Jarak bukan hanya soal kilometer.
Ini yang tidak pernah benar-benar dipahami orang sampai mereka sendiri mengalaminya, bahwa ada orang-orang yang tinggal di kota yang sama dan lebih jauh dari orang yang terpisah dua pulau. Bahwa jarak yang paling jauh bukan yang diukur dengan peta, tapi yang tumbuh diam-diam di antara dua orang yang dulu tidur di kamar yang sama, makan di meja yang sama, tumbuh di bawah atap yang sama.
Hendra tahu ini.
Ia tahu persis jarak antara dirinya dan rumah itu, bukan dalam kilometer, tapi dalam tahun. Dalam pilihan. Dalam setiap kali ia tidak pulang waktu ada alasan untuk pulang, dan selalu punya alasan untuk tidak pulang waktu seharusnya ia ada di sana.
HENDRA
Jakarta, 02.47 WIB
Pesan dari Rara masuk jam dua lewat empat puluh tujuh menit.
Hendra tidak tidur.
Bukan karena ia menunggu kabar. Memang tidak ada yang ia tunggu. Ia tidak tidur karena malam-malam belakangan memang seperti ini: ia berbaring di kasur yang terlalu lebar untuk satu orang, di apartemen yang terlalu sunyi untuk seseorang yang takut kesunyian, dan matanya menolak untuk tutup sampai tubuhnya menyerah dengan paksa entah jam berapa.
Psikolog yang pernah ia kunjungi dua kali sebelum akhirnya berhenti, karena sesi ketiga terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak siap ia sentuh, pernah bilang bahwa insomnia seringkali bukan soal tidak bisa tidur. Lebih sering soal sesuatu yang tidak mau dibiarkan diam di kepalamu begitu lampu dimatikan.
Hendra tidak pernah kembali ke sesi ketiga itu.
Layar ponselnya menyala di kegelapan.
"Bapak tadi ditemukan Bu Tini di depan rumahnya jam 2 pagi. Manggil-manggil Ibu."
Ia membacanya sekali. Lalu membacanya lagi. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ada bagian dari otaknya yang menolak untuk langsung menerima kalimat itu, yang masih ingin menawar satu detik lagi sebelum realita itu benar-benar masuk dan menetap.
Manggil-manggil Ibu.
Hendra menaruh ponselnya di dada. Menatap langit-langit.
Di luar jendela, Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Selalu ada cahaya dari suatu tempat: lampu jalan, papan iklan, kaca gedung yang tidak pernah dimatikan. Kota ini tidak mengenal istirahat, dan kadang-kadang Hendra merasa itulah yang membuatnya betah. Di kota yang tidak pernah diam, mudah untuk tidak jadi satu-satunya orang yang tidak bisa berhenti.
Tiga titik yang ia kirimkan ke Rara, ia tidak tahu kenapa ia mengetiknya. Ia mulai menulis banyak hal. "Sudah aku baca." Terlalu dingin. "Ya Allah, serius?" Terlalu dramatis. "Aku akan pulang segera." Dan di sini jarinya berhenti.
Karena itu bukan kalimat yang bisa ia tulis dengan mudah.
Bukan karena ia tidak mau pulang. Tapi karena pulang berarti cuti yang harus dikomunikasikan, meeting yang harus dijadwal ulang, klien yang sudah menunggu presentasi akhir bulan, dan Mira, istrinya, yang minggu ini juga sedang ada di luar kota untuk urusan kantornya sendiri, yang berarti tidak ada yang bisa ia titipi anggrek-anggrek di balkon yang disiram dua hari sekali itu, dan itu artinya...
Ia menghentikan pikirannya sendiri.
Ia menghentikannya keras-keras.
Bapak berdiri di tengah malam, memanggil perempuan yang sudah delapan tahun tidak ada. Dan kamu sedang memikirkan anggrek.
Mual itu datang pelan, bukan mual fisik, tapi yang lebih dalam dari itu. Mual yang datang ketika kamu menyadari dirimu sendiri dan tidak menyukai apa yang kamu lihat.
Ia ketik tiga titik. Kirim. Dan taruh ponselnya.
Yang tidak banyak orang tahu tentang Hendra, yang bahkan Rara dan Nisa mungkin tidak sepenuhnya tahu, adalah bahwa ia juga takut.
Bukan takut yang mudah diakui. Bukan takut yang bisa ditunjukkan.
Ia takut pulang bukan karena tidak cinta Bapak. Ia takut pulang justru karena cinta itu ada, dan karena setiap kali ia pulang dan melihat Bapak, melihat betapa banyak yang sudah berubah, betapa banyak yang sudah hilang dari mata itu, ada sesuatu di dalam Hendra yang retak dengan cara yang tidak bisa ia perbaiki sebelum ia harus pergi lagi.
Dan pergi dengan retakan itu terasa lebih berat dari sebelum datang.
Jadi ia membuat jarak. Bukan dengan sengaja, atau mungkin dengan sengaja, ia tidak yakin lagi. Ia membuat jarak dengan cara yang tampak masuk akal dari luar: pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, jadwal yang padat, "nanti ya, setelah proyek ini selesai." Selalu ada proyek yang belum selesai. Selalu.
Mira pernah bilang, suatu malam dua tahun lalu ketika mereka masih lebih sering bicara dari sekarang: "Kamu itu bukan takut tidak punya waktu, Hen. Kamu takut punya waktu tapi tidak tahu mau ngapain dengan waktu itu."
Hendra tidak menjawab waktu itu.
Karena Mira benar. Dan tidak ada yang lebih menyebalkan dari orang yang benar tentang hal yang tidak ingin kamu dengar.
Jam empat pagi, Hendra akhirnya duduk di tepi ranjang dan membuka laptop.
Ia buka situs pemesanan tiket.
Jakarta. Kota asalnya. Kota kecil di Jawa Tengah yang tidak pernah masuk peta pariwisata, tidak punya objek wisata yang instagrammable, tidak punya apa-apa yang orang luar akan sengaja datangi. Hanya ada: jalan yang sempit, tetangga yang kenal semua orang, dan sebuah rumah dengan cat yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya yang Hendra tahu persis di mana saja letak pengelupasannya itu.
Tiket tersedia. Besok pagi, keberangkatan jam delapan.
Hendra menatap layar itu.
Tombol Pesan Sekarang berwarna merah menyala, kontras dan tidak sabar, seperti sedang memintanya untuk berhenti berpikir dan mulai melakukan.
Ia klik.