SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #16

PENGKHIANATAN LIA

Tonomen berjanji membantu Nenden untuk menyelesaikan skripsi demi emaknya. Ia kemudian mengajaknya ke suatu tempat di pedalaman Jakarta. Di belakang deretan toko yang menjual buku bajakan. Mereka kemudian menemukan satu toko spesialis duplikat kunci. Di plangnya tertulis Master Skripsi Tesis Disertasi.

‘’Gak salah Ton, kita masuk sini?’’

“Udah, ikut aja, Men.”

Sebelum masuk, Nenden dan Tonomen disapa oleh abang-abang bertopi Tersayang yang warna merah jambunya sudah luntur entah kapan.

“Kata kunci?”

“Sitaserdi siste sikrip termas.’’ Jawab Tonomen dengan cepat. Nenden tak percaya, dia pikir itu Bahasa Latin kuno.

Abang-abang itu kemudian membuka selembar spanduk tertib lalu lintas yang tergantung vertikal di belakang etalase. Di belakang spanduk ternyata ada pintu. Tonomen kemudian membuka pintu. Nenden mendapati terdapat tangga menurun ke ruang bawah tanah. Mereka bertemu satu lagi pintu kayu yang dilapisi plat alumunium. Di depan pintu digantung tulisan ‘Jangan Lupa Assalamualaikum dulu’.

Begitu Tonomen membuka pintu tersebut, ia mendapati ruangan bercat putih yang cukup luas. Tidak sekumuh toko duplikat kunci di atas tadi. Di ruangan itu terdapat beberapa komputer dan laptop. Ada rak besi berisi penelitian ilmiah dan buku-buku. Dan, ia menemukan Aknes di sana sedang mengetik.

“Kerja sambilan Bang,” Agnes nyengir sambil jari jemarinya terus mengedit ulang laporan ilmiah seperti nanti malam mau diterbitkan di jurnal.

Tonomen kemudian memperkenalkan Nenden pada seorang pria yang secara usia di atas Nenden sedikit.

“Kenalkan Den, ini Master Skripsi.”

Nenden kemudian menyalaminya.

“Silahkan duduk! Saya sudah tahu maksud kalian! Ehehehe” Lelaki berkacamata minus itu menyapa tanpa basa-basi. “Sudah tahu kan peraturannya?’’

Nenden melirik temannya yang berdiri di belakangnya. Tonomen kemudian menepuk-nepuk bahu Nenden. Mengapa ia merasa sedang dalam adegan film survival fiksi ilmiah?

“Peraturan nomor 1, fokus!” Katanya.

Nenden kemudian diwawancarai oleh Master Skripsi tentang latar belakang pendidikannya, temasuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan studinya. Pada akhirnya ia harus tinggal di sana selama kurang lebih seminggu. Tonomen dengan tega meninggalkannya.

“Guys, Akang mau bertapa dulu ya, mencari wahyu hiks. Ini semua demi Bunda.’’ Nenden menghubungi adik-adiknya via video call.

‘’Kang Wahyu ada di rumahnya kok. Ehehehe.” Sahut Budi.

“Nah gitu dong Kang!” Lia menimpali.

‘’Bye! beristirahatlah dengan tenang di sana. Jangan pulang sebelum selesai.” Yola menutup sesi video call.

Sepeninggal Nenden, Budi merasa pengunjung Sobirin Park mulai berkurang banyak. Namun ia tak ambil pusing karena memang pikirannya lagi mumet dengan urusan keluarga. Yola juga sudah jarang berkunjung karena sibuk di toko. Sementara itu Tonomen juga jarang ke Sobirin Park dengan dalih sedang mengontrol perkembangan skripsi Nenden.

 Namun lama kelamaan Budi merasa terganggu. Kenapa jadi semakin sepi ya? Padahal ia lagi kejar setoran untuk membayar cicilan bank agar bukit Haji Sobirin tidak disita.

“Ngerasa gak sih kalo tempat kita jadi makin sepi pengunjung?’’ Ujar Budi.

“Ah, gue gak suka ini, omzet menurun.’’ Timpal Yola ketika berkunjung pada suatu hari.

‘’Apa mereka udah bosan? Apa kita perlu melakukan inovasi lain? Apakah kita tanya Bang Tonomen lagi? Tapi akhir-akhir ini dia jarang ke Sobirin Park.’’

Setelah seminggu berlalu, Hj. Sumiati pindah kamar ke bangsal Kelas 1. Ia sekarang memakai kursi roda. Nenden akhinya keluar dari sarang Master Skripsi. Ia akan sangat sibuk bolak-balik kampus. Ia tidak begitu fokus memperhatikan perkembangan Sobirin Park. Yola juga melarang Budi untuk mengadu pada Nenden tentang kondisi situs wisata mereka. Ia khawatir konsentrasi Nenden terganggu.

Lihat selengkapnya