SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #17

FINAL BATTLE 1

Sementara itu, mendengar kabar dari salah satu pegawai Sobirin Park kalau Budi terluka di dekat sumur berhantu, Yola segera menghidupkan motor matiknya. Sesampainya di sana ia tidak melihat Budi dan Nenden. Ia hanya melihat jejak ceceran darah dan pistol mainan. Yola memungut pistol tersebut dan menaruhnya di kabin motor.

Saat hendak pergi menyusul ke puskesmas, ia mendengar suara kucing mengeong dari dalam sumur. Selain kucing, ia juga melihat benda aneh serupa panci dan tutupnya mengambang di dalam sumur.

“Siapa yang berani membuang kucing dalam panci ke bawah sumur?” Yola geram.

Yola kemudian meminta bantuan pegawai Sobirin Park untuk mengangkut benda itu ke permukaan. Namun setelah ada di atas tanah, Yola tidak yakin dia bisa membuka tutup panci yang kelihatan begitu rapat. Ia lalu membawanya pulang ke rumah.

Tidak berapa lama kemudian, Nenden yang tiba di sumur berhantu, melihat sumur itu sudah tertutup beton kembali. Ia juga tak menemukan pistol laser. Nenden mengintip ke dalam sumur, ia tak melihat benda seperti panci. Apakah mungkin tenggelam?

Nenden kemudian memberikan diri untuk menyapa ke dalam sumur. “Halo, Assalamu’alaikum! Punten, Bapak Ibu lihat kucing di dalam sumur gak?”

Hening, tak ada jawaban.

“Kucing saya hilang berikut pancinya.”

Alih-alih jawaban yang didapat, angin sepoi-sepoi namun menusuk tengkuk tiba-tiba berhembus. Nenden buru-buru pergi untuk menengok Budi.

“Kang, Elu jangan marah ya?’’

‘’Kenapa?’’ Mata Nenden menyipit.”Oke gue janji.”

Budi kemudian menceritakan percakapannya dengan Lia. Kedua tangannya mengepal kemudian terbuka. Ia bersiap hendak mencakar dinding puskesmas. Mulutnya terbuka memperlihatkan gigi taring.

‘’Hm, katanya tadi janji gak bakal marah? Ehehehe.’’ Sindir Budi.

‘’ Janjiku kepadamu sudah usang dimakan waktu. Grrr…”

Yola berdiri bersidekap di dekat pintu kamar menggantikan Budi sementara Lia duduk di ranjang.

“Pantesan Sobirin Park sepi setelah gue pergi, ternyata mestika gue juga raib. Memangnya Elu dijanjiin apa sama si Fakih? Status bini sah? Status PNS?” Nenden bolak-balik mengelilingi kamar Lia sambil mengacak-ngacak rambut keriting gondrongnya yang memang sudah kusut. Ia tak habis pikir Lia sebodoh itu mau diperdaya Fakih untuk mencelakainya, dalam bentuk lain.

“Ini kan salah kalian juga! Terlalu sibuk asyik sendiri sampai gak nyadar kalau emak kita kena tipu! Kalian juga gak berbuat apa-apa buat nyelidikin kasus ini. Dia gak janjiin apa-apa buat gue. Gue yang malah minta bantuan dia buat mencari para penipu emak. Dia janji bakal nyuruh Jaka dan Pemuda Trisula buat melacak si penipu, kalau perlu nangkap mereka. Syukur-syukur duit emak bisa balik.’’

‘’Kalo gitu kenapa Lu gak langsung minta bantuan si Jaka ketua Pemuda Trisula cabang kecamatan Cikararas?”

“Dia kan bukan pacar gue.”

“Amsyong!” Nenden menepuk keningnya. “Terus, kenapa si Fakih sampe pengen pake liontin gue? dari mana dia tahu kalo gue punya batu liontin sakti mandraguna?’’

‘’Gue gak tahu. Dia bilang Akang pasti punya ‘benda pegangan’ karena bisa menarik massa banyak buat ke Sobirin Park dan kelas meditasi. Trus dia bilang, kalo dia bisa pinjem bentar buat kampanye pilkada, pasti bakal banyak yang milih dia.”

“Dan Lu percaya omongan dia? Gue pikir otak Lu udah scientific Lia, Lu kan anak kesehatan.’’

Mata Lia jalan-jalan mengililingi plafon kamar, gugup.

“Lia, Lia, Lia, Lu pernah mikir gak sih, kalopun dia kepilih jadi bupati, belum pasti juga dia bakal milih Elu sebagai istrinya?”

“Ih, Akang kok mikir kayak gitu?”

Lihat selengkapnya