SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #1

TERLALU IMUT UNTUK DIPAJANG 1

Hari ini adalah hari terakhir batas submit karya patung untuk pameran seni rupa di kampus. Dengan hati riang sambil duduk di samping pak supir mobil pindahan Parkitmove, Nenden menyanyikan lagu naik delman.

“Tak tik tak tik tak tik tuk, suara sepatu kuda!” Nenden menepuk daun pintu mobil dengan keras hingga pak supir di pinggirnya terperanjat. 

Apa aku sedang mengangkut orang gila? Batin pak supir yang sedari tadi mengelap dahinya dengan handuk kecil lusuh. Ia menoleh ke arah Nenden yang balik tersenyum menyeringai dengan rambut keriting gondrong tertiup angin. “Eheheheh.” Ia menunduk minta maaf.

Namun, keceriaannya tidak berlangsung lama. Hari itu semesta sepertinya berkonferensi untuk membuatnya berduka. Ini baru mukaddimahnya.

“Maaf bang, patung abang gak masuk kualifikasi panitia pameran.” Tarikan garis senyum wajah Ramzoni alias Joni yang kurang ikhlas malah menunjukkan muka memelas.

Nenden Masrizki, mahasiswa abadi seni rupa, seniornya Joni melirik lagi ke arah patung hasil kreasinya. Ia sudah keluar modal banyak untuk membuat patung kucing setinggi satu setengah meter. Kalau gagal dipajang di pameran berarti ia tidak akan dapat uang lelah apalagi kesempatan patungnya untuk dilelang.

“Lah tapi kan aku udah buat sesuai tema, patung animal modern!” Ia menunjukkan poster yang sudah lecek dan tulisannya terhapus sebagian oleh minyak bekas alas gorengan.

“Bang, animal monster, bukan animal modern.” Joni juga menunjukkan poster yang sama, yang lebih rapi dan jelas terbaca tulisannya meski sudah terlipat dalam buku agenda tahunan.

Nenden membelalakkan matanya lebar-lebar memeriksa tulisan di poster versi Joni. Membandingkannya dengan poster pertama miliknya. Ia mengigit-gigit bibir dengan penuh perasaan dan mengedip-ngedip mata tanda tak percaya. Kenapa matanya tega berkhianat sedalam ini? Apakah ini retribusi akibat sering mengejek Budi yang selalu dapat nilai rendah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris? Jika adiknya tahu apa yang sedang dialaminya sekarang mungkin ia akan memviralkannya di tikotok sambil tertawa lebar-lebar. Judul caption dan tagar: #karmadibayarbelakangan #karmatukangbully #GustiMbotenTuru (sejak kapan Budi bisa Basa Jawa?)

“Apakah gak ada kebijaksanaan dari panitia? Pengecualian gitu? Khusus buat aku, senior kalian?” Nada suara Nenden merendah dan meninggi sekaligus. Joni menghela nafas panjang. Kasihan juga dia. Tanpa ditunggu lama, Tono Hartono  alias Tonomen ketua panitia datang menemui mereka secepat kilat setelah dihubungi Joni. Panggilan Tonomen ia dapat karena bila berbicara sering menyertakan imbuhan kata men. Maksudnya sih, ‘man’.

“Den den! Apa kabar bung? Sudah selesai karyamu men?” Ia menepuk-nepuk bahu Nenden sebagai sesama mahasiswa abadi.

“Den, ini patung gue.” Nenden meloncat ke belakang pick up sewaan dan memeluk arca kucing oren kebanggaannya yang ditaruh di atas papan beroda. Patung kucing itu sederhana saja. Mukanya diset menyeringai tersenyum. Seluruh badan dicat oranye sedemikian rupa sehingga menyerupai kucing Garfield. Ia diposisikan dalam keadaan kaki belakang terduduk. Cakar tangan kirinya bertumpu pada lutut kiri sementara cakar kanannya melambai. Kuku cakarnya ia beri cat pink neon, terinspirasi dari warna kutek kuku Lia, adiknya. Di lehernya terpasang kalung dari pita merah dengan dua buah bel. Kalau dipikir-pikir, mirip dengan kucing pemanggil pelanggan. Ekornya yang Nenden bentuk sedang mengibas-ngibas, patah dan disambung seadanya dengan lakban hitam. Untuk bagian yang cacat ini ia mohon dimaafkan.

Dengan kekepoan ala Detektif Conan dalam  menyelidiki sesuatu, Tonomen memperbaiki letak gagang kacamata di pelipisnya yang sebenarnya sudah pada tempatnya. Ia menginspeksi arca tersebut dengan seksama. Sudut kiri kanan mulutnya bergerak-gerak sedikit, dahinya mengernyit, seakan sibuk menyusun kalimat penolakan yang sekiranya tidak akan menyinggung hati Nenden yang serapuh perawan desa.

Sejatinya fakultas mereka akan mengadakan pameran dan pentas seni dalam rangka memeriahkan dies natalis universitas. Sekalian unjuk gigi pada fakultas lain. Kegiatan yang paling meriah dan representatif, yang juga diakumulasi dengan voting pengunjung stan, akan mendapat dana hibah bantuan dari rektorat untuk pengembangan program fakultas pada tahun ajaran berikutnya. Jurusan seni rupa mereka berupaya mendapatkan lebih banyak pengunjung dengan mengadakan acara yang kata Tonomen, pameran seni rupa avant garde. Entahlah apa itu maksud Tono.

Lihat selengkapnya