“Bundaaaaa!!!” Nenden terkejut melihat emaknya semaput. Selain bingung kenapa emaknya yang kelihatan secara fisik sehat bisa pingsan, ia juga bingung bagaimana cara mengangkut emaknya yang bobotnya sekitar 80 kg seorang diri.
“Buuud!” Ia kemudian memanggil Budi yang tengah bermain game ML di kamarnya bersama Tonomen. Tak juga dijawab lagi, ia berteriak lagi. “Buud! Bunda pingsan!”
“Kang, kalo becanda dikasih limit donk, sampe bawa-bawa emak segala.” Budi tidak percaya dengan Nenden. Ia kemudian dengan malas keluar kamar.
“Astaghfirullah Bundaaa! Bunda kenapa Kaaang?!” Budi malah ikut tak sadarkan diri.
“Nyesel gue minta bantuan Lu, Bud!” Kini di depan Nenden ada dua orang yang pingsan. Nenden kemudian mengangkut emaknya sendiri ke kamar sementara Budi digendong Tonomen.
Yola mengipas-ngipaskan botol kaca minyak angin cap golok yang sudah dibuka tutupnya ke depan hidung Hj. Sumiati. Isinya berguncang-guncang. Beberapa saat kemudian emaknya sadar.
“Bun, kenapa pingsan? Ada yang sakit? Bentar lagi Lia pulang dari shift malam. Ntar dicek tensi darah dan gula.” Tanya Yola khawatir. Ia memijat-mijat betis ibunya dan memijit kakinya.
“Gak Yola, Bunda baik-baik aja. Bunda cuma kecapekan abis dari toko. Kalau dibawa tidur ntar juga besok seger lagi.”
“Bun, jangan gitu Bun. Nanti kita ke rumah sakit ya?” Kata Nenden.
“Udah gak usah! Bunda baik-baik aja! Udah kalian keluar aja sana! Kamar Bunda sumpek nih!”
Nenden dan Yola kemudian kamar. Mereka saling berpandangan.
“Feeling gue pasti terjadi sesuatu sama emak. Cuman dia gak mau bilang.’’ Ujar Yola.
‘’Coba Lu cari tahu Yola.’’
“Gak usah dikasih tahu juga pasti gue lakukan, huh!” Yola kemudian masuk kembali ke kamarnya.
Nenden kemudian berpikir untuk masuk kembali ke kamar emaknya namun ia urung ketika melihat Lia datang.
“Bundaaa! Bunda kita kenapa Kang? Pasti gara-gara kalian berbuat sesuatu khan?”
“Gara-gara Elu kali! Kapan Lu putus dari Fakih?’’
‘’Kapan Elu Lulus Kang?’’
‘’Besok!’’ Nenden melipir ke kamar Budi. Di sana ia mau mencoba menyadarkan Budi yang masih pingsan.
“Bud, bangun Bud, ada kebakaran di bukit Sobirin Park!”
Hening, Budi masih belum sadar.
“Bud, motor trail Lu ada yang nyolong.”
‘’Apa? Siapa?! Kapan?! Di mana?! Bagaimana?!” Budi terperanjat bangun. Dilihatnya Nenden yang hendak menceramahi Budi. Ia kemudian kembali memejamkan mata dan menarik selimut.
“Brengsek Lu Bud. Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang tali jemuran.”
‘’Bang, gue beneran pingsan tadi. Gue takut Bunda kenapa-napa. Kalau Bunda pergi ntar gue sama siapa?” Mata Budi berkaca-kaca.
Plak! Nenden menggeplak kepala Budi. “Sama motor Lu! Sembarangan aja kalo ngomong. Imajinasi Lu kejauhan.’’ Ia kemudian merenung. “Tapi gue juga sama Bud. Gue ngerasa khawatir akut.’’
Nenden dan Budi lalu serta merta berpelukan dan bertangis-tangisan, ditonton oleh Tonomen di pojok kamar.
Setelah puas menangis untuk kedua kalinya, Nenden ke luar kamar Budi. Ia malah mendapati Lia keluar dari kamar emaknya berlinang air mata.
Sial, kenapa banyak orang mewek hari ini sih? Keluh Nenden. Karena kekepoannya mengalahkan egonya, ia mengikuti Lia ke lantai atas. Ia sedikit khawatir pada adiknya yang terkenal gampang terluka dalam. Nenden kemudian menghalangi Lia masuk ke kamarnya.
“Minggir gak? Atau gue panggil polisi?’’
‘’Panggil sana gue gak takut! Gue juga punya temen Satpol PP. Elu mau apa?’’
‘’Idih!’’ Lia kemudian menginjak kaki Nenden dengan selop kayu sandal terapi.