SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #7

DEAD MEN TELL NO TALES 2

Mungkinkah? Ada sejuta kemungkinan dalam benak Tonomen malam itu. Mungkinkah Nenden berencana menggantung diri di pohon rambutan karena patah hati. Mungkinkah Yola akan membantu Nenden pergi ke surga secepatnya. Mungkinkah Yola akan menguburkan Nenden sendirian. Atau mungkinkah Yola akan memutilasi saudaranya lalu memasak dagingnya untuk memberi makan kucing. Ia melihat beberapa tampah di depan kaki patung kucing oren. 

“Cepetan napa?” Seru Yola. Sret sret!

Tonomen bergidik ngeri lalu mengejar Nenden yang berjalan ke arah kegelapan tanpa senter.

“Nenden! Men, jangan berpikiran pendek!” Tonomen berupaya meraih baju Nenden namun ia malah jatuh terjerembab karena kakinya tersangkut akar pohon. Senternya jatuh.

“Toonoooo..” Nenden mengarahkan sinar senter ke wajahnya sendiri sambil menjulurkan lidah dan berkalung tali pramuka di leher.

“Huwoooo! Nenden!” Tonomen menjerit ketakutan. Ia mencoba memukul wajah Nenden namun tak kena.

“Eheheheheh.” Nenden kemudian mematikan senter. “Lu beruntung Ton, sedikit lagi pala lu benjol segede telur burung unta kalau kena cincin sumur.” Nenden menawarkan tangannya untuk membantu Tonomen bangkit. “Ngapain lu ngikutin gue?”

“Aku pikir kamu sudah putus asa dan ingin mengakhiri hidup?”

“Sebenarnya gue gak mau hidup lagi Ton! Aku lelah dengan semua ini, tapi gue inget belum wisuda? Nanti gue jadi Casper bukit Haji Sobirin lagi. Ehehehe. Kali ini gue akan berusaha menjadi pria seperti yang kau minta.”

“Nenden temanku, syukurlah.” Tonomen memeluk bestienya, terharu. Mereka menangis berpelukan sejenak seperti Lala dan Pooh. “Terus kamu ngapain di sini men? Kamu gak berpikir untuk loncat ke sumur, kan?”

“Gue mau bantuin Yola ngambil air buat nyuci ikan. Dia mau manggang ikan buat makan sahur kucing-kucingnya. Di sini gak ada pompa air.” Nenden mengikat tali pada jinjingan ember plastik anti-pecah.

“Baik banget Yola. Rajin menabung, penyayang kucing, rutin bersedekah. Pasti calon suaminya sangat beruntung.”

“Siapa dulu dong kakaknya.” Nenden menepuk-nepuk dadanya seperti gorilla. “Eits, itu nanti dulu. Langkahi dulu mayat murid Pra-bu Siliwangi.”

“Kamu murid Prabu Siliwangi, men?

“Bukan, lah. Aku murid Pra-bu Sijarah, gelarku Adipati Homo cikararasiens. Ehehehehe.”

“Pantes kepalamu besar, men, tapi kemampuannya terbatas. Ehehehe.”

“Semua kecerdasan sudah gue sedekahkan pada adik-adikku, spesies selanjutnya. Lumayan lah gue dapat pahala amal jariyah.”

Tonomen manggut-manggut. Ia lega Nenden sudah balik ke pengaturan awal rupanya. Sepertinya ada mekanisme ‘kembali ke setelan pabrik’ dalam otak temannya.

Nenden membuka lempeng beton penutup sumur lalu memandang ke dalamnya. Sumurnya tampak tak berdasar, tak ada yang terlihat karena gelap gulita. “Halo Assalamu’alaikum! Punten, apa ada orang di dalam? Kami utusan Pak RT mau nagih iuran 17 Agustusan.” Kelakar Nenden.

Suara Nenden kedengaran bergema dalam sumur, kemudian hening.

Lalu tiba-tiba, “Wa’alaikum salaam, iyaa sebentaaar. Berapa iurannyaaaa Kaang? Sinii masuk sumur duluu.” Terdengar jawaban bergema dari dalam sumur, suara melengking ibu-ibu.

Mendengar jawaban dari sumur, Nenden terkesima. ”Sa sa sa satu juta! Eh..gak jadi deh!” Ia kemudian lari terbirit-birit meninggalkan Tonomen.

Kang kasep, mau kemana? Ini uangnya, hihihi.” Terdengar suara perempuan dari atas pohon sawo di dekat sumur yang  lalu melempari mereka dengan lembaran daun harendong.

“Mana airnya Kang? Lama banget sih!” Tanya Yola gelisah.

“Airanyah airnyah, gak adah. Belum diambilh, ada jurighh.” Nenden menjawab terengah-engah.

“Emang ya kalau nyuruh Kakang suka gak bener hasilnya! Jurag jurig, alesan aja! Huh! Sini mana embernya?! Ayo Kang Tonomen, temenin Yola!”

Tonomen pasang muka enggan tapi ia tak berani melawan Yola yang menarik pergelangan tangannya.

Lihat selengkapnya