SEKTE PENYEMBAH KUCING

Z. Uyun
Chapter #18

FINAL BATTLE 2

Setelah solat subuh Nenden bersiap-siap hendak pergi ke alun-alun Cikararas menyaksikan acara jalan santai. Diam-diam dia sudah mengantongi dua tiket jalan santai yang ia dapat dari menyuruh pegawai Sobirin Park. Siapa tahu kan gue dapat doorprize mobil? Trus, Bunda dapat tiket umroh.

Kang, udah belum?” Yola tiba-tiba mengetuk pintu kamar kakaknya setelah selesai mengurung Kapten Buru2x di kamar mandi.

“Ayo kemon kita berangkat bareng!” Nenden membuka pintu.

Kang, minjem topi.”

Nenden kemudian berbalik arah hendak mencari topi untuk Yola.

Namun, ”Aaakh!” Yola memukul tengkuknya dengan kuat hingga ia pingsan. Adiknya itu kemudian mengikat dan mengurungnya di kamar.

Sorry Kang, ini demi kebaikanmu.’’ Yola mengambil dua tiket Nenden. ‘’Gue juga pengen dapat doorprize mobil.’’ Ia tersenyum.

Yola kemudian gerilya ke kamar Budi yang biasanya bangun lebih siang.

“Sial!” Saat ia menengok kamarnya, Budi sudah tak ada batang hidungnya. Rupanya ia sudah berangkat dengan Lia sejak jam 4 subuh. Ia tidak tahu kalau Budi jadi timses Fakih dan Jaka.

Hingga tiba di alun-alun, orang sudah riuh ramai. Hadiah doorprize mobil listrik warna putih sudah ada di sisi kanan panggung. Di belakang mobil bertumpuk hadiah yang lain.

Dari kejauhan Yola melihat bagaimana Fakih dan Jaka diarak naik di atas Sisingaan. Boneka manekin singa untuk mengarak anak-anak yang disunat.

“Astaga, emang kalian penganten sunat?! Grow up guys!’’

Setelah puas diarak diiringi tabuhan kendang penca dan pasukan kuda lumping jadi-jadian palsu, kali ini mereka tidak makan beling, Fakih dan Jaka beserta kroninya menaiki panggung utama. Yola melihat Lia dan Budi sudah standby di sana. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah setengah batu Mestika Moy3x dijadikan ornamen hiasan di depan peci hitam Fakih. Ala-ala peci sultan tambang minyak.

Jika Yola berteriak maka suaranya akan tenggelam, maka ia berlari mendekati panggung tempat Lia berdiri. “Lia! Lia!” Namun kakak perempuannya itu pura-pura tidak mendengarnya. Menjengkelkan! Ia kemudian melipir ke belakang panggung tempat kru panggung dan sound engineer berkumpul. Ia juga melihat Tonomen di sana memakai kaos bergambar Fakih, yang sepertinya jadi bagian timses Fakih. Sohib kakaknya itu kemudian naik panggung, merangsek berjalan ke belakang Fakih dan Jaka.

“Lia! Lia!” Lia tak menyahut panggilannya namun ia turun panggung untuk menemuinya.

“Sabar kenapa? Bentar lagi acaranya selesai, abis dia pidato gue ambil deh!”

Meskipun kesal, Yola menurut. Merek menunggu Fakih selesai bicara, karena di panggung ia sedang berbincang dengan MC.

Kemudian, ‘’Ingat, Bapak Ibu, pilih saya, FakJak, Fakih dan Jaka, nomor urut satu! Nomor urut berapa Bapak Ibu?’’

‘’Nomor satuuuu!’’ Sahut 10.000 massa kurang, karena satu orang ada yang mendapat tiket lebih dari satu.

‘’Naik pohon kelapa yang dipetik malah batu, jangan lupa pilih nomor satu!’’ Fakih melempar pantun.

“Disengat lebah sehabis dipalak perjaka, Ingat pilih FakJak Fakih dan Jaka!” Timpal Jaka tidak mau kalah.

Fakih, Jaka dan MC kemudian memimpin massa untuk meneriakkan angka satu.

‘’Saaaatuuuu! Saaaatuuuu! Saatuuuu! Saaaatuuuu! Saaaatuuuu! Saatuuuu”

Saat massa mengumandangkan angka satu itulah, perilaku mereka berubah menjadi liar seperti kucing. Mereka saling mencakar satu sama lain.

Fakih, Jaka dan timses yang ada di panggung tidak mengerti apa yang terjadi.

Lihat selengkapnya