Kucing-kucing Yola kembali gelisah, entah apa sebabnya. Nenden memastikan mereka sudah cukup makan dan minum. Jam tidurpun diperhatikan. Ia bahkan menjaga kebersihan lingkungan dengan membuat toilet-toilet pasir tambahan.
Nenden perhatikan Yola sudah tidak masuk kerja selama tiga hari, katanya izin sakit diare akut. Ia sampai meminta Lia membuatkan surat keterangan dari dokter puskesmas. Meskipun begitu kondisi fisik Yola tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami dehidrasi akibat diare.
“Apa?” Yola menjawab judes seperti biasa saat Nenden menghalangi jalannya.
“Katanya elu sakit diare?”
“Iya gue sakit, tapi gak bisa ke rumah sakit. Gak ada uang gara-gara ngutangin lu, Kang.”
“Kan hutang akang sudah diputihkan kemarin?” Nenden nyengir.
“Oh, gue lupa.” Yola segera menutup pintu kamarnya tanpa memberi kesempatan Nenden untuk bertanya lebih lanjut.
Nenden mau mengetuk kamar Yola untuk mengatasi kekepoannya tapi urung ketika mendengar pangilan telpon dari Tonomen.
“Men, so sorry atas yang kemarin-kemarin. Kali ini aku mau nawarin kamu jadi helper seksi lapangan di acara pembukaan dies natalis. Kita kekurangan tim lapangan untuk setting dekorasi. Ayo cepet datang ke kampus hari ini. Kalau perlu nginep di UKM.”
“Patung gue gak lu masukin ke pameran.” Nenden pura-pura jual mahal. ”Lu boleh minta bantuan gue apa aja, asal jangan suruh ke kampus. Gue mau fokus nyusun skripsi di rumah.” Amnesia kalau kemarin-kemarin dia sering minta bantuan Tonomen.
“Men, kamu mau lihat Lala Melody nyanyi gak besok?”
“Lala?! Ya Tuhan, kenapa gue bisa lupa? Kenapa lu baru ngasih tahu gue sekarang?! Tentu saja aku datang! I’m coming Tono! I’m coming dies natalis! I’m coming Lala! Yahuba-huba!”
Nenden segera mandi kilat lalu mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel. Tak lupa ia memeriksa isi kaleng biskuit Danish di lemari dapur. Emak biasa menaruh uang sisa belanja sayur dan lauk pauk ke dalamnya. Tapi hari itu kalengnya kosong melompong.
Nenden tak kehabisan akal. Dia mencari Budi yang sedang membersihkan motor trailnya.
“Bud, pilih mati ditodong pistol atau memberikan uang?”
“Pilih ‘atau’. Ehehehehe”
“Gue serius.”
“Seriusin dulu tuh skripsi.” Skak mat untuk Nenden.
“Bud, pilih minjemin Kakang motor atau minjemin uang untuk ongkos ke kampus?” Nenden pantang menyerah.
Budi mencampakkan kanebonya. Ia menengadah menatap kakaknya yang 18 cm lebih tinggi. Ia seperti sedang mengajak duel gulat. Nenden balik menatap tanpa berkedip. Mereka saling adu tatap selama 10 menit. Nenden bersiasat meniup mata Budi. Adiknya itu akhirnya tanpa daya terpaksa mengedipkan mata karena hembusan nafas Nenden membawa aroma jengkol.
Meski kesal Budi kemudian membuka dompetnya dan mengeluarkan uang lembaran merah dengan gambar bapak perintis bangsa yang tersenyum. Nenden kira Budi akan memberikannya semua. Namun adiknya hanya memberikan selembar merah dan selembar hijau. Ia ingin protes namun beggar can’t be a chooser.
Tapi Budi lupa kalau Nenden lahir duluan daripada dirinya. “Bud, kayaknya itu si Salma lewat sama cowok!” Salma adalah teman SD yang pernah Budi taksir. Saat adiknya meleng, Nenden segera mengambil dua lembaran merah dari tangan adiknya lalu lari secepat kilat mengalahkan kecepatan halilintar.
“Asu!” Budi hendak menendang motor trail hitamnya yang sudah berkilau menyilaukan tapi tak jadi.
Sepanjang jalan naik ojek online, Nenden bersiul-siul bahagia karena sebentar lagi akan melihat Lala Melody secara langsung. Ia bernyanyi asal sambil menepuk-nepuk pahanya.
“Mahadaya cintah! Mahadaya cintah!”