SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #2

TERLALU IMUT UNTUK DIPAJANG 2

“….Apa patung saya bisa ikut pameran?”

“Nenden….”

“Iya Bu!” Dug dug dug dug dug, jantung Nenden masih berdegup kencang seperti mau dikirim ke perbatasan Ukraina-Rusia.

Kriiiiiiinggg! Ponsel Bu Inggrid tiba-tiba berbunyi.

“Bentar Den, saya mau angkat telpon dulu.” Ia kemudian berjalan ke ruangan lain dan bicara di sana selama lima belas menit sambil tidak ketinggalan haha hihi ketawa.

Sorry Den, biasa dekanat. Jadi, mari kita lanjutkan. Sampai mana tadi konsultasi draft skripsimu?”

“Ah, Ibu, bisa aja..” Nenden nyengir malu. “Jadi kesimpulannya bu,  patung saya lolos seleksi kurasi pameran?”

 “Saya suka karyamu, tapi patung kamu terlalu imut untuk dipajang.”

“Makasih Bu! Saya akan beri tahu Tono tentang kabar baik ini.” Mata Nenden berbinar, seperti ada ledakan kembang api tahun baru. Ia belum bisa mencerna perkataan Bu Inggrid. Self-defense mechanism Nenden terlalu sulit untuk ditembus.

“Den, lihat mata saya.” Tiba-tiba saja di mata Nenden, penampakan dosennya berubah jadi seorang mentalis ahli hipnotis. “Maaf kamu belum bisa ikut pameran. So, no. Patung kamu tidak sesuai dengan tema. Saya juga tidak bisa membuat pengecualian untuk kamu karena bisa dianggap sebagai bias. Kamu harus lebih semangat lagi dalam berkarya. Mungkin sebaiknya sekarang kamu fokus saja pada skripsi Den.”

“Baik bu, terima kasih atas semangatnya. Itu memberi saya harapan baru.” Hati Nenden mencelos, lututnya  seketika lemas seperti diserang osteoporosis. Ia berjalan sempoyongan ke luar ruangan . “Lala, Akang gagal mewujudkan mimpimu melihat patung kucing!”

Tonomen sedari tadi bolak balik di depan gedung fakultas seperti setrikaan baju. Diam-diam sudah memprediksi hasil pertemuan Nenden dan Bu Inggrid. Awalnya malah ia ingin membuat taruhan dengan Joni, yang menolak idenya mentah-mentah.

Men, gimana?” Tanyanya sambil mendekati Nenden yang tersenyum sumringah.

“Kata Bu Inggrid, patung gue boleh masuk pameran.” Nenden setengah berteriak sambil meloncat-loncat seperti pocong.

Amazing, men. Selamat!” Tonomen tidak berkata apa-apa lagi tapi menepuk-nepuk bahu Nenden. Hatinya terkecoh melihat senyum prank karibnya.

Namun, “tapi boong! Huhuhuhuhu…” Nenden mendadak memeluk Tonomen.

“Nyemot lu! Gue kira beneran! Ups..maksud aku, aku kira beneran. Sabar ya men. Kamu masih bisa ikut pameran di lain waktu.” Tonomen balas memeluk Nenden dengan erat, mencoba menguatkan hatinya. “Aku tahu kamu bikin patung kucing demi Lala. Demi dia kamu melanggar tema pameran.”

“Dari mana elu tahu?”

“Aku juga nonton live QnA Lala di tikotok. Ehehehhe.”

Mereka berdua kemudian berpelukan semakin erat sambil menangis dan tertawa di teras fakultas. Mengundang keheranan dan kecurigaan orang-orang yang lewat. Kenapa sih di fakultas ini banyak beut mahasiswa anomali?

Lihat selengkapnya