SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #15

BUNDA Hj. SUMIATI BATAL MANDI DI KOLAM PAMAN GEBER 2

Karena masih shock dengan kejadian penipuan kemarin. Hj. Sumiati masih terbaring lemas di ranjangnya. Kadang ia suka mengigau meminta maaf pada anak-anaknya, suaminya dan ayahnya, alm. Haji Sobirin. Ia berusaha menggandakan uang agar bisa cepat melunasi cicilan bank sehingga bukit Haji Sobirin tidak disita bank. Namun pada akhirnya upaya itu gagal total dan kebun warisannya bisa jadi lebih cepat dilelang.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, di suatu sore Hj. Sumiati terjatuh di kamar mandi. Ia sepertinya mengalami stroke.

“Bundaaa!” Melihat emaknya yang terbaring di ruang ICU, Budi pingsan lagi. Ia dibaringkan di lorong bangsal.

“Gemes! Gemes! Gemes! In this age? Ada yang masih percaya modus penggandaan uang?” Lia memukul-mukul pahanya sambil menggerutu tentang kebodohan emaknya. “Kalo gue bisa gandain duit sendiri, gak bakal gue kasih tahu orang lain caranya! Mending tajir sendirian bangun kastil! Hiks hiks hiks.’’

‘’Gue gak tahu emak se-desperate itu sampe bisa ketipu pengganda uang.” Ujar Nenden kecewa.

‘’Bun, Bun, gak worth it banget kena stroke gara-gara satu em.” Timpal Yola.

“Yola! Elu emang gak punya hati!’’ Lia yang dari tadi menangis wajahnya tetap on-point karena memakai riasan mata eyeliner dan maskara waterproof. Bulu matanya juga anti-puting beliung. Bibirnya masih mempertahankan kemerahannya karena transferproof dan kissproof. Nenden bilang itu cat akrilik yang biasa dia pakai untuk melukis. Hanya bedaknya sedikit luntur dan cakey karena memakai high coverage cushion.

“Bukannya Elu yang gak punya hati? Sempet-sempetnya dandan menor sebelum ke rumah sakit. Yah, gue emang gak punya hati sih. Gue cuma punya liver!’’

‘’Yola!’’ Lia bangkit dari kursi ruang tunggu.

‘’Apa?’’ Yola balas berdiri kerkacak pinggang.

Mendengar gelagat mereka yang hendak menyabung ayam, Nenden kali ini tidak bisa tinggal diam. Karena ini di rumah sakit, ruang publik. Kalau mereka bertengkar di rumah, dia tinggal menonton dari dekat. Ia kemudian menyelipkan diri di antara Lia dan Yola.

‘’Ssstt, bisa gak sehari aja gak berantem? Kalian tuh udah tante-tante tapi masih suka berantem? Gak malu sama anak kecil? Kalian udah memberikan contoh yang buruk sebagai orang dewasa!’’ Nenden yang berakting sebijaksana mungkin menoleh pada anak-anak yang kebetulan ada di ruang tunggu bersama orang tua mereka. Mereka seperti mengkerut ketakutan menyaksikan Yola dan Lia. Tapi di antaranya ada yang sudah bertepuk tangan.

“Huh! Dasar! Awas kamu ya!” Lia dan Yola secara bersamaan memukul badan Nenden sebagai pelampiasan. Lia memukul punggung Nenden seperti menabuh beduk sementara Yola memukul dadanya sekali seperti memecahkan kendi.

Ughh! Kayaknya gue harus masuk ICU juga!’’ Ujar Nenden kesakitan.

“Teganya kalian! Kalian saudara gue bukan? Gue ditinggal sendirian di lorong rumah sakit kayak korban tabrak lari?’’ Budi tiba-tiba datang.

“Maaf Bud, Akang terlalu fokus melerai tawuran anak SMK. Takut ada korban jiwa.’’ Kelit Nenden sambil mengedipkan mata ke arah Yola dan Lia berada. Budi pun segera paham dan tak mengungkit lagi. Ia kemudian duduk di dekat Lia.

Kini Nenden dan Yola mondar-mandir berpikir keras di depan ruang ICU. Harus mulai dari mana?

‘’Kang, gue mau buka toko besok. Kalau emak lagi normal, hal pertama yang dia khawatirkan pas bangun tidur itu tokonya. Suruh Lia dan Budi aja yang nungguin emak. Besok pagi Elu mending ke Sobirin Park. Minta temenin sama Bang Tonomen.” Kali ini malah Yola yang mengendalikan situasi.

“Anj*ng! Gimana caranya gue ngelacak si pelaku penipuan?‘’Nenden mengepalkan kedua tangannya penuh amarah di depan dinding rumah sakit. Ia tak mau memukulkannya ke dinding karena pasti akan sangat sakit. “Gimana kalau kita lapor polisi aja, Yola? Yol? Yol?”

Nenden celingak celinguk mencari sosok Yola, yang ternyata sudah meninggalkannya seratus tahun lalu.

Karena pikirannya kalut tak bisa konsentrasi, Nenden memutuskan untuk menunda kelas meditasi selama dua minggu ke depan. Di Sobirin Park ia lebih banyak melamun daripada menjaga portal. Siang itu ia  berakhir hanya memutar kipas mini, dapat pinjam dari pegawai lain, di depan dagunya.

Anak-anak Hj. Sumiati tak bisa mengorek keterangan lebih lanjut karena emak mereka keburu kena stroke. Mereka juga tak mau mencakar di luka yang belum sembuh. Mereka akan membiarkan emak mereka sembuh dulu baru naik ke tangga selanjutnya. Karena itu mereka menunda untuk melaporkan kasus ini ke polisi. Terlebih Lia. Ia merasa tengsin kalau keluarganya ketahuan kena kasus penipuan yang sangat tidak logis, modus penggandaan uang namun bukan difotokopi.

“Apa kata dunia? Mau ditaruh muka aku Kang?’’

Teh, kata Yola, di kepala lah, masa di pantat? Ehehehe.’’ Budi menirukan mimik wajah Yola. Ia sepertinya pengikut Dajjal karena hobi memantik api perseteruan di antara Yola dan Lia. Yola kemudian menjewer telinganya.

Yang pasti kemungkinan terburuk adalah uang keluarga mereka tidak akan bisa kembali. Mereka curiga pelaku penipuan adalah sindikat profesional.

Lihat selengkapnya