Sesi live QnA dengan Lala Melody datang lagi di tikotok. Kontennya mirip dengan sesi QnA saat dies natalis kampus.
“Halo guys! Welcome back to my channel! Lalalala Melody! Kali ini aku mau bacain pertanyaan kalian!” Lalu Lala pura-pura membuka amplop kejutan yang sebenarnya sudah ia siapkan sebelumnya. “Wah!” Ia pura-pura terkejut melihat pertanyaan kali ini. “Halo kak Lala! Iya halo juga! Aku mau tanya. Ok? Gimana kriteria cowok idaman kakak?”
“Hm, pertanyaan yang gampang-gampang sulit ya guys.” Lala pura-pura diam sejenak untuk mengeluarkan jawaban yang sudah ia persiapkan sebelumnya. “Aku sih gak ada kriteria macam-macam. Tapi aku suka cowok yang berjiwa kepemimpinan, tegas, dan kharismatik.”
“Uweksss! Apakah ini HRD sedang merekrut calon kepala cabang? Gak sekalian ditambah kualifikasi punya SIM biar bisa bawa mobil mevvah? Atau berpengalaman mengelola tim biar bisa merangkap jadi manager artist?” Lia yang suka julid terhadap Lala Melody mengomentari sesi QnA Lala saat berjaga shift malam di puskesmas.
“Bukannya dia itu satu sekolahan ya sama kamu?” Rekan perawat yang satu shift dengan Lala mencondongkan tubuhnya mendekati Lala yang sedang membuka app tikotok. Ia siap menerima segala bentuk informasi.
“Udah lupa tuh!” Jawab Lia ketus.
Di tempat lain, Nenden masih setia menonton video-video Lala. Khusus video QnA tentang kriteria pria idaman ini dia menontonnya dengan mata berkaca-kaca. Gimana caranya aku jadi pria yang kharismatik?
Karena keviralan video tarian ambigu Sobirin Park, Gayus dan Rasid membuat video reaksi tentang video tersebut.
“Hello gaesss… welcome back to my channel! Semoga kalian sehat selalu dan dapat rejeki nomplok tanpa di sangka-sangka dari delapan penjuru mata angin ya!” Rasid menyapa. “Tanpa bertele-tele berbaso terasi, mari kita lihat video Sobirin Park yang baru-baru ini viral! Tarik maang!”
Gayus kemudian mengklik video. Dia bertugas sebagai operator video sekaligus komentator. “Gimana gaess videonya?”
“Stop Yus dibagian yang Cowok. Aduh si Akang itu hoki sepuluh tahun dipake sehari ya, asik beut dikelilingi teteh-teteh cantik. Padahal kalo dilihat-lihat si Kang *sensor* itu biasa-biasa aja ya dari tampangnya.”
“Iyah, gak ada bakat ganteng gitulah. Mau dapat satu istri cantik juga pasti pake pelet minyak bulus. Ehehehe”
“Puter lagi Yus! Nah stop di situ! Aduh, Akang, Akang itu mau nari apa minta duit dari helikopter lewat? Ehehehhee.”
“Kapal! Minta duit sekoper! Yang diminta duit, yang datang kucing jadi-jadian. Eheheheh.”
“Puter lagi Yus. Waduh, itu pake mahkota kayak gitu mau kemana Kang?”
“Mau menghadiri pernikahan kucing yang tertukar di kampung sebelah! Flexing-flexing mahkota emas satu kilo. Ehehehe.”
“Awas loh diciduk petugas bea dan cukai! Eheheheh.”
“Gak bakal lah. Itu kan mahkota berbi! Eheheheh.”
Report this video? Nenden membuka laman Utube yang memuat video reaksi Rasid dan Gayus.
“Bocah-bocah lucknut! Tahu gitu dulu gue cincang mereka buat makanan kucing. Nah, mampus luh!” Nenden mengklik tombol ‘report’ untuk melaporkan video reaksi tersebut sebagai konten tidak pantas di Utube. Ia juga melaporkan video tersebut melanggar hak cipta. Ia berharap video itu segera di-take down.
Di tempat lain di kamar Budi, dengan memakai second account, ia mengomentari video reaksi tersebut.
“Hihihihi lucu banget sih! Emang udah gak ada obat Xixixixi! Lanjutkan kawan!”
Nenden tak menyangka video tarian yang diupload akan menuai banyak reaksi. Ia membaca berbagai komentar.
“Penyembah Setan? Penyembah setan apa? Aliran sesat?” Ia sedikit emosi membaca komen-komen negatif. “Tahu gini gue gak ikutan!”
Esoknya ia dan Aknes juga harus menghadiri undangan tabayyun dari Majelis Umum Daerah Kabupaten Cikararas karena video tariannya itu dianggap meresahkan publik sebagai bentuk penyimpangan agama. Sejujurnya mereka mendapat laporan dari Sekdes Cikararas aka Fakih.