“Lama, Kang, intronya!”
Kesal dengan reaksi Nenden yang selambat keong sawah, Budi tanpa basa-basi membuka tas. Ia mengeluarkan isinya dengan takjub. Gaun cocktail wanita, wig, sumpalan dada, high heels, perhiasan palsu, kuku palsu dan make up kit.
“Apa-apaan ini?!” Seru Budi.
“Dapat minjam dari anak teater, men.”
Setelah memata-matai salah satu mantan atasan Yola di kantornya dulu, Nenden dan Budi berencana memberinya pelajaran. Mereka yang menyamar sebagai banci dengan pakaian wanita pura-pura berseteru di jalan lalu memukulnya. Orang-orang biasanya bakal enggan melerai pertengkaran dengan banci.
Yola tidak mengetahui rencana Nenden dan Budi. Ia yang sedang memberi makan kucing pagi itu masih teringat kejadian kemarin di kantor saat bertemu kabag HRD, Bu Lita. Ia memberanikan diri menghadap Bu Lita setelah memantapkan hati.
“Bu, mohon maaf ketidaknyamanan yang terjadi di kantor karena rumor tentang saya. Saya sebenarnya mencoba menutup telinga soal rumor jahat yang beredar tentang saya. Saya anggap ini bagian dari politik kantor. Namun saya tegaskan, semua rumor yang beredar tentang saya itu tidak benar. Saya tidak pernah menggoda rekan kerja maupun atasan agar saya mendapat rekomendasi supaya direkrut sebagai pegawai tetap. Ibu boleh tanya ke rekan kerja lain bagaimana kinerja saya selama ini. Saya tidak pernah menyebarkan fitnah tentang kemesuman Pak Saip. Jika Ibu ingin tahu, dalam hal ini saya adalah korban. Dia memanfaatkan kesenioritasannya untuk mengambil keuntungan, berlaku semena-mena terhadap anak magang seperti saya dengan melakukan pelecehan, sexual harassment verbal dan non-verbal.”
“Kalau memang kamu dilecehkan kenapa tidak langsung lapor polisi?”
Yola terdiam sejenak mendengar pertanyaan Bu Lita.
“Saya tidak berniat melaporkannya ke polisi atau ke HRD kantor karena pertama, saya tidak punya bukti rekaman foto, video atau audio. Pada saat di tempat kejadian, mobil Pak Saip, saya tidak sempat merekam. Dia berkali-kali meminta saya untuk mematikan ponsel dalam mobil. Dengan bodohnya saya mencoba toleran karena saat itu saya anggap dia masih atasan saya, tapi sedang di bawah pengaruh alkohol makanya dia berani memegang-megang bagian tubuh saya dengan tidak sopan. Dan saya selalu mencoba berkelit agar dia tidak berbuat lebih jauh. Saya baru tahu kalau ternyata dia suka minum ketika melihat botol miras di mobilnya. Saya bahkan menutup telinga atas kalimat-kalimat seksis dan mesum yang dia lontarkan sepanjang perjalanan. Waktu itu saya bersedia masuk mobilnya, karena dia menawari untuk mengantar ke stasiun. Katanya sekalian satu arah. Saya percaya karena dia rekan kerja sekaligus atasan yang selama beberapa bulan bekerja dengan saya. Tidak tahunya di kantor dia menuduh saya sebagai perempuan murahan. Kedua, saya ingin melupakan kejadian buruk tersebut karena saya bersyukur tidak jadi korban sexual assault. Namun, sekali lagi saya sangat tersinggung dia memfitnah saya dengan bilang saya mencoba merusak reputasi dia. Justru reputasi saya yang mau dia rusak! Ibu tidak tahu kan rasanya seperti disekap dalam mobil? Dibawa muter-muter gak jelas di dalam kota.”
Bu Lita masih diam. Lalu, “saya turut prihatin kamu mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dengan rekan kerja di kantor ini. Saya harap kamu lebih menjaga diri, tidak mudah percaya dengan orang lain dan tetap waspada meskipun itu rekan kerja atau atasan kerja. Ini kota besar, kejahatan apapun bisa terjadi. Kamu harus kuat, jangan gentar bila kamu merasa benar, bila bertemu dia di kantor. Kami tak bisa melakukan apapun terhadap Pak Saip karena tidak ada bukti konkrit.”
“Bu, kenapa sikap anda seakan menyalahkan korban? Kenapa saya merasa ini victim blaming? Kenapa saya diminta mengalah dan menanggung malu? Saya tidak berencana menuntut keadilan apalagi ganti rugi materil. Saya tidak perlu dikasihani, juga tidak butuh kalimat basa-basi untuk tabah dan sabar. Saya hanya berharap kalian bisa membedakan mana yang benar dan salah. Damn with living in the big city or a village. Kejahatan terjadi setiap hari baik di kota besar maupun di kampung terpencil. Tapi bukan tempatnya yang bermasalah, melainkan manusianya. Gara-gara kalian bystander yang sering menutup mata terhadap bibit-bibit kriminal, maka kejahatan dengan pola yang sama selalu terjadi berulang kali.”
“Lantas kamu mau bagaimana?” Bu Lita mendengarkan dengan sabar.
“Bu, saya tidak sekuat itu. Mungkin saya kuat begadang dan kerja lembur, tapi untuk hal ini saya tidak bisa. Saya tidak sanggup untuk menghirup udara yang sama, di tempat yang sama dengan orang yang pernah melecehkan saya. So, I quit, Bu. Terima kasih banyak atas bantuan dan bimbingannya selama ini.” Yola menyerahkan surat pengunduran diri.
“Oke, kalau itu keputusan kamu. Semoga kamu sukses di tempat lain.” Damn, gue kehilangan satu lagi calon karyawan potensial buat cadangan. Batin Bu Lita. Ia tidak menceritakan pada siapa-siapa kalau kejadian serupa pernah terjadi setahun lalu pada calon karyawati yang tinggal tanda tangan kontrak. Semua gara-gara si Saip itu. Ia jadi geregetan sendiri.
Yang tidak Yola ketahui, Bu Lita memutuskan untuk menginterogasi Pak Saip keesokan harinya.
“Anda tahu kenapa saya panggil ke sini?”
“Kenapa? Gara-gara aduan anak magang itu?”
“Silahkan duduk dulu Pak, jangan tegang. Saya mendapat laporan, dari rumor yang beredar,” gosip yang sebenarnya rahasia umum di kantornya. “Apa benar Anda terlibat hubungan Istimewa dengan salah satu karyawan di perusahaan ini? Anda tahu kan perusahaan kita menerapkan no office romance, dalam satu gedung kantor, apalagi dalam satu divisi?”
“I..i..itu tidak benar!”
“Apa benar seseorang itu punya jabatan manajer?”
“Tidak benar.”
“Apa benar seseorang itu berinisial S?”
“Tidak benar.”
“Apa benar Anda suka menyimpan minuman keras di dalam mobil pribadi?”
“Tidak benar.”