Tiga bulan setelah kenangan indah terukir manis bersama keluarga besar, roda kehidupan Andira kembali berputar pada poros rutinitas yang menjemukan, membosankan, dan terasa kian hampa. Hari-harinya seolah terbelenggu dalam siklus yang sama, di mana matanya hanya terus menyapa keheningan dinding rumah dan dinginnya tembok rumah sakit sebagai pemandangan yang paling setia menemani kesendiriannya.
Di antara jeda riuhnya dunia luar, telepon genggam Ibu sesekali berdering. Di layar, nama Indira terpampang. Nyaris setiap hari—jika rimba kesibukan di perantauan tidak sepenuhnya membendung niatnya—suara hangat Indira akan hadir menembus jarak puluhan kilometer. Ia akan bertanya tentang apa saja: apakah Ibu sudah makan, bagaimana warna urine Ibu hari ini, hingga keluh kesah pekerjaan kantor yang menguras habis isi kepalanya. Berbeda dengan Almira, si bungsu yang seolah tenggelam dalam poros dunianya sendiri—tipikal anak paling muda yang terlalu sibuk mengejar mimpi dan kesenangannya. Bukan berarti ia tak sayang, hanya saja cara mencintainya berbeda—terlalu pendiam hingga sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian.
Namun, meski jarak memisahkan dan raga jarang berjumpa, keterikatan batin dua saudara kembar itu tak pernah benar-benar terputus. Kasih sayang Andira dan Indira bekerja secara diam-diam, saling menopang dalam senyap, terutama ketika badai kesehatan Ibu kembali mengetuk pintu rumah mereka tanpa permisi.
Suatu pagi, Andira mendapati perubahan yang menggidikkan pada tubuh ibunya. Perut Ibu yang biasanya lunak mendadak membesar, membengkak, dan saat diusap terasa sekeras batu hingga pakaian longgar yang biasa dikenakan mulai terasa sempit. Rasa cemas seketika menjalar di tengkuk Andira.
"Jangan-jangan karena seminggu belum buang air besar," gumamnya sambil mengusap pelan perut ibu.
Saat jadwal hemodialisis tiba, Andira berkonsultasi kepada dokter yang sedang melakukan visite di ruang HD.
“Dok, Mamak saya, sudah tidak buang air besar dengan teratur selama seminggu. Perutnya juga membesar.”
Dengan langkah tenang namun sigap, dokter menempelkan membran dingin stetoskopnya ke beberapa titik di perut Ibu, lalu menekan lembut bagian kanan dan kirinya. “Kalau saya tekan kayak gini sakit tidak buk?”
Ibu menggeleng pelan. "Tidak, Dok."
Dokter kembali mendengarkan suara di dalam perut beberapa saat. Wajahnya berubah lebih serius. "Ini bukan karena tidak buang air besar."
Jantung Andira serasa berhenti berdetak. "Lalu kenapa, Dok?"
"Saya mendengar ada cairan cukup banyak di rongga perut. Kemungkinan besar ibu mengalami asites."
"Asites dok?"
"Iya. Penumpukan cairan di dalam rongga perut. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya gangguan fungsi hati atau masalah pada pembuluh darah di area perut. Untuk memastikan penyebabnya, ibu perlu diperiksa oleh dokter Gastroenterologi-Hepatologi."
"Bagaimana pengobatannya, Dok?"
"Kemungkinan besar cairannya harus dikeluarkan melalui tindakan penyedotan. Untuk itu ibu perlu dirawat inap."
Kata rawat inap kembali menjatuhkan beban yang tidak ringan ke pundak Andira. Ia mengangguk pelan, tetapi pikirannya sudah berlari ke mana-mana. Siapa yang akan menjaganya?
Ia tahu betul seperti apa hari-hari ketika ibu dirawat di rumah sakit. Mengurus administrasi, mengambil obat, menemui dokter, mengurus laboratorium, hingga berjaga sepanjang malam. Mustahil dilakukan sendirian. Saat ia harus meninggalkan kamar beberapa menit saja, tetap harus ada seseorang yang menemani ibu.
Ketika Andira mencoba mengetuk pintu bantuan ke anggota keluarga lain, jawaban yang ia dapatkan hanyalah dinding tebal penolakan. Kak Wilda langsung menggeleng—alasan klasik yang sama seperti bulan-bulan lalu kembali diucapkannya. Kak Saras pun tidak memiliki celah untuk mengambil cuti kerja; jatah liburnya sudah ludes terpakai saat mendampingi Ibu koma berbulan-bulan yang lalu. Berharap pada keponakan-keponakan? Mereka semua sedang tenggelam dalam tumpukan buku, mempersiapkan ujian tengah semester.
Di tengah ruangan rumah sakit yang berbau antiseptik dan bising oleh deru mesin cuci darah, Andira memutar otak. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Sempat terlintas pikiran liar di benaknya: Apakah aku harus memaksakan diri merawat Ibu sendirian lagi, seperti yang dulu sering kulakukan sewaktu kami masih tinggal di Riau?
Namun tubuhnya sendiri sudah berada di ambang batas. Dalam keputusasaan itu, jemari Andira yang gemetar meraih ponsel. Ia menelepon Indira. Hanya kepada kembarannya itulah ia bisa menumpahkan seluruh kerapuhan tanpa takut dihakimi.
"Dir..." suara Andira bergetar begitu sambungan terhubung. Ia menceritakan kondisi perut Ibu dan keputusan dokter yang mengharuskan rawat inap.
Tanpa jeda, tanpa berbelit-belit dengan banyak alasan, Indira langsung memotong kalimat kembarannya. "Aku pulang ke Medan sekarang. Aku bantu jaga Ibu."
Andira tercekat. "Tapi... bagaimana dengan Kerjaan? tidak apa-apa kalau kau tinggalkan mendadak?"
"Kerjaan bisa diselesaikan secara praktis dari mana saja, yang penting aku bawa laptop. Bang Deri pasti memberi izin. Kakak tenang ya, aku urus tiket bus sekarang."
Sebelum berangkat, Indira sempat membujuk Almira agar ikut pulang ke rumah mendampingi Ibu.
"Mira, ikut pulang yuk. Ibu mau dirawat."
Jawaban adik bungsu itu tetap sama. "Maaf, Kak. Kerjaan lagi banyak banget. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin kantor."
Indira tidak memaksa. "Ya sudah."
Hari itu juga, beberapa jam setelah menerima telepon dari Andira, Indira berkemas. Sore harinya ia telah duduk di kursi bus antarkota menuju Medan. Ratusan kilometer ditempuh hanya karena satu alasan sederhana. Ibunya membutuhkan anaknya.
Sebelum hari rawat inap tiba, Andira kembali bertanya kepada perawat Abraham di ruang HD mengenai prosedur yang harus dilakukan.
"Kalau lewat poliklinik bagaimana, Bang?"
Perawat menjelaskan dengan sabar. "Bisa saja Kak. Tapi prosesnya biasanya lebih panjang. Harus antre pemeriksaan dulu."
"Kalau lewat IGD?"
"Biasanya lebih cepat. Ibu bisa langsung masuk ruang rawat inap, nanti dokter penyakit dalam akan berkonsultasi dengan dokter Gastroenterologi-Hepatologi untuk menjadwalkan tindakan penyedotan cairan."
Andira mengangguk. Dalam kondisi ibu yang semakin sesak karena cairan di perutnya, waktu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun.