SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #9

SEEING IS BELIEVING 1

“Makasih banyak Ton atas bantuannya.” Kata Nenden sambil menyalami sohibnya di rumah. ”Yah walaupun gak berhasil juga sih.” Bisiknya, takut ketahuan Yola. Nenden sudah merapikan properti kostum yang mereka pinjam dari Tonomen.

Sebelum Tonomen pulang, Nenden mengajaknya jalan-jalan ke bukit Haji Sobirin untuk mencari durian. Di sana mereka gabut memerhatikan kucing-kucing yang berkeliaran, khususnya yang mengelilingi patung kucing oren karena di bawahnya ada tampah-tampah berisi makanan. Rasid dan Gayus juga masih sering rutin membawa makanan.

Nenden dan Tonomen juga memeriksa keadaan sumur yang bila siang hari keliatan biasa-biasa saja. Nenden kemudian membuka penutup sumur yang kini sudah diganti dengan terpal bekas spanduk caleg.

“Haloooo! Assalamu’alaikum! Apa ada orang di dalam? Kami petugas dari dinas Kesehatan dan Pertahanan mau meninjau warga. Bulan ini ada program pemberantasan nyamuk DBD.” Nenden menunggu sejenak, lalu melanjutkan lagi. “Bapak Ibu Kakang Teteh dihimbau untuk membeli bubuk abate.”

Nenden diam lagi untuk menyusun kalimat selanjutnya. Tono berdiri tak jauh darinya sambil menutup mulut tak mau terdengar tawa cekikikannya. “Harga bubuk abatenya seratus ribu rupiah saja untuk dua bungkus yang bisa dipakai dua tahun. Bapak ibu tidak mau kan masuk rumah sakit gara-gara DBD? Biayanya bakal lebih mahal daripada harga abate, apalagi kalau tidak pakai BPJS.”

Sekali lagi hening tidak ada jawaban. Apakah hantu-hantu itu hanya muncul pada malam hari? Tonomen membatin. Sekonyong-konyong di siang hari yang panas, mereka merasa kedinginan sampai mengigil menerima tiupan angin. Bulu kuduk mereka merinding. Nenden dan Tonomen bergegas meninggalkan area sumur.

“Kenapah luh larih, Tonh? Memangnyah adah hantuh kayakh kemarinh?” Nenden berdiri terengah-engah, berhenti dari larinya.

“Akuh cumah ngikutinh kamuh, menh.” Jawab Tono yang juga terengah-engah.

Nenden memperhatikan sekitar, merasa familiar dengan tempat tersebut. Ia kemudian melihat foto caleg tersenyum dalam spanduk di atas cincin sumur.

“Ton, kita di mana sekarang?!” Nenden mengucek mata.

“Di di di di sumur yang tadi, men.”

“Sial! Kita nyasar. Ayo kita jalan ke dangau aja pelan-pelan.” Nenden kemudian menarik tangan Tonomen seperti menuntun tunanetra.

Namun, “Men, kamu bawa aku ke mana? Memangnya ada berapa sumur di bukit Haji Sobirin?” Tonomen mencoba menolak fakta bahwa mereka berjalan berputar kembali ke sumur.

“Yaudah elu yang jalan di depan, lu juga hapal kan rute ke dangau.” Kini gantian Nenden berjalan di belakang Tono sambil memegang kedua bahunya.

“Ton, yang bener donk! Lu hapal arah jalan pulang gak? Masak kita balik lagi ke sini?” Nenden meringis sementara wajah Tonomen seperti ingin menangis.

Mereka melihat ke angkasa. Langit memancarkan semburat merah sementara burung kelewar beterbangan entah mau transmigrasi ke mana.

Nenden kemudian mengambil keputusan. “Kali ini, kita lari ke arah berlawanan. Yang selamat bawa bala bantuan. Ok?” 

Tono mengangguk.

“Satu, dua, tiga, lariiii!” Nenden kabur duluan.

Nenden dan Tonomen benar-benar lari ke arah berlawanan, tujuannya tetap gerbang masuk kebun Haji Sobirin. Namun sayang mereka bertemu lagi di depan sumur timba.

“Bundaaaaa toloooong si Kasep! Huhuhuhuhuhu.”

Karena kelelahan berlari, Nenden dan Tonomen duduk selonjoran.

“Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut men. Kita sepertinya dikerjai setan keder. Kamu harus minta maaf kepada mahluk yang kamu jahili.

“Gak mau, bukan salah aku.” Nenden merajuk.

Tonomen kemudian menelpon Yola untuk menjemput mereka.

“Dari tadi gitu Ton!”

Tidak berapa lama kemudian muncul Budi meski yang dipanggil Yola.

“Ampuuun Bundaa! Aku punya kakak kayak anak TK minta dijemput pulang! Kenapa sih Kang?

Lihat selengkapnya