SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #5

TIM BUSER UNTUK ANIMAL ABUSER

“Yola, apakah itu janin aborsi yang tidak bersalah?!”

Yola diam tak bergeming memangku kresek putih berlogo Indomarket di belakang Nenden yang sedang jongkok di depan patung kucing oren. Giginya gemeretuk dan bibirnya mengerut sampe sekecil sedotan es teh. Hidungnya seperti kena stroke karena seperti tidak bereaksi terhadap bau busuk dari dalam kantong plastik.

Yola (21), kembaran Budi yang lahir 10 menit lebih awal dari kembarannya. Sikapnya pun jauh lebih dewasa dari Budi yang seperti anak nyemot hidup di hutan Amazon. Penyayang hewan khususnya hewan berbulu dan berkaki empat (yang berkaki dua masih dapat kesempatan disayangi Yola). Baik pada hewan belum tentu ramah terhadap sesama manusia. Manusia itu tidak bisa dipegang ekornya (baca=janji), ujar Yola di depan Nenden pada suatu hari yang cerah.

Yola tidak pernah mendeklarasikan secara terbuka bahwa ia bermusuhan dengan Budi seperti hubungan Yola vs Lia. Tapi perang dingin di antara mereka disebabkan oleh banyak hal yang tidak Yola sepakati terhadap pandangan hidup dan perilaku Budi yang menurutnya mengganggu ketentraman umum. Ia juga merasa kesal bila dibanding-bandingkan dengan kembarannya yang nampaknya lebih nyaring daripada tong kosong ketika dipukul. Meski begitu mereka selalu mencari titik tengah dan lebih memilih hidup berdampingan dengan damai. Mungkin karena efek anak kembar.

“Yola, apakah itu janin hasil aborsi mau lu kubur di sini?!” Nenden serta merta berdiri dan siap mengatakan ‘tidak pada korupsi!’, eh maksudnya ‘tidak pada aborsi’!

“Tangan Akang mana?”

Seperti terhipnotis Yola, ia menengadahkan tangan siap menerima bendera yang sudah dilipat. Aduh, ngaco!

 “Pegang dulu bentar.”

Nenden mengintip isinya lalu mendapati bangkai kucing yang pernah ia beri makan di bukit ini dalam posisi kaku setengah kering. Ia shock ingin berteriak tapi tak bisa. Sementara itu Yola menggelar perkara, maksudnya karung plastik putih sebagai alas. Ia kemudian memakai masker dan memakai sarung tangan karet. Bangkai dari kucing yang ia namakan Samiun digeletakkan di atas karung. Ia memotret mendiang Samiun dari berbagai sudut seperti dokumentasi forensik. Tak lupa mengecek bagian-bagian tubuh si kucing yang mencurigakan.

“Yola, dari mana lu nemu si Samiun? Kok bisa dia mokat kayak gini?”

“Dari bawah kolong mobil Lia.”

Gawat! Alamat perang dunia ketiga akan dimulai di Cikararas, pikir Nenden.

“Bukan salah gue kucing lu mati, Yola! Gue gak merasa nabrak kucing. Enak aja nuduh-nuduh!” Wajah Lia manyun menahan emosi saat diinterogasi Yola dan Nenden.

“Tapi buktinya kucing gue ada di kolong mobil lu!”

“Ya gue gak tahu! Mungkin dia pengen mati di bawah mobil bagus. Daripada mati di bawah truk pasir, kan gak elit?”

“Gue pengen lihat rekaman dashboard mobil.”

“Gak ada, kebetulan seminggu ini kameranya rusak.”

“Jadi sementara ini elu tersangka utama pembunuh kucing.”

“Apa-apaan ini?! Jangan suka pitnah! Udah ikhlasin aja! Lagian kucing lu kan masih banyak Yola! Mati satu lahir seribu.”

“Lu gak pernah ngerti artinya kehilangan Lia. Lu kan gak punya otak. Eh, anak.”

Siah aya-aya wae!” Lia duduk sambil memelototi Yola yang berdiri di hadapannya.

This! Yang bisa memicu kedua adiknya naik ring tinju. Nenden tanpa berpikir panjang menarik Yola keluar rumah, ke bukit Haji Sobirin.

“Yola, kayaknya bukan Lia pelaku yang nabrak. Kakang bisa baca raut muka Lia yang jujur apa adanya. Gini-gini kita kan bersaudara yang sudah lama hidup di bawah satu atap rumbia.”

“Jadi Kang Nenden percaya aja perkataan tersangka? Akang gak cocok jadi penegak hukum!”

“Yah, gue kan cocoknya menegakkan kebatilan. Ehehehe. Lagian yang pengen jadi polisi kan bukan gue?” Nenden mengernyitkan dahi. Yola sudah ke sini dan ke sono omongannya.

“Gue gak mau tahu Kang, pokoknya elu harus temuin pelaku pembunuhan kucing gue. Kasihan Samiun pasti sebelum meninggoy disiksa dulu.”

“Lah, kok jadi gue yang harus jadi detektif dadakan? Ada honornya gak?”

Lihat selengkapnya