Besoknya Nenden, Budi dan Tonomen pergi ke bukit Haji Sobirin memantau lanskap kebun yang luasnya sepuluh hektar. Mereka akan memasang kandang kucing tambahan dan patung karakter kucing lagi di berbagi titik. Mereka juga akan mencicil membuat dekorasi taman bunga ala-ala yang instagrammable.
Nenden mulai membuat patung kucing lagi dibantu Tonomen. Yola membuka tabungannya untuk membelikan Nenden bahan-bahan bangunan untuk membuat patung dan menata bukit Haji Sobirin.
“Mak, mereka lagi ngapain ya di kebun?” Tanya Lia kepo.
“Udah biarin aja mereka selama ada kegiatan positip. Lumayan kebun ada yang bersihin. Bunda pusing kalau lihat mereka luntang lantung gak jelas. Yang penting mereka gak minta duit Bunda.” Komentar Bu Hj. Sumiati sebelum malamnya ditodong sumbangan sukarela oleh Budi.
Tonomen mengarahkan Yola dan Budi untuk membuat kampanye online terselubung. Dimulai dari meminta Gayus dan Rasid memposting kegiatan mereka dengan testimoni positif saat memberi makan kucing secara rutin.
“Halo gaess! Welcome back to our channel! Hari kita mau kasih makan kucing dulu. Di mana Yus?” Rasid yang berada di depan kamera bertanya pada Gayus yang memegang kamera siaran langsung tikotok, tak nampak wajahnya.
“Di bukit Haji Sobirin aka Sobirin Park!” Mereka menunjukkan spanduk bertuliskan Sobirin Park di pintu gerbang.
Rasid kemudian masuk ke area bukit dengan membawa kresek hitam, terdiri dari kumpulan sisa makan siang gratis dari teman-temannya. Gayus merekam secara langsung saat Rasid merapikan makanan dalam tampah untuk kucing. Dalam tampah itu Nenden sudah mengalasinya dengan daun pisang, menghiasnya dengan kembang lima rupa dapat metik dari kebun tetangga.
“Gaess, entah ya kalian mau percaya atau tidak, tapi sepertinya tempat ini bertuah deh. Aku pernah berdoa biar lulus ulangan matematika. Aku bilang, plis, Samiun kucing yang baik, doain aku biar gak remedial ulangan matematika. Aku kan biasa dapat nilai 60, hari itu aku dapat nilai 90 loh! Ajib!” Rasid memberikan testimoni pertamanya. “Lu gimana Yus?”
“Bentar.” Gayus memasang tripod agar kamera tidak bergerak. Ia lalu duduk di sebelah Rasid. “Halo gaess! Pengalaman aku ya? Jadi aku pernah do’ain tetanggaku biar dia lulus tes UTBK, eh lulus guys! Terus aku do’ain tetanggaku yang lain supaya lolos tes masuk sese-PTN, eh beneran masuk, gaess! Aku sekarang lagi berdoa semoga hasil USG anak tetanggaku cowok. Soalnya suaminya pengen anak laki-laki biar bisa nemenin dia nonton bola katanya. Ok, doain semoga aku berhasil yah!” Gayus kemudian mengheningkan cipta di sana.
Selama mereka menayangkan video tersebut di tikotok, IGeh dan Utube, beragam komentar seperti biasa datang membawa pujian dan makian. Yang jelas sekarang penayangan video mereka sudah ratusan ribu dan pengikutnya naik seribuan second account di berbagai platform.
Yola juga me-repost konten Gayus dan Rasid di laman medsos Fesnote Sobirin Park yang baru ia buat. Ia juga membuat konten cuplikan video pendek boombastis tentang Sobirin Park yang mistis. Juga menambahkan judul-judul clickbait. Semisal, Sobirin Park, lebih manjur dari Gunung Kawi?! Siapa artis yang pernah datang ke Sobirin Park?! Tak lupa Yola juga memanfaatkan kecanggihan video AI.
Yola bahkan menyuruh Budi dan Nenden menyamar, pura-pura sembunyi-sembunyi mengunjungi Sobirin Park pada malam hari . Lalu merekam mereka dari jauh ala-ala kamera tersembunyi.
“Samiun, dukung kami biar gacor taruhan judi bola. Beri kami ilham siapa yang menang piala dunia.” Ujar Nenden, Ia merendahkan nada suara.
“Kan udah Bang, kemaren. Lihat aja berita. Eheheheh.” Timpal Budi pura-pura bersuara cempreng.
“Berisik!” Nenden kemudian menuangkan air dari botol air kemasan lalu menaburkan bunga ke kaki patung kucing oren.
Di lain waktu giliran Yola yang menjadi bintang video. Ia didandani Aknes seperti nenek-nenek keriput dan ditambah filter, makin tampak seperti nenek renta.
“Saya sakit radang sendi udah lama, setelah datang ke Sobirin Pak, hilang radang sendi saya. Terus kemarin, saya datang lagi, berdoa biar cucu saya yang nakal banget suka tawuran di jalan dan nyolong duit saya bisa jadi anak baik. Eh besoknya bukan cuma nakalnya yang hilang, cucu saya juga hilang sekalian. Ehehehehe.”
Sekali lagi Budi harus berdandan seperti perempuan dan membuat testimoni. “Saya sudah lama menjomblo, di umur 30 belum dapat jodoh. Setelah ziarah ke makam Samiun di Bukit Sobirin, eh gak lama saya dinikahi kakak ipar! Ternyata jodoh saya selama ini adalah suami kakak saya! Ehehehehe.”
Kini giliran Tonomen yang menyamar. “Saya sudah lama menganggur. Saya sudah mencoba berkunjung ke berbagai tempat namun belum berhasil. Iseng saya nyekar ke Sobirin Park. Lama saya tirakat di bawah pohon durian. Eh, minggu depannya saya langsung dapat kerja! Saya buka jasa jadi buzzer. Ehehehehe.”
Nenden ingin ikutan membut video testimoni lagi. Ia menyamar menjadi bapak-bapak brewokan. “Saya sudah lama memimpikan punya rumah ber AC, istri saya sering ngeluh. Sementara saya masih belum mampu membayar tagihan AC. Karena buntu saya datangi makam Samiun. Eh malamnya ada kucing jatuh dari plafon kamar saya. Rusak deh plafonnya. Akhirnya istri saya sering meriang panas dingin karena hujan angin masuk lewat plafon bolong. Ehehehe.”