Ada yang aneh dengan rumah masa kecil.
Ia selalu lebih kecil dari yang kamu ingat.
Bukan karena ia menyusut, dindingnya sama, atapnya sama, lantainya sama. Tapi kamu yang sudah tumbuh. Kamu yang sudah mengisi dirimu dengan begitu banyak hal, pengalaman, luka, versi dirimu yang berganti-ganti, sampai tempat yang dulu terasa sebesar dunia kini terasa muat di telapak tanganmu. Dan itu, dengan caranya sendiri, adalah salah satu kesedihan kecil yang tidak pernah ada yang mengingatkanmu akan datang.
Rara sudah menunggu sejak pagi.
Ia rapikan ruang tamu yang tidak terlalu berantakan, menyapu halaman yang tidak terlalu kotor, memasak sesuatu yang tidak diminta siapapun. Bukan karena ia perlu melakukan semua itu. Tapi karena tangannya perlu bergerak, karena diam, hari ini, terasa terlalu keras untuk ditanggung.
Bapak duduk di kursi rotan di teras. Hari ini ia tampak lebih tenang dari semalam, kadang memang begitu, ada hari-hari yang lebih jernih dan ada yang tidak, tanpa pola yang bisa diprediksi. Ia memegang HP tuanya, memencet sesuatu yang Rara tidak tahu apa, sesekali bergumam pelan.
Jam sebelas siang, Nisa yang pertama datang.
Nisa datang dengan tas ransel besar di punggung dan tas kecil di depan, rambutnya diikat sembarangan, ada noda cat biru pudar di pergelangan tangan kirinya yang mungkin sudah ada sejak kemarin dan lupa dibersihkan. Ia turun dari ojek online, mengucapkan terima kasih kepada pengemudinya dengan cara yang tulus, bukan basa-basi, tapi sungguh-sungguh, seperti ia memang selalu menemukan alasan untuk berterima kasih kepada semua orang yang ia temui.
Ia berdiri sebentar di depan pagar.
Menatap rumah itu.
Cat temboknya putih kusam, dulu pernah putih bersih, sekarang sudah ada bercak-bercak keabuan di beberapa sudut. Pagar besinya masih sama, hitam, dengan bunga-bunga dari besi yang bentuknya sudah Nisa hafal sejak kecil. Ada satu batang bunga besi di pojok kanan bawah yang bengkok sedikit, sudah bengkok sejak Nisa kelas dua SMP ketika Hendra tidak sengaja menabraknya dengan sepeda.
Tidak ada yang pernah memperbaikinya.
Nisa menghela napas. Lalu ia dorong pagar itu. Berdecit pelan, persis seperti yang ia ingat. Dan ia masuk.
Bapak yang pertama melihatnya.
"Nisa."
Bukan pertanyaan. Bukan terkejut. Hanya namanya, diucapkan dengan cara yang datar dan pasti, seperti Bapak memang sudah tahu ia akan datang hari ini dan sudah menyiapkan namanya di ujung lidah sejak tadi.
Nisa tersenyum. Lebar. Tulus. Cara senyumnya tidak pernah setengah-setengah.
"Bapak." Ia naik ke teras, ia jongkok di depan kursi rotan itu sampai wajahnya sejajar dengan wajah Bapak. "Sehat?"
Bapak menatapnya. Matanya yang sudah sedikit keruh itu menatap wajah Nisa dengan cara yang lama, bukan cara menatap orang asing, tapi cara menatap sesuatu yang familiar, yang kamu tahu ada di mana di dalam kepalamu tapi butuh waktu untuk menemukannya.
"Kamu tambah kurus," kata Bapak akhirnya.
Nisa tertawa. "Bapak tambah putih rambutnya."
"Iya. Tua."
"Bapak masih ganteng."
Bapak mendengus, suara antara tertawa dan tidak percaya, dan Nisa merasa dadanya penuh dengan sesuatu yang hangat dan sakit sekaligus. Karena ini Bapaknya. Ini masih Bapaknya, humor yang kering, ekspresi yang susah dibaca, tapi di balik semua itu ada sesuatu yang utuh, yang masih hadir, yang hari ini bisa ia sentuh.
Tidak semua hari seperti ini.
Ia tahu itu. Rara sudah ceritakan cukup banyak, dalam pesan-pesan singkat yang Nisa tidak selalu balas dengan cukup cepat, dan rasa bersalah tentang itu masih duduk di suatu tempat di dadanya, tidak berisik tapi tidak pergi.
Rara muncul dari dalam rumah, mengusap tangan di apron. "Sudah sampai. Makan dulu sana, lapar nggak?"
"Lapar banget." Nisa berdiri, memeluk Rara, sebentar, tapi sungguh-sungguh. "Makasih ya, Mbak."
Rara menepuk punggungnya sekali. "Masuk sana."
Hendra tiba dua jam kemudian.
Ia datang dengan taksi, bukan ojek, bukan angkot. Tas kopernya rapi, pakaiannya rapi, rambutnya rapi. Dari luar ia terlihat seperti orang yang tahu persis ke mana ia pergi dan apa yang akan ia lakukan di sana.
Tapi Rara, yang sudah cukup lama menjadi kakak untuk mengenali hal-hal yang tidak terlihat, melihat sesuatu di sudut mata Hendra ketika adik laki-lakinya itu berdiri di depan pagar dan menatap rumah itu untuk pertama kalinya dalam... berapa lama? Setahun lebih, Rara hitung. Lebaran kemarin Hendra tidak pulang. Ada alasan yang masuk akal waktu itu. Ada selalu alasan yang masuk akal.
Yang Rara lihat di sudut mata Hendra bukan air mata. Jauh dari itu.
Yang ia lihat adalah usaha, usaha keras, sedetik dua detik, untuk mengatur ekspresinya sebelum melangkah masuk. Seperti orang yang menarik napas sebelum menyelam.
Bapak tidak langsung menoleh ketika Hendra masuk ke teras.
Hendra berdiri di sana, satu langkah dari kursi rotan itu. "Bapak."
Bapak menatap ke halaman sebentar. Lalu menoleh. Menatap Hendra.
Dan terjadi sesuatu yang Rara dan Nisa kemudian tidak bisa saling tatap ketika mengingatnya: Bapak mengerutkan dahi. Sedikit. Cara yang dilakukan orang ketika mereka melihat wajah yang familiar tapi namanya tidak langsung muncul.
"Iya," kata Bapak. "Kamu... kamu siapa?"
Tiga kata.
Tiga kata yang, Rara tahu dari pengalamannya, tidak jarang keluar. Tapi tetap saja, setiap kali keluar, efeknya tidak berkurang. Tidak pernah berkurang.
Hendra tidak bergerak selama dua detik.
Lalu ia tersenyum, senyum yang Rara kenali sebagai senyum yang paling susah: senyum yang dibuat bukan karena ada yang lucu, bukan karena bahagia, tapi karena senyum adalah satu-satunya hal yang tersedia dan kamu tidak mau pilihan lainnya kelihatan.
"Hendra, Pak. Anak Bapak."
Bapak menatapnya lagi. Lebih lama. Seperti sedang mencocokkan sesuatu.
"Hendra..." ulangnya pelan. Lalu sesuatu di wajahnya berubah, tidak dramatis, tidak tiba-tiba, tapi berubah. Seperti kabut yang sedikit tertiup. "Yang di Jakarta?"
"Iya, Pak. Yang di Jakarta."
"Jauh-jauh pulang."
"Iya, Pak."