“Siapa yang berani nendang gue?! Hayuk gelut! Gue pernah kursus silat di Cimande!” Nenden bangkit dari kejatuhannya di atas paving block kering.
“Gue pernah kursus taekwondo tiga tahun Kang, waktu SMA. Elu lupa?” Yola kini sudah berdiri di hadapannya. Nenden tiba-tiba mengkerut seperti jeruk purut. “Gimana sih? Disuruh bantuin malah kabur! Yaudah sini balikin duit gue!”
“Sumuhun kanjeng princess. Hamba siap sedia membantu.” Nenden serta merta undur diri berjalan mundur. Berjalan seperti robot ke tempat kardus-kardus tadi berada. Meski mendekati kardus tersebut dengan langkah kaki yang lambat dan berat, akhirnya ia melihat juga isi kardus. Di dalamnya ada induk dan anak-anak kucing. Ah, pantas tadi sepertinya tangan Yola sempat kena cakar.
Pada kardus lain Nenden juga mendapati beberapa kucing liar. Sebagian dari mereka nampaknya kucing yang tak diinginkan. Yola kemudian datang lagi membawa kandang kucing. Mereka berdua kemudian memasukkan sepasukan kucing itu ke dalam sangkar.
“Buset Yola, elu mau nyuruh gue buangin kucing ke TPK aka Tempat Pembuangan Kucing?”
“Sembarangan! Gue mau bikin shelter buat mereka.”
“Elu mau buka Panti Asuhan Kucing?” Nenden terheran-heran dengan perilaku adiknya. “Ditaruh di rumah? Emak sama Lia pasti gak setuju.”
“Berisik!’’ Mata Yola tiba-tiba menajam ke arahnya. Nenden langsung paham maksudnya dan mengangguk bagai kena hipnotis.
“Nitip ya Kang. Taruh aja di bawah kolong saung di kebun Haji Sobirin. Gue kan pulang pake motor, gak bisa angkut mereka semua.” Ujar Yola sambil menyerahkan kantong plastik ukuran 50 berisi makanan kucing, yang di antaranya berkaleng-kaleng tuna.
“Ok siap laksanakan!” Bersama patung kucing oren, barang-barang Nenden dari kosan, kucing-kucing itu kemudian diangkut dengan mobil pickup ke Cikararas. Kampung halaman Nenden.
Sepanjang jalan ia bersiul-siul sambil bernyanyi tak keruan sambil tak lupa menepuk-nepuk pintu mobil. “..jadi inget ke mantan…inget mantan..mantan!.”
“Masnya banyak mantan ya di kampung?” Pak supir yang mengaku bernama Leonarto mencairkan suasana yang memang sudah mengalir banjir ke sana ke sini tak terkendali dalam benak Nenden.
“Banyak Pak!”
“Wah, ada berapa mantan pacarnya?”
“Nol, Pak! Ehehehehe.”
“Katanya tadi banyak?”
“Iya memang banyak! Mantan teman, mantan musuh, mantan lurah, mantan carik, mantan camat, mantan istri orang, mantan guru, mantan atlit, mantan supir, mantan paskibra, mantan curanmor, mantan koruptor, mantan yang tak pernah dimiliki…”
“Sudah cukup Mas. Saya paham.” Pak Leonarto mengelap keningnya lagi.
“Makasih Pak atas pengertiannya. Kalau Bapak gimana? Banyak mantan pacarnya di kampung?”
“Banyak Mas. Banyak nolnya. Kalau mantan istri sih ada sepuluh. Ehehehehe.”
“Saya respect Pak! Anak ada berapa sekarang?”
“Baru lima belas. Tambah anak sambung jadi 20.”
“Uwow. Kalo bapak nyalon RT lewat voting kemungkinan menangnya besar.”
“Ehehehehe. Masnya bisa aja.”
“Betewe, Bapak pasti banyak yang naksir bisa nikah berkali-kali.”