“Ouchhh! Errrhhh!” Tonomen menggeram kesakitan setelah dilukai Yola. Demi bisa lolos dari capitan Yola, Ia kembali ke bentuk semua, kucing kecil biasa. Setelah lolos, ia mengubah dirinya menjadi kucing polkadot hitam putih raksasa setinggi tiang listrik. Badannya juga ikut membesar bagai habis menyantap makan siang jatah siswa sepuluh SD. Ia kemudian berjalan ke tengah lapangan.
“Huwaaaaaaaaa!”
Khalayak panik berhamburan, namun ada juga yang punya nyawa sembilan merekam dengan gawainya, termasuk Rasid dan Gayus yang mukanya penuh bekas cakaran.
Mereka membuat siaran langsung di kanal tikotok.
“Halo gaess! Salam olahraga! Pagi ini kita di acara jalan santai bersama Bapak Fakih, calon bupati Cikararas. Kita gak ngerti kenapa muka kita yang mulus kayak jalan tol bisa ada jejak darah. Ok lanjut ke masalah utama. Gaess, jalan kita kali ini tidak santai, tapi seru banget gaess! Kayak di film-film superhero! Banyak monsternya gaess! Udah dapat sembako, trus syuting film pula! Tuh lihat di belakang kita sekarang ada kucing raksasa!’’
Melihat ada Rasid dan Gayus yang sedang siaran langsung, Yola yang masih berwujud kepiting melambai-lambaikan capitnya, meloncat-loncat ingin masuk kamera.
‘’Huwahhh, ayo lari Sid ! Gaess! Kita mau cari tempat yang aman dulu!‘’ Kamera Gayus berguncang-guncang dibawa berlari.
‘’Kita dikejar Gojilaaa! Doain kita supaya selamat!’’ Siarang langsung kemudian terputus.
‘’Tono! Ton! Ton! Ton! Gue di sini! Nenden meloncat-loncat di trotoar alun-alun, kali ini dekat pedagang es dawet. Ia memakai kaos kampanye bergambar Fakih sumbangan seorang bapak baik hati, untuk menutupi area bawahnya.
Tonomen kucing raksasa kemudian memutar kepalanya ke arah suara Nenden berasal. Begitu menemukan teman karibnya, Tonomen mengangkatnya ke atas pohon sukun. Anehnya Nenden hanya diam tak melakukan perlawanan. Ia kemudian nemplok di atas ranting besar. Kini mereka berdua saling beradu tatap seperti dalam film India.
“Ton, udah cukup! Jangan bikin kerusakan lebih parah! Elu sebaiknya berhenti sampai sini saja. Kapten Buru2x udah cerita sama gue. Gue tahu ini susah buat Elu. Tapi Planet Meomen udah gak layak ditinggali sejak kena bom nuklir. Gak ada gunanya menyerang Meorus. Elu mau bikin penduduk yang gak bersalah kehilangan tempat tinggal juga? Kenapa Elu gak hidup damai aja di sini di Bumi sebagai Tono Hartono?’’
‘‘Be realistic, demand the impossible! Tidak ada yang tidak mungkin! Jika engkau punya mimpi maka segenap semesta akan mendukungmu! Elu gak paham gimana rasanya kehilangan rumah, keluarga, teman, tetangga tersayang gara-gara perang! Semua ini gara-gara kucing-kucing Meorus terkutuk!’’
‘’Ton! Perang itu menang jadi arang kalah jadi abu!’’
‘’Den, kelamaan hidup di Bumi bikin kamu kehilangan perikekucingan! Apa si Buru2x juga memberitahumu kalau kamu adalah pewaris tahta dari Planet Meomen? Aku membawamu pangeran kucing yatim piatu ke Planet Bumi supaya kamu bisa mengumpulkan pasukan manusia untuk menjadi prajurit kucing kita! Ingat jati diri kamu siapa! Kamu adalah pemimpin masa depan Planet Meomen!’’
Nenden menampar-nampar pipinya sampai merah. Berharap ini mimpi semata. Kemudian ia ingat tentang cermin milik Yola yang dimana ia melihat tengkorak kucing ketika bercermin. Mungkinkah sejatinya dirinya adalah kucing? Tidaaak!
‘’Aku bukan penduduk Planet Meomen! Aku warga Kp Desa Cikararas Kec. Cikararas Kab. Cikararas Provinsi Jawa Barat! Tiddakk Tono!” Nenden menutup kedua telinganya. Ia mencoba membayangkan masa kecil sampai besarnya hidup dalam keluarga Hj. Sumiati seperti reels iklan sebelum film utama diputar di bioskop.
Ia adalah cucu Haji Sobirin, anaknya Bunda Hj. Sumiati dan H.Santosa.
“Bun bun, Nenden ranking satu di kelas 5! Tapi dari belakang. Ehehehe. Bun, yang penting kan aku ranking satu. Aku minta hadiah sepeda BMX kayak punya Fakih!”
“Nanti Bunda beliin sepeda onthel yang ada boncengan aja biar kamu bisa sepedaan sama adik-adik kamu.”
“Ih Bunda! Mereka kan udah punya sepeda roda tiga!”
Ia adalah kakaknya Lia, Yola dan Budi.
“Siapa yang ngambil eskrim matcha gue di kulkas!” Teriak Yola.
“Tuh si Budi. Lihat aja matanya ijo.’’
‘’Kok maling teriak maling sih Kang? Kan eskrimnya tadi kita potong dua? Tuh lihat badan Akang malah ijo kayak Hulek. Ehehehe.”