Sekoci Terakhir

S_hayati
Chapter #19

[TAMAT] Sunyi yang Tertinggal di Pelataran

Kabar duka itu terbang lebih cepat dari cahaya yang menyusup masuk ke dalam sela jendela rumah. Bang Deri telah lebih dulu membagikan berita kepergian Ibu kepada Bapak dan Kak Wilda. Maka, ketika deru mesin ambulans akhirnya berhenti di depan rumah, takdir pahit itu berdiri kaku menyambut kami. Di pelataran, teratak hijau milik Serikat Tolong Menolong (STM) masjid telah berdiri tegak—sebuah simbol lekas bahwa duka resmi mengetuk pintu. Para tetangga berkumpul dalam kesenyapan yang canggung, sibuk mengulurkan tangan untuk membantu.

Andira melangkah keluar dari mobil ambulance. Kakinya tremor, memijak bumi yang mendadak terasa begitu asing. Langkahnya dipaksa tegak, meski separuh jiwanya meronta runtuh. Beberapa pasang tangan cekatan memapah dan membawa tubuh Ibu masuk ke dalam rumah.

"Pelan-pelan... jangan sampai miring," ujar salah seorang tetangga.

Mobil Bang Deri dan Indira menyusul, menyisakan derak kerikil yang seperti meratapi ketibaan mereka.

Di dalam ruang tengah, tubuh Ibu telah dibaringkan di atas kasur kapuk yang dibalut kain panjang. Udara ruangan seketika pekat oleh aroma duka dan tangis yang menyeruak dari mata-mata sembab keluarga. Kak Wilda meraba dinginnya wajah Ibu, lalu runtuh dalam pelukan yang teramat erat. Begitu pula Kak Maya, suaranya parau, terkoyak oleh keheningan yang menyesakkan.

"Mak... maafin Maya, Mak..." lirih Kak Maya. Suara itu tercekik di pangkal tenggorokan, terdistorsi oleh sesak di dada yang tak tertanggungkan.

Kesedihan itu menular seperti wabah. Adik-adik Ibu bergantian merengkuh jasad yang kini tak lagi berdenyut. Tangis pecah di setiap sudut ruangan, memantul pada dinding-dinding yang biasa merekam gelak tawa keluarga. Bahkan Bang Deri—lelaki yang sepanjang perjalanan dari rumah sakit mencoba menjadi karang yang tangguh—akhirnya runtuh juga. Pertahanannya retak. Langkah kakinya lambat dan berat menyusuri lantai menuju pembaringan Ibu.

Ia berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan tubuh wanita yang teramat dicintainya. Dipeluknya jasad itu, seolah hendak menyalurkan sisa kehangatan tubuhnya sendiri.

"Mak!" panggil Bang Deri. Suaranya pecah, bergetar, dan parau. "Mamak kenapa pergi cepat kali? Deri belum ngasih apa-apa untuk Mamak. Deri belum sempat bikin Mamak bahagia... Maafin Deri ya, Mak." Suara tangis mereka menjalar ke seluruh ruangan seperti riak yang membesar.

Deri mendekap tubuh ibu kian erat—sesekat pelukan terakhir yang paling tak ingin ia lepaskan sepanjang hidupnya. “Mamak udah engga sakit lagi sekarang kan Mak.”

Suara tangis mereka menjalar ke seluruh ruangan seperti riak yang membesar. Dinding dada orang-orang di ruangan itu seakan runtuh mendengar ratapan Bang Deri. Di sudut lain, Indira terisak di bahu Kak Wilda, sementara Almira mencari perlindungan di dekapan Kak Maya. Hanya Kak Rani, si anak sulung, yang kehilangannya menjelma menjadi suara isak tangis dari balik pengeras suara telepon seluler. Bentangan samudra dan tiadanya biaya memenjarakannya dalam jarak, memutus haknya untuk mencium kening Ibu untuk terakhir kali.

Sementara itu, Di sudut ruangan, Andira hanya duduk mematung. Tangannya dingin. Tatapannya kosong. Segalanya terasa seperti mimpi yang belum selesai. Selama hampir tiga tahun, hidupnya selalu dimulai dan diakhiri bersama ibu. Bangun subuh untuk memasak. Memandikan ibu. Mengganti popok. Mengukur tekanan darah. Menyiapkan obat. Mendorong kursi roda. Menemani cuci darah. Menunggu ibu tertidur. Rutinitas itu telah menjadi napas hidupnya. Kini, untuk pertama kalinya, napas itu berhenti. Akalnya belum percaya. Otaknya terlambat mencerna kenyataan, namun hatinya bergerak jauh lebih cepat—Tetapi hatinya telah lebih dahulu tahu bahwa mulai hari ini ia benar-benar menjadi anak yang kehilangan ibu.

Kenyataan baru benar-benar menghantamnya saat prosesi memandikan jenazah. Di atas pangkuannya, bersama kelima saudarinya, tubuh Ibu dibaringkan. Tubuh yang saban hari ia basuh dan rawat itu kini begitu dingin, kaku, dan membisu. Tak ada lagi helaan napas lembut atau usaha Ibu untuk sekadar mengulas senyum. Perpisahan ini nyata. Sungguh nyata.

Tubuh Ibu kemudian dibalut kain kafan putih, disiram wewangian kayu cendana dan kapur barus. Semua prosesi berjalan begitu cepat, seolah tak memberi jeda sedikit pun bagi Andira untuk sekadar menata napas dukanya. Hingga akhirnya, petuah pelan terdengar di telinga mereka.

"Cium Ibunya untuk terakhir kali ya. Usahakan air matanya jangan sampai menetes ke kain kafan."

Andira menyergap napasnya, menahan bendungan di pelupuk mata yang nyaris pecah. Ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut di kening Ibu. Wajah Ibu bersih, tenang, dan seolah memancarkan pendar cahaya yang teduh—seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan kini tertidur lelap tanpa beban sakit lagi. Ada secuil lega yang menyelusup di dada Andira; Ibunya pergi dengan cara yang sangat indah.

Lihat selengkapnya