Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #18

Luruh Sebelum Senja

Sejak pertengkaran hebat yang melukai hati itu, Grafik kesehatannya menurun tajam, seperti batu yang dilemparkan ke dasar sumur—jatuh tanpa suara, tetapi terus meluncur semakin dalam. Bukan hanya raga tua itu yang kian rapuh digerogoti sakit, melainkan pendar jiwanya pun redup pelan-pelan. Padahal, belum lama lalu ada riak harapan yang membuncah; Ibu sudah mulai mampu menegakkan punggungnya, berdiri tegak ketika dipapah, bahkan mampu menyapu lantai ruang tengah dengan beberapa langkah perlahan dari balik pintu kamarnya.

Namun, seolah dalam satu hentakan takdir, seluruh daya yang sempat terkumpul itu sirna tanpa sisa. Otot-otot kakinya kembali melumpuh, lungsur tak bertulang. Jangankan melangkah, sekadar menyangga bobot tubuhnya sendiri saat didudukkan saja, keluhan letih sudah meluncur pasrah dari bibirnya yang pucat.

"Mamak capek, Dir..."

Andira yang setiap hari berada di sisi Ibu hanya bisa memandang dengan perasaan yang semakin sulit ia beri nama. Ia tidak tahu apakah yang sedang dilihatnya merupakan kelelahan biasa, perkembangan penyakit, atau sesuatu yang jauh lebih besar yang belum mereka pahami. Melihat piring makanan Ibu yang selalu utuh adalah bentuk siksaan perlahan baginya.

“Makan sedikit ya, Mak... Sepotong saja, demi obatnya,” bisik Andira, suaranya pelan, sarat permohonan.

Ibu hanya menggeleng lunak. Wajahnya dipalingkan ke dinding. Mulutnya terkunci rapat, seolah kata-kata telah menjadi beban yang terlalu berat untuk diucapkan.

“Kenapa, Mak? Mamak lagi mau makanan apa? Katakan saja, nanti Andira carikan sampai dapat.”

“Tidak...” suara Ibu nyaris berupa bisikan yang pecah. “Cuma mau bubur... sedikit saja.”

Andira sigap menuruti. Namun, seperti yang sudah-sudah, baru tiga suapan kecil menepi di lidah, Ibu sudah memejamkan mata erat-erat dan menolak jemari Andira. “Sudah... kenyang. Mamak mual.”

Dampak dari penolakan raga terhadap nutrisi itu langsung berbuah petaka setiap kali jadwal cuci darah tiba. Proses hemodialisis yang menyedot sisa-sisa tenaga selalu diwarnai drama kepedihan. Ibu kerap terkulai, mengeluh pusing yang berkunang-kunang dan mual yang memutar isi perut.

“Kenapa dengan Bu Rus hari ini? Kelihatan lemas sekali tidak seperti biasanya,” tanya Perawat Siska seraya menekan tombol mesin dialisis, menurunkan laju penarikan cairan agar tekanan darah Ibu tidak merosot drastis.

“Iya, Kak... Mamak sudah beberapa hari ini susah makan. Jadi setiap cuci darah, badannya langsung drop,” aduh Andira dengan tatapan nanar.

Perawat Siska menghela napas halus, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ibu dengan nada seramah mungkin. “Ayo dong, Bu Rus... Dimakan nasinya sedikit-sedikit supaya kuat. Kalau badan Ibu selemas ini, penarikan racunnya tidak bisa optimal. Lihat pasien di sebelah itu, lahap sekali makan. Masa Bu Rus kalah?”

Ibu hanya menggeleng lemah. Matanya terpejam, tak berniat memberi respons. Jangankan desakan perawat, bujukan Andira yang sabar maupun teguran tegas dari Kak Wilda tak lagi mempan. Semua orang seolah sudah angkat tangan. Ibu seperti bersikeras membiarkan tubuhnya meredup secara sukarela. Andira bahkan sempat membeli berbagai vitamin peningkat nafsu makan, namun semuanya berakhir menjadi pajangan bisu di atas meja.

Tak berhenti di situ, temperamen Ibu berubah drastis. Ia menjadi sangat sensitif, mudah tersulut amarah hanya karena hal-hal kecil yang semestinya tak beralasan. Setiap kali kontrol rutin ke rumah sakit, lorong-lorong dingin itu sering menjadi saksi cekcok kecil antara Ibu dan Kak Wilda. Ibu akan berteriak kesakitan, memarahi Kak Wilda hanya karena tubuhnya digeser sedikit saat hendak dipindahkan ke kursi roda.

“Mak, kenapa harus berteriak-teriak begitu? Mamak tenang saja kalau kami angkat. Justru kalau Mamak makin banyak memberontak, makin sulit kami memindahkannya, Mak,” ujar Kak Wilda menahan napas, menetralkan emosinya yang nyaris pecah.

“Tapi pelan-pelan! Sakit semua badanku ini!” jerit Ibu merajak.

“Ini sudah sangat pelan, Mak. Tapi kalau Mamak terus menghentak, nanti kita malah jatuh berdua.”

Ibu melirik tajam, matanya menyipit gusar. “Andira mana?! Kenapa cuma melihat saja, tidak ikut memegangi?!”

“Andira di sini, Mak,” sahut Andira lekas, menunjukkan kedua tangannya yang sarat beban. "Ini tangan Andira penuh, Mak. Lagi pegang tas, bantal, sama tumbler Kak Wilda."

Andira hanya sanggup menggelengkan kepala dalam kepedihan yang tersembunyi. Perilaku Ibu kian rewel, menguras tenggat kesabaran hingga batas teratas. Namun, di balik rasa lelah yang menggerogoti jiwanya selama dua puluh empat jam menjaga sang ibu, ada dentang kecemasan yang lebih gelap: Andira merasakan ada sesuatu yang janggal. Sebuah firasat asing yang mengendap pelan.

Keanehan itu berlipat ganda. Jam tidur Ibu melonjak tak wajar. Biasanya, usai sarapan dan mandi pagi, Ibu akan duduk menatap layar televisi hingga menjelang siang. Kini, usai menyuap beberapa sendok makanan, Ibu langsung tertidur pulas. Saat proses cuci darah berlangsung pun, Ibu lebih banyak melayang dalam tidur panjang. Bagi orang awam, mungkin itu dikira istirahat biasa. Tapi bagi Andira, tidur Ibu yang terlampau dalam adalah tanda bahaya. Ibu makin sering tergeletak pasrah di atas kasur ketimbang duduk. Berulang kali Andira membisikkan pesan dokter jantung agar Ibu rajin bergerak melatih ototnya, namun ucapan itu hanya lewat seperti angin berlalu.

Bahkan daya pikir Ibu mulai menunjukkan retakan. Kesadarannya melambat, cara bicaranya kerap tak bertaut dengan topik pembahasan. Suatu sore ketika Indira menelpon dari Riau, respons Ibu terasa sangat jauh.

“Mamak sudah makan?” tanya Indira dari balik speaker ponsel.

Ibu tak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah layar HP yang menyala.

“Mamak... makan pakai lauk apa tadi?” ulang Indira lagi.

Ibu tetap bergeming, tatapannya hampa menembus dinding.

“Mak, itu Indira bertanya,” bisik Andira seraya menyenggol pelan bahu ibunya.

Ibu menoleh lambat. Wajahnya datar, seolah otaknya membutuhkan waktu yang teramat lama hanya untuk memproses untaian kata sederhana itu.

“Ditanya Indira tuh, Mak... Mamak sudah makan belum?”

“Udah...” jawab Ibu amat pelan, hampir terkikis oleh desir angin kipas angin.

Pada akhirnya, Indira hanya bisa bercerita panjang lebar secara searah dari seberang telepon, sementara Ibu hanya diam membisu tanpa bereaksi. Ketika sambungan dipindahkan ke Andira, nada khawatir Indira tak lagi bisa disembunyikan.

“An, Mamak kenapa? Kok jawabnya singkat sekali? Tatapannya seperti tidak menyatu dengan kita.”

“Aku juga bingung... Kadang kalau diajak bicara langsung pun responnya lambat sekali seperti orang linglung.”

“Jadwal kontrol ke dokter jantung kapan lagi?”

“Masih dua minggu lagi.”

“Nanti tanyakan ke dokternya ya, An. Apakah ini efek samping dari penyempitan pembuluh darah atau kondisi jantungnya yang makin menurun.”

Andira berdehem berat, menahan gumpalan sesak di tenggorokan. “Iya, nanti kutanyakan. Tapi... aku sering menangkap mata Mamak kayak kosong gitu. Seperti jiwanya sedang tidak berada di ruangan ini.”

“Perhatikan terus sikapnya, An. Jangan biarkan Mamak terlalu banyak melamun.”

Kekhawatiran itu terus menumpuk, menggunung menjadi beban yang meremukkan dada. Otot-otot Ibu kian meloyo; jemarinya kerap tak sanggup menggenggam sendok hingga terjatuh ke lantai. Posisi duduknya kian membungkuk, tubuhnya kerap merosot ke bawah seolah tulang belakangnya tak lagi sanggup menopang. Saat Andira hendak memindahkan raga tua itu dari kasur ke kursi roda, Ibu benar-benar menyerahkan seluruh bobot tubuhnya—pasrah sepenuhnya tanpa ada usaha sedikit pun untuk menyangga diri.

“Mak... Andira berat sekali kalau mengangkat Mamak sepasrah ini. Coba kaki Mamak ikut menahan sedikit, bisa?”

“Tidak bisa, An... Kakiku lemas sekali. Seperti tidak ada tulang di dalamnya.”

Andira menghela napas panjang, sebuah desahan resah yang tertahan di udara dingin. “Mungkin karena jarang digerakkan, Mak. Kata dokter jantung, Mamak harus sering melatih kaki sendiri.”

“Susah, kak... Berat sekali. Sekadar mengangkat tangan dan kaki saja susah.”

Kalimat  menyayat dari Ibu terus berputar di kepala Andira. Mengapa kondisi Ibu terjun bebas sebegitu cepat? Padahal beberapa pekan lalu semuanya sempat stabil.

Kecemasan itu makin memuncak ketika sistem pencernaan Ibu mulai bermasalah. Ibu sangat jarang buang air besar. Beredar ketakutan hebat di benak Andira: Apakah cairan asites itu kembali menumpuk di perut Ibu? Apakah racun ginjalnya telah merayap ke otak? Atau penyakit jantungnya yang diam-diam sedang melancarkan serangan pemungkas?

Segala akumulasi keanehan itu akhirnya meledak pada suatu malam yang mencekam, malam yang menguji batas ketahanan daya gaib Andira.

Mendekati tengah malam, Ibu terbangun sembari meringis meratapi seluruh tubuhnya yang terasa terbakar. “Panas, An! Badan Mamak seperti disiram air mendidih!”

Panik menguasai Andira. Ibu meminta dikompres air es. Dengan jemari gemetar, Andira memeras handuk basah dan meletakkannya di dahi serta lipatan tubuh ibunya. Saat termometer diselipkan, angkanya melonjak menyentuh 39 derajat Celsius. Setelah sebutir parasetamol ditelan dan demam mulai reda sejam kemudian, Ibu justru mengeluh tak bisa memejamkan mata. Dadanya bertabuh kencang, memukul-mukul dari dalam.

“Sesak, An... Dada Mamak sakit sekali!”

Andira dengan sigap menumpuk beberapa bantal, menaikkan posisi kepala dan menyangga punggung Ibu agar agak terduduk. Namun keluhan itu tak jua surut.

Andira melirik jam dinding. Pukul satu dini hari. Membawa Ibu ke IGD pada jam biadab seperti ini adalah perkara rumit; tidak ada transportasi yang bisa diakses dengan cepat, dan kondisi luar rumah sakit sangat sunyi.

“Mak, cobalah pejamkan mata. Tidurlah... Besok pagi kita harus cuci darah. Kalau Mamak tidak tidur, Andira juga tidak bisa istirahat.”

“Tidak... bisa... tidur,” bisik Ibu lirih. Pelafalan katatnya kian cedal dan samar, memaksa Andira menempelkan telinganya erat-erat ke bibir Ibu.

Kantuk berat menindih kelopak mata Andira, namun jarum jam yang berdetak menuju pukul tiga pagi tak memberi ampun. Kelakuan Ibu malam ini melemparkan ingatan Andira pada kenangan kelam saat mereka masih di Riau dulu—saat Ibu mengalami delirium dan tak tidur berhari-hari. Tuhan, haruskah episode mengerikan itu berulang kembali?

Andira mengusap wajahnya, mencoba mengusir prasangka buruk. Ia meraih ponselnya, memutar lantunan merdu ayat suci Al-Qur'an dengan harapan nada ilahi itu sanggup menenangkan jiwa ibunya yang gelisah.

Ajaib, alunan ayat suci itu perlahan melunakkan ketegangan di wajah Ibu. Matanya perlahan terpejam, napasnya melambat. Andira menghembuskan napas lega yang teramat sangat. Mengingat matanya sendiri sudah terasa seperti ditusuk-tusuk rasa kantuk, Andira merebahkan tubuhnya tepat di lantai samping ranjang Ibu, agar ia bisa sigap jika terjadi sesuatu.

Namun, baru saja Andira merasa melayang dalam tidurnya selama setengah jam, sebuah jeritan histeris memecah kesunyian malam.

“ANDIRAAA!”

Andira terperanjat bangun, jantungnya melompat ke tenggorokan. “Kenapa, Mak?! Kenapa?!”

Mata Ibu melotot menatap sudut ruangan yang gelap. “Aku tidak bisa tidur! Ada bayangan hitam besar di sana... seram sekali!”

Deg. Sensasi dingin menyergap tengkuk Andira. Dejavu. Halusinasi visual ini adalah momok yang sama persis saat kondisi fatal Ibu memuncak di Riau.

“Tidak ada apa-apa, Mak... Tidak ada bayangan hitam. Itu hanya perasaan Mamak saja. Ayo, pejamkan mata lagi.”

“Tidak bisa! Sesak! Badanku sakit semua! Dipejamkan pun matanya tetap terang!”

Siklus siksaan itu berulang. Setiap kali tertidur sepuluh menit, Ibu akan terbangun lagi, menjerit memanggil nama Andira. Terus seperti itu hingga azan Subuh berkumandang, Ibu tertidur lelap. Andira ikut terkulai di sampingnya, benar-benar habis tenaga.

Ketenangan itu hanya bertahan tiga jam. Pukul delapan pagi, Ibu kembali terbangun dengan jeritan yang menembus dada.

“Dadaku sesak sekali! Sudah tidak tertampung napas ini!”

Kesadaran Andira terhentak paksa. Tanpa berpikir panjang, ia menelepon Kak Wilda. Dalam kurun waktu singkat, mereka melarikan tubuh Ibu yang lemas dan megap-megap itu menuju IGD—ruangan berbau karbol yang sudah seperti rumah kedua bagi mereka.

Birokrasi rumah sakit berjalan otomatis di tangan Andira yang sudah terbiasa. Namun di balik kecakapannya mengurus administrasi, jiwanya merintih: Mengapa harus seperti ini lagi, Ya Allah?

Tangan Ibu kembali ditancapi jarum infus, selang oksigen dilingkarkan di hidung, dan monitor jantung menempel di dadanya. Bunyi bip-bip alat medis kembali mendominasi pendengaran.

“Jadwal cuci darahnya kapan ya, Mbak?” tanya perawat jaga.

“Hari ini, Sus. Harusnya jadwal siang.”

“Kalau begitu, kita percepat. Ibu dipindahkan ke ruang hemodialisis dulu, baru nanti setelah selesai dicarikan kamar rawat inap.”

Di ruang cuci darah, sesak napas Ibu agak teratasi berkat suplai oksigen murni. Perawat sempat menawarkan pemasangan selang NGT (selang makan) melalui hidung karena Ibu belum kemasukan kalori sejak semalam. Indira yang mengontrol via telepon setuju, namun Ibu menolak keras sambil menangis karena takut sakit. Pemasangan dibatalkan, meninggalkan pesan mewanti-wanti dari perawat agar ekstra hati-hati saat menyuapi Ibu agar makanan tidak masuk ke paru-paru.

Hari itu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Saat kabar kondisi Ibu disampaikan ke Riau, Indira, Almira, dan Bang Deri secara serempak memutuskan untuk langsung bertolak ke Medan detik itu juga. Mendengar kabar itu, pertahanan mental Andira sedikit luluh—setidaknya, ia tidak harus memikul bayang-bayang kematian ini sendirian lagi.

Selama proses pencucian darah hingga dipindahkan ke ruang rawat inap kelas satu, Ibu lebih banyak memejamkan mata. Dadanya naik-turun cepat, bertarung mengolah udara.

Dokter penanggung jawab datang melakukan visite. Setelah memeriksa dada Ibu dengan stetoskop, dokter menjelaskan pelan, “Penyempitan pembuluh darah jantungnya memang memicu penumpukan cairan yang membuat sesak. Tindakan cuci darah ini membantu mengurangi bebannya, dan kami akan menyesuaikan dosis obatnya.”

Setelah dokter berlalu, Andira duduk di sisi brankar. Lamat-lamat ditatapnya garis-garis wajah sang ibu. Wajah itu teramat lelah, seolah seluruh daya hidupnya telah dikuras habis hingga titik darah terakhir. Dada Andira terasa ditusuk sembilu. Dialah saksi hidup betapa perkasa wanita ini dahulu membesarkan anak-anaknya, betapa gigih ia mengorbankan segalanya demi keluarga, dan betapa sangat ia menderita dalam cengkeraman penyakit ini.

Sebuah bisikan asing yang bisu menyinggahi relung hati Andira: Apakah egois jika aku terus berdoa meminta Tuhan memperpanjang umurnya, sementara setiap detik hidupnya kini adalah siksaan yang teramat sengsara? Jika Tuhan memang ingin memanggilnya... apakah aku sanggup ikhlas agar Ibu tak perlu merasa sakit lagi?

Lihat selengkapnya