SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #4

AKU BUKAN MEMBER PRIORITAS

Dalam mimpinya, Lala Melody sedang menyemprotkan parfum yang baru saja dia endorse ke arah Nenden.

“Wanginya seger kan, Kang Nenden?” Senyum manja Lala Melody melelehkan es dalam kulkas Nenden.

“Wangi! Wangi! Tapi lebih wangi kamu!” Mata Nenden berkaca-kaca.

“Beli ya Kang! Beli dua gratis satu!”

Loh bukannya beli dua gratis kamu? Ehehehehe.”

“Ih, Akang bisa aja!” Srot srot srot! Lala menekan lagi parfum aerosol itu ke wajah Nenden sambil tertawa-tawa. Mereka berdua kemudian kejar-kejaran di pematang sawah yang menghijau. Lala tak henti-hentinya menyemprotkan parfum ke arahnya.

Masih memejamkan mata, tangan kanan Nenden refleks mengusap wajah. Otaknya langsung mendeteksi bahwa yang ia usap adalah air biasa, bukan air kembang tujuh rupa. Nenden perlahan membuka matanya yang masih lengket seperti direkatkan lem aibon. Samar-samar ia melihat sesosok perempuan. Tapi sayangnya itu bukan Lala Melody.

“Mak, eh Bunda. Ehehehehe.” Nenden melihat emaknya, Hj. Sumiati, ibu-ibu paruh baya berperawakan subur, yang ia panggil Emak dalam keadaan normal, dan dipanggil Bunda bila sedang ada maunya.

“Bagus ya pulang gak bilang-bilang! Bosan kamu jadi gelandangan di sana?!” Perempuan itu memukul lengan Nenden.

“Aku kan lagi menuntut ilmu Mak!, eh Bun. Ehehehehe.”

“Sudah selesai skripsi kamu?”

Insyallah bentar lagi Bun. Pokoknya Bunda doakan saja terus anakmu dan lebihkan uang jatah mahasiswa Nenden. Menolong ibnu sabil yang sedang menuntut ilmu mendapat banyak pahala Bun. Bukannya itu yang selalu dipromosikan Pak Ustad di pengajian?”

“Jangan bawa-bawa Pak Ustad ya! Ayo bangun! Sampai kapan mau tiduran terus?! Kamu sudah solat subuh belum? Bangun! Mandi! Kalau udah mandi makan!“

“Ud-dah…” Nenden nyengir. Kebohongannya terlalu jelas untuk tidak terdeteksi emaknya. “Bun, mandiin aku.”

Tobat siah! Udah tua bangka! Temenmu anaknya udah tiga!” Kini Hj. Sumiati pindah memukul seluruh badan Nenden hingga anak itu minta ampun dan kabur ke kamar mandi.

Pagi itu tidak ada siapa-siapa di rumah selain Hj. Sumiati dan dua anaknya, Budi dan Nenden. Lia dan Yola sudah berangkat kerja. Budi sedang rehat setelah seminar proposal.

“Abis solat apaan Kang jam segini? Dhuha itu gak pakai doa qunut. Oh, nanti bermunajatnya yang khusyuk ya. Berdoa biar cepat lulus. Kan jarang-jarang Akang solat seserius itu. Ehehehehe.” Budi bersandar di kusen pintu kamar Nenden sembari bersidekap. Memperhatikan kakaknya yang berbusana baju koko, sarung gajah salto dan peci hitam sedang duduk tahiyat akhir di atas sajadah Turki.

Budi (21), di akte lahir terketik namanya sebagai Budianto Yuristo. Diberi nama Yuris karena pagi itu abahnya kebetulan melihat satu kata yang menarik minatnya, yurisdikasi, dalam sebuah artikel di koran Kompos. Diberikan akhiran ‘to’ untuk menunjukkan anak tersebut laki-laki. Jika diberi imbuhan ‘ti’, khawatir dianggap anak perempuan.

Nama yang dinisbatkan pada istilah hukum itu rupanya sedikit banyak mempengaruhi perilaku Budi. Waktu masih di taman kanak-kanak ia bercita-cita jadi tentara. Tiap 17 Agustus cosplay jadi tentara NKRI lengkap dengan baret merah. Namun beranjak remaja ia terobsesi jadi oknum polisi. Ketika menua minatnya malah berbelok ingin jadi agen kripto.

Budi punya sedikit complex akan tinggi badan. Ia yang hanya 162 cm tak bisa melawan Nenden yang tingginya 180 cm. Bahkan Yola kembaran Budi tingginya antara 168- 170 cm, sementara Lia sekitar 165 cm-an. Meskipun begitu, iya kekeuh menggunakan motor trail meski berkali-kali badannya tertimpa motor tersebut.

 Begitu Nenden selesai salam, ia segera melempar Budi dengan peci. “Huh! Dasar pengikut setan! Awas neraka di depan lu!”

“Sesama budak setan jangan saling mencela!” Budi lari ke dapur menemui emaknya. “Mak! Kang Nenden belum solat subuh!”

“Budi! Bisa gak kamu gak ribut sehari ini saja? Kakangmu baru datang. Pusing kepala Bunda nih.” Hj. Sumiati Kembali melanjutkan mengatur makanan di meja makan. “Ayo Nenden kasep, sarapan dulu nak! Nanti kamu sakit gak bisa nyusun skripsi.” Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 WIB.

“Mak, Budi juga lagi nyusun skripsi.” Budi memajukan bibir bawahnya sedikit. Ia menatap hina pada Nenden yang sedang disuapi nasi kuning oleh emaknya.

Lihat selengkapnya