Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #15

Sembilu di Antara Riuh Keluarga

Dua hari menjelang Hari Kemenangan, aroma mudik mulai membasahi udara. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti tepat di depan rumah. Dari dalamnya, Indira dan Almira melangkah keluar, menyapu lelah perjalanan panjang dari tanah rantau. Mata keduanya memancarkan rindu yang tak lagi sanggup disembunyikan.

"Assalamu'alaikum, Pak..."

"Wa'alaikumussalam..."

Di teras, Bapak telah berdiri menyambut, Bapak langsung memeluk kedua anaknya bergantian. Pelukan seorang ayah yang sederhana, tetapi mampu menggantikan ribuan kata rindu. Lelaki tua itu sudah setia menunggu sejak kemarin subuh masih mengikat langit, menantikan jelaga rindu pada kedua putrinya terbayar tuntas.

Tiga koper besar diturunkan dari bagasi. Salah satunya berisi pakaian Andira yang selama ini masih tertinggal di Riau—barang-barang yang bahkan tak sempat ia pikirkan lagi sejak hidupnya berubah menjadi rangkaian hari-hari menjaga ibunya.

Indira memandang ke dalam rumah. "Mamak mana, Pak?" bisik Indira pelan. Matanya menjangkau ruang tengah, mendapati Andira terbaring pasrah di kasur kecil tempat biasa ibu istirahat di ruang tengah. Tubuh gadis itu meringkuk, seolah sedang membayar lunas utang tidurnya.

"Mamak masih di kamar." sahut Bapak lembut seraya menyandarkan koper ke dinding.

"Kok belum bangun?"

Bapak menghela napas panjang. "Semalaman mamak enggak tidur. Katanya matanya susah sekali terpejam."

Indira mengangguk pelan. Ia sudah hafal.

"Besok cuci darah, ya, Pak?"

"Iya."

"Biasanya memang begitu. Racun yang menumpuk di tubuh bikin mamak gelisah. Tidurnya jadi enggak nyenyak."

Bapak kembali mengangkat koper. "Kasihan Andira. Dia juga baru tidur jam tiga... atau mungkin setengah empat. Bapak kurang ingat."

Indira menoleh lagi kepada saudara kembarnya. Tatapan itu mendadak berubah menjadi iba. Tak ada yang benar-benar mengetahui seperti apa malam-malam Andira selain ibunya sendiri.

Dinding ruang tengah menunjuk pukul setengah sepuluh pagi. Riuh suara di ruang tengah perlahan mengusik lelap Andira. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Ia terduduk, mengusap wajahnya yang lesu.

"Kapan nyampenya?" tanya Andira, suaranya berat dan parau khas orang baru terbangun.

"Baru saja sampai," jawab Indira. "Mamak tak tidur semalaman, An?"

"Iya, susah kali tidurnya. Minta dipijat kaki sama badannya sampai dekat jam empat subuh, baru bisa terpejam," sahut Andira. Keterangan Andira sedikit berbeda dari ingatan Bapak, sebab sejatinya, hanya Andira yang benar-benar paham bagaimana irama napas dan tangis sunyi Ibu di senyapnya malam.

"Berarti Mamak belum makan, ya?"

"Pagi ini belum. Kalau semalam sempat makan sedikit karena lapar."

"Makan apa?"

"Bubur sama roti. Untunglah semalam sempat kubuatkan bubur nasi."

"Kok cuma bubur?"

"Mamak lagi tak berselera. Cuma mau yang lembut-lembut," jelas Andira. Indira mengangguk paham; hatinya tersentuh melihat ketelatenan kembarannya.

Bapak menyela hangat, "Bapak sudah belikan lontong Belawan tadi pagi untuk sarapan. Makanlah dulu. Bapak beli lima bungkus, sekalian lontong kacang kesukaan Mamak."

Spontan mata Almira berbinar. "Wah, pas kali! Sudah rindu kali Mira makan lontong Belawan."

"Bapak sudah paham betul selera kalian," senyum Bapak mengembang.

Almira bergegas ke dapur menyiapkan piring. Di saat yang sama, Andira beranjak menuju kamar Ibu yang mulai menunjukkan pergerakan. Ia menarik kursi roda, lalu dengan penuh kelembutan membantu tubuh renta Ibu bangkit di tepi ranjang, merenggangkan otot-otot yang kaku.

Pintu kamar terbuka, Indira menyongsong masuk. Wajah Ibu yang sembab seketika memancarkan binar bahagia.

"Kapan sampai, Dek?" tanya Ibu, suaranya lirih namun hangat.

"Belum lama, Mak."

"Almira mana?"

"Tuh, di luar, lagi sibuk menyantap lontong," Indira menunjuk ke luar kamar dengan kerlingan mata.

"Yuk, Mak. Kita keluar sarapan. Sudah jam setengah sepuluh," ajak Indira.

Ibu mengangguk pasrah, merentangkan tangannya. Dengan sigap, Andira menopang tubuh Ibu, menuntun langkah-langkah kecil sang Ibu yang bergetar menuju kursi rodanya. Pergerakan itu terasa sebagai sebuah keajaiban kecil; setidaknya kini Ibu sudah mampu melangkah, jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu saat duduk pun ia tak berdaya.

Setelah Ibu bertengger di kursi roda, Indira mendorongnya pelan menuju ruang tengah. Sementara itu, Andira bergegas merapikan kasur tempat tidurnya semalam, lalu menyodorkan meja bulat di hadapan Ibu. Di atasnya, telah tersaji teh manis hangat rendah gula dan sebutir telur bebek rebus setengah matang—ramuan penuh kasih yang saban hari disiapkan Andira demi menjaga stamina sang Ibu.

bu memandang anak-anaknya bergantian.

"Kalian belum makan?"

"Belum, Mak."

"Baru mau."

Lihat selengkapnya