Rara sudah hafal bunyi telepon tengah malam.
Bukan karena ia susah tidur. Bukan karena ia sering begadang. Tapi karena dalam tiga tahun terakhir, telepon tengah malam selalu berbunyi untuknya, dan selalu tentang hal yang sama. Ia bahkan tidak perlu lihat layar untuk tahu.
Malam itu, jarum jam menunjuk angka dua lewat empat belas menit ketika getaran pertama terasa di meja nakas. Rara membuka mata. Langit-langit kamar gelap. Di sebelahnya, Mas Wahyu tidur dengan napas teratur, punggungnya membelakangi dirinya, hangat dan tidak terganggu. Rara meraih ponsel itu sebelum bergetar untuk kedua kalinya.
Nomor yang tidak tersimpan. Tapi dengan kode awal yang ia kenal: kode telepon rumah, kode kampung lamanya.
Ia angkat.
"Halo, ini dengan Mbak Rara? Mbak Rara-nya Pak Bagyo?"
Suara perempuan tua. Sedikit panik, tapi lebih banyak sungkan, seperti orang yang tidak enak menelepon tapi tidak punya pilihan lain.
"Iya," jawab Rara. Pelan. Tidak membangunkan Mas Wahyu. "Saya."
"Ini Bu Tini, Mbak. Rumahnya di sebelah timurnya Pak Bagyo. Yang pagarnya biru itu lho, Mbak."
Rara duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. "Iya, Bu Tini. Ada apa?"
"Ini... Pak Bagyo ada di depan rumah saya, Mbak. Sudah dari tadi. Saya kira awalnya mau lewat, tapi kok diam saja. Saya lihat dari jendela, beliau berdiri di depan pagar saya, Mbak. Mukanya ke atas, kayak... kayak manggil-manggil orang."
Rara memejamkan mata sebentar. Satu detik. Dua detik.
"Beliau manggil siapa, Bu?"
Hening sejenak di ujung sana. Lalu, dengan suara yang turun setengah nada, penuh rasa tidak tega yang tidak tahu harus ditaruh di mana: "Manggil... Sumarni, Mbak."
Nama itu menghantam dada Rara dengan cara yang sudah ia kenal, tapi tidak pernah bisa ia biasakan. Sumarni. Nama ibunya. Perempuan yang sudah delapan tahun tidak ada di dunia ini, tapi rupanya masih terus dicari oleh orang yang paling lama hidup bersamanya.
"Baik, Bu Tini," kata Rara. Suaranya rata. Dilatih rata. "Terima kasih sudah telepon. Saya segera ke sana."
Ia tidak membangunkan Mas Wahyu.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi jika ia membangunkannya. Mas Wahyu akan membuka mata, akan bilang "kenapa, Ra?", akan mendengar penjelasannya, lalu akan bilang "kamu mau pergi sekarang?" dengan nada yang bukan marah, bukan juga tidak peduli, tapi nada yang sudah terlalu lelah untuk ikut merasakan. Dan Rara tidak mau harus mengurus dua orang sekaligus malam ini. Satu sudah cukup.
Ia ambil jaket di balik pintu. Kunci motor dari gantungan. Sendal jepit yang sudah cukup tua untuk tahu mana tapak kaki kanannya dan mana yang kiri.
Malam di luar rumah berbau tanah basah. Hujan rupanya turun sebelum tengah malam, sekarang sudah reda, tapi bekas-bekasnya masih ada di mana-mana. Genangan kecil di lubang jalan. Daun pisang tetangga yang menunduk berat. Udara yang lebih dingin dari biasanya, menempel di kulit lengannya seperti tangan yang tidak diundang.
Rara menghidupkan motor. Tidak buru-buru. Ia tidak pernah buru-buru dalam hal seperti ini, bukan karena tidak khawatir, tapi karena ia sudah tahu bahwa kepanikan tidak pernah membuat jarak jadi lebih pendek. Ia yang dulu pernah panik. Dua tahun lalu, ketika Bapak pertama kali tersesat di warung dekat rumah yang jaraknya tidak sampai lima ratus meter. Waktu itu Rara sampai di sana dengan napas tersengal, lutut gemetar, hati bergemuruh. Dan Bapak ada di sana, duduk tenang di kursi plastik merah, memesan kopi yang tidak jadi diminumnya, menatap ke jalan seperti sedang menunggu seseorang.
Bapak baik-baik saja waktu itu.
Yang tidak baik-baik saja adalah Rara, selama berjam-jam sesudahnya.
Jadi sekarang, ia belajar untuk tidak buru-buru. Ia belajar untuk mengatur napas sebelum berangkat. Ia belajar untuk tidak menangis di atas motor karena jarak pandangnya jadi buruk.
Ini bukan tidak peduli. Ini hanya cara ia bertahan.
Dua puluh menit kemudian, Rara memasuki gang sempit yang sudah ia hafal di luar kepala.
Gang ini tidak berubah. Itulah yang selalu terasa aneh setiap kali ia pulang, seolah semua di sini berdiri diam dan menunggu, sementara di luar sana hidup terus berputar. Aspal yang sama, retak di tempat yang sama. Lampu jalan yang satu masih remang, sudah dari zaman ia SMA. Pohon mangga di ujung gang yang batangnya makin besar tiap tahun tapi tidak pernah ada yang ingat menanamnya.
Dari jauh, ia bisa melihat siluet itu.
Bapak berdiri di depan pagar Bu Tini, pagar besi bercat biru yang sudah memudar jadi abu-abu muda. Tubuhnya yang dulu tegak, yang dulu bikin Rara merasa aman hanya dengan berdiri di belakangnya, sekarang tampak lebih kecil dari yang ia ingat. Bahu yang sedikit membungkuk. Rambut putih yang tidak rata karena tidur. Baju tidur motif kotak-kotak yang Rara belikan tahun lalu.
Ia mematikan mesin motor. Berjalan pelan.
Bapak tidak mendengarnya datang. Ia masih menatap ke atas, ke jendela lantai dua Bu Tini yang gelap, ke langit yang berawan, ke sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Bibirnya bergerak pelan. Rara menajamkan telinga.
"...Mar... Sumar... ini Bapak, Mar. Sudah malam, kok belum pulang..."
Suaranya bukan suara orang tua yang pikun. Bukan suara bingung, bukan suara takut. Suaranya adalah suara orang yang sedang menunggu, dengan sabar, dengan yakin, dengan cinta yang tidak tahu bahwa delapan tahun sudah berlalu.
Rara berhenti selangkah di belakangnya.
Ia tidak langsung bicara. Ia berdiri di sana, dalam dingin malam yang berbau tanah basah, dan menatap punggung ayahnya. Dadanya terasa penuh, bukan dengan tangisan, bukan dengan amarah. Dengan sesuatu yang tidak ada namanya. Sesuatu yang tumbuh pelan di antara cinta dan kesedihan dan kelelahan sampai ketiga hal itu tidak bisa lagi dibedakan.
Bapak mencari Ibu.
Bapak mencari Ibu, dan tidak akan pernah menemukannya.
Dan Bapak tidak tahu itu.
Kadang-kadang Rara tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, mengetahui kehilangan itu atau tidak mengetahuinya sama sekali.