andira menarik napas panjang, berusaha menahan letih yang sejak pagi menggantung di pelupuk matanya. “Bukan engga boleh mak, tapi memang engga bisa, kan kata dokter jantung engga boleh makan yang banyak santan.”

Ibu membuang muka, dadanya naik turun menahan kekesalan. "Aku maunya itu! Kalau tidak boleh, ya sudah, aku tidak usah makan sekalian!" nada suara Ibu meninggi, penuh penderitaan yang mengeras menjadi kemarahan.

"Bukan gitu mak, kan ada makanan lain yang bisa dimakan mak.”

Belum sempat Andira menyelesaikan kalimatnya, Ibu sudah memotong. “Sudah kak, udah ga usah aja mamak makan. Kalau semuanya engga boleh.”

Suara Andira bergetar, tercekat di pangkal tenggorokan. "Bukan tidak boleh, tapi Dilarang itu bukan berarti tak sayang, Mak, tapi karena Andira mau Mamak sehat." 

Lelah dan rasa takut yang menumpuk sekian lama akhirnya membobol benteng kesabaran Andira. Tanpa sadar, suaranya ikut membumbung tinggi. “Nanti kalau Mamak jatuh sakit lagi, siapa yang repot? Siapa yang susah? Andira!" 

Seketika, ruangan itu dihantam kesunyian yang mencekam. Suara detik jam dinding mendadak terdengar begitu bising. Ibu bungkam, matanya menatap kosong ke sudut lantai. Andira pun terpaku, napasnya memburu. Hanya butuh jeda beberapa detik hingga rasa penyesalan yang teramat dalam menghantam dadanya. 

Dengan langkah pelan dan bahu meluruh, ia mendekati sang ibu. "Bukan begitu maksud Andira, Mak... Andira cuma takut. Kalau Mamak sakit lagi, masuk rumah sakit lagi, bagaimana?" 

Ibu tetap memalingkan wajah, menyembunyikan luka hatinya. Ada kalanya, bahasa kasih sayang Andira yang terbalut ketakutan hebat justru terdengar seperti bentakan di telinga Ibu. Padahal sesungguhnya yang berbicara adalah ketakutan. Ketakutan seorang anak yang sudah terlalu sering melihat ibunya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ketakutan melihat angka tekanan darah turun. Ketakutan mendengar alarm mesin hemodialisis berbunyi. Ketakutan kehilangan orang yang menjadi rumahnya sejak lahir. Namun rasa takut sering kali memiliki suara yang menyerupai kemarahan. Begitu pula Ibu. Saat sedang lelah menanggung sakit, ia kerap melampiaskan kekesalannya kepada orang yang paling dekat dengannya.

Di hari lain, keluhan Ibu mengalir ke telinga saudara-saudaranya—Kak Saras, Kak Wilda, dan Kak Maya. "Si Andira itu marah-marah terus. Sedikit-sedikit tidak boleh, sedikit-sedikit dilarang."

Andira hanya tersenyum hambar ketika mendengarnya. Ia tahu Ibu tidak sedang membencinya. Ia hanya sedang lelah menjadi orang sakit. Namun hati manusia bukan tembok batu. Ada kata-kata yang tetap tinggal, menempel diam-diam, lalu melukai dari dalam. Bukan karena ia membenci ibunya. Justru karena ia terlalu mencintainya. Sering sekali ia ingin berkata, "Mak... Andira juga capek."

Tetapi kalimat itu selalu gugur sebelum mencapai bibir. Bagaimana mungkin ia meminta dimengerti oleh seseorang yang setiap hari sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri?

Maka ia memilih diam. Mengusap air mata. Membasuh wajah. Lalu kembali keluar kamar seolah tak pernah terjadi apa-apa. Begitulah cinta bekerja dalam kehidupan yang nyata. Ia tidak selalu hadir dalam pelukan hangat atau kata-kata manis. Kadang ia menjelma menjadi larangan, omelan, pertengkaran kecil, dan menjadi air mata yang disembunyikan. Cinta juga tidak selalu manis, kerap kali melelahkan, menguras emosi, dan memancing rasa ingin menyerah. Namun setelah semua badai itu mereda, jiwa yang sama akan tetap kembali, duduk setia mendampingi sosok yang dicintainya.

Setiap kali jadwal cuci darah tiba, dunia Andira menjelma menjadi daftar kemelut yang harus ditata. Termos kecil, air hangat, biskuit, minyak urut, obat-obatan, kipas angin portabel, tensimeter, tourniquet, bantal besar, hingga ganjalan tangan untuk Ibu—semua harus diperiksa tanpa celah. 

"Obat?" 

"Ada." 

"Termos?" 

"Ada." 

"Biskuit... minyak... kipas?" 

"Ada semua." 

"Tensimeter?" 

Andira merogoh tas canvas-nya. "Ada." 

Ia menyerupai seorang prajurit yang sedang memeriksa kelengkapan senjatanya sebelum melangkah ke medan laga. Bedanya, musuh Andira bukanlah manusia, melainkan bayang-bayang kemungkinan buruk yang selalu mengintai. Kipas angin dibawa karena Ibu kerap diserang gerah mendadak. Tensimeter ia beli dengan tabungannya sendiri karena tekanan darah Ibu kerap anjlok drastis saat Hemofilik berlangsung. Rumah sakit memang menyediakannya, tetapi harus bergantian dengan puluhan pasien lain. Bagi Andira, ketidakpastian adalah musuh utama. Ia ingin bisa memeriksa kondisi ibunya detik itu juga. Ia ingin selalu siap. Mungkin terlalu siaga, namun begitulah cara ketakutan bekerja—Sekali seseorang pernah hampir kehilangan orang yang dicintainya, ia akan berusaha mengendalikan setiap hal kecil yang masih bisa ia kendalikan.

 Bahkan, cinta yang Andira berikan berupa ketelaten yang menjelma bentuk doa tak bersuara. Setiap pagi tanpa pernah absen, Andira merendam kaki ibunya yang kaku dengan air hangat. Jemari dan betis yang meliuk pasrah itu dipijatnya dengan penuh kesabaran. Dan benar adanya, ketulusan tak pernah mengkhianati hasil. Memasuki bulan kelima, sebuah keajaiban kecil bertandang. Otot-otot kaki Ibu mulai merespons. Walau belum mampu melangkah mandiri, Ibu kini sanggup berdiri tegak, menopang bobot tubuhnya sendiri saat disangga oleh Andira. 

"Pelan-pelan, Mak..." 

Ibu menggertakkan gigi, peluh membasahi dahinya. "Capek, Kak..." 

"Sebentar saja, Mak. Tahan." 

Lihat selengkapnya