“Men, sumber air bertuah itu bagian dari starter-kit wisata spiritual.” Tonomen berteori.
“Coba jelaskan pada Bapak biar paham.” Ujar Nenden sambil bercanda.
“Di bukit kakek gue mana ada sumber air macam begitu. Rawa-rawa aja gak ada. Yang ada cuma sumur berhantu. Ya kan Kang?” Budi mengingat-ingat lanskap kebun Haji Sobirin.
“Oke men. Kalau kita berwisata spiritual, setidaknya ada oleh-oleh unik yang bisa dibawa. Sesuatu yang tidak bisa didapat di tempat lain. Ya itu, salah satunya air berkhasiat! Kamu bisa buat sendiri, men. Bikin airnya mengalir 24 jam. Kamu bisa selundupkan pipa dalam tanah, lalu pakai air PAM.” Ujar Tono.
“Wah, Ton, elu luar biasa kreatif! Kenapa gak kepikiran sama gue ya? Ayolah kita bikin! Gue mau minta dana hibah dulu sama Bunda tercinta!”
Yola memandangi Tonomen dan Nenden. Cerdik sama kreatif nipu beda-beda tipis, pikirnya. “Gue pikir-pikir dulu.”
“Aku setujuh!” Budi mengangkat tangan.
Esoknya mulailah mereka menyuruh tukang untuk melakukan penggalian di tempat yang telah disepakati. Baru satu meter menggali, beliung mereka terantuk pada sesuatu. Air kemudian menyembur deras.
“Kang, Kang lihat deh! Ajaib! Terima kasih Tuhan atas karuniamu. Belum juga pasang pipa tapi udah ada air!” Budi berlutut di atas tanah sambil menengadahkan tangan. Ia kemudian memanggil Nenden dengan antusias. Ia dan kakaknya saling berpelukan dan terus meloncat-loncat kegirangan.
Yola yang skeptis kemudian mengecek galian pipa beserta para tukang.
“Ya ya ya betul Bud! Itu sumber air bertuah! Hihihihi. Tapi dari pipa aliran air PAM yang ke rumah kita.”
Kebahagian Budi dan Nenden seketika sirna. Mereka kini memandangi genangan lumpur yang makin lama makin lebar.
“Coba pikir gimana kita harus memperbaiki pipa ini? Keluar duit lagi deh.” Gerutu Yola.
“Jadikan ini bencana alam, Yola! Ehehehehe.” Usul Budi.
“Apa kita pakai air sumur aja?” Timpal Yola.
Nenden merasa ngeri memikirkan kemungkinan untuk mengeksploitasi sumur berhantu tersebut. “Jangan sumur itu! Nanti kita kena sial.” Ingat pernah dikerjai setan keder.
“Apa boleh buat, kita bikin sumur bor saja.” Tonomen tiba-tiba datang membawa saran baru. Ia juga ingat bagaimana seramnya sumur itu pada waktu-waktu tertentu.
Mereka kemudian sepakat untuk membuat sumur bor baru. Mau tidak mau mesti ada biaya tambahan. Dan pihak yang terpaksa harus jadi donatur tetap adalah Hj. Sumiati.
“Bun, kami lagi investasi untuk masa depan yang cerah. Jadi kami perlu sumur baru.”
“Subhanallah, inpestasi inpestasa! Kalian itu sebenarnya ngapain sih? Kan udah ada sumur tinggal dikasih pompa. Ngapain bikin sumur bor baru? Emangnya kalian mau buat hotel penginapan di sana?! Bunda pusing ih!”
“Bun, siapa tahu kita pas ngebor tanah nemu tambang emas permata? Nanti kalau ada buat Bunda semuanya! Bayangkan Bun, bisa pakai liontin sebesar mangkok, kepala cincin sebesar batu akik!”
“Ck ck ck Budi, Budi, di sini mana ada batu emas permata, yang ada kamu nemu batu gunung! Sudah, sudah jangan ikut-ikut main sama Nenden Yola lagi. Mereka udah gede!”
“Aaaah Bunda! Bunda boleh gak peduliin Nenden dan Yola lagi, tapi memangnya Bunda gak sayang lagi sama Budi?” Obat tetes mata Budi bekerja dengan baik, ia kini berlinang air mata.
“Astaga Budi! Kamu kan udah disunat udah akil baligh! Masak cengeng begitu. Pantas kamu masih jomblo sampai sekarang!”