Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #16

Ketika Mereka Akhirnya Mengerti

Hari kedua Lebaran bergulir dalam hening yang asing bagi Andira. Ketika riuh gema takbir di luar sana perlahan surut menjadi hangatnya silaturahmi keluarga, Andira justru diberikan ruang untuk bernapas lega. Ia memilih tinggal di rumah, membiarkan tubuhnya yang letih untuk istirahat yang amat langka. Hari itu, fokus menjaga Ibu di ruang hemodialisa beralih ke tangan Indira dan Almira.

Meski demikian, ketenangan Andira sesekali terusik oleh dering telepon dari Indira. Ada saja yang ditanyakan—mulai dari cara mengecek tekanan darah, dan dosis obat. Andira memaklumi. Kedua saudaranya itu memang tidak pernah benar-benar hadir saat Ibu berjuang menukar darahnya di Riau. Bagi mereka, proses cuci darah hanyalah rutinitas sederhana: Ibu datang, tidur, lalu pulang.

"Kalau Mamak menggigil atau pusing, langsung cek tensi. Jangan tunggu lama."

"Kalau tensinya rendah, panggil perawat dulu. Jangan panik."

"Perhatikan terus wajahnya. Kalau sesak, mual, atau mulai gelisah, segera lapor."

Mereka tak pernah menyaksikan bagaimana tubuh tua itu mendadak bergetar hebat ditimpa dingin yang menggigit, atau bagaimana raut wajah Ibu mendadak pias diserang mual, pusing, dan rasa nyeri di pinggang yang tak terperi. Mereka belum paham bahwa di dalam ruangan steril itu, keluarga bukan sekadar penunggu, melainkan penjaga yang harus selalu pasang mata. Satu desah napas Ibu yang tertahan adalah isyarat untuk bersegera memanggil perawat.

Hari itu, di ruang hemodialisa, Indira baru benar-benar sadar. Bahwa yang dihadapi Andira selama bertahun-tahun bukan sekadar tubuh Ibu yang berpasrah, melainkan pertarungan sengit antara napas yang tersisa dan penyakit yang terus menagih ketahanan.

Baru dua jam proses hemodialisis berlangsung, ibu membuka mata perlahan. Wajahnya memucat.

"Indira..." suaranya lirih.

"Iya, Mak?"

"Indira... kepala Ibu pusing. Dingin sekali... panggilkan perawat, Nak," bisik Ibu lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi desis mesin.

"Mir! Panggil perawat cepat, aku jagain Mamak!" seru Indira panik.

Dengan tangan gemetar, ia meraih alat tensi dari dalam tas. Di dalamnya tersusun rapi alat tensi digital, obat-obatan, tisu, minyak angin, makanan ringan, hingga botol minum. Baru kali ini Indira sadar bahwa setiap benda di dalam tas itu mempunyai alasan. Bayangan pesan Andira melintas di kepalanya: Kalau Mamak mengeluh apa pun, jangan langsung panik. Cek tensinya dulu. Biasanya turun.

Tak berapa lama, seorang perawat melangkah mendekati ranjang. "Kenapa dengan Bu Rus, Mbak?" tanya perawat ramah.

"Ada apa, Mbak?"

"Mamak pusing sama menggigil, Sus."

"Sudah dicek tensinya?"

"Ini baru selesai." Layar alat tensi berbunyi pelan. 80/53.

"Wah, pantas saja pusing. Turunkan kepala Ibunya dari bantal ya, lalu posisikan bed-nya lebih rendah," arah perawat itu.

Indira terpaku. Ia memandangi tuas di bawah tempat tidur dengan bingung. "Cara nuruninnya bagaimana ya, Sus?"

Perawat itu tersenyum maklum, lalu sigap mengambil alih. Tangannya terlatih memutar tuas di ujung tempat tidur, merendahkan posisi kepala Ibu dan menaikkan bagian kaki. "Nuruninnya dari sini, Mbak. Ini... yang jaga bukan Mbak yang biasanya, ya?"

"Eh, iya Sus. Saya kembarannya," jawab Indira canggung.

"Pantas saja daritadi diam saja, tidak menyapa saya. Kalau Mbak yang biasanya kan sudah paham betul," sahut perawat itu sembari menyuntikkan obat ke dalam selang infus Ibu. "Posisi begini supaya aliran darah dan oksigen bisa lancar lagi ke otak. Biar pusingnya berkurang."

Indira hanya bisa meringis pelan. "Iya, Sus. Baru kali ini saya gantian jagain Mamak cuci darah."

"Baguslah, bergantian," balas perawat itu hangat. "Biar Mbak Andira punya waktu buat napas dan istirahat bentar."

"Iya, Sus. Terima kasih."

"Nanti setengah jam lagi cek tensinya lagi ya. Kalau sudah di atas 100, posisinya bisa dikembalikan seperti semula. Tolong diperhatikan terus Bu Rus-nya."

"Baik, Sus," jawab Indira dan Almira serempak.

Kedua kakak beradik itu duduk di kursi plastik yang mengapit ranjang. Dalam keheningan yang perlahan merayap, mereka menatap paras tua Ibu yang makin memucat ditelan usia. Wajah itu kini berangsur tenang, matanya terpejam kembali memasuki lelap yang lelah.

Suasana ruang hemodialisa di hari kedua Lebaran terasa lebih lengang. Banyak pasien yang memilih traveling HD demi bisa mudik ke kampung halaman. Namun, di dalam ruangan bertembok pucat ini, waktu seolah berhenti. Di luar sana, gema sukacita Hari Raya bertebaran di mana-mana, tetapi di sini, dunia hanya diisi oleh ritme yang monoton: dengung mesin yang berputar memurnikan darah, langkah-langkah tergesa para perawat, serta desah napas berat para jiwa yang sedang menawar usia.

Hari raya ternyata tidak akan bisa menghentikan penyakit. Yang berhenti hanyalah sebagian orang untuk berkumpul bersama keluarga. Indira memperhatikan para perawat yang tetap bekerja dengan senyum di wajah mereka. Mungkin pagi tadi mereka belum sempat bersalaman dengan orang tua. Mungkin anak-anak mereka masih menunggu di rumah dengan baju Lebaran. Namun di ruangan itu mereka tetap melayani setiap pasien seolah tak ada yang lebih penting selain memastikan semuanya pulang dengan selamat. Dalam hati Indira tumbuh rasa hormat yang begitu besar. Betapa mulianya pekerjaan yang sering kali luput dihargai.

Setengah jam berlalu. Ibu terbangun dari tidurnya, tepat saat Indira dan Almira baru saja terkantuk-kantuk di kursi plastik.

"Indira... ambilkan Mamak minum," panggil Ibu, parau dan pelan.

Indira tersentak. "Iya, Mak? Mau minum?"

"Iya... yang hangat. Sedikit saja."

Dengan penuh hati-hati, Indira mencampur air panas dan dingin, lalu menyelipkan sedotan. Ibu menyedotnya perlahan.

Lihat selengkapnya