Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #4

Diagnosis

Rumah sakit punya bau yang tidak bisa ditiru oleh tempat lain.

Bukan bau yang tidak sedap, lebih ke bau yang terlalu bersih, terlalu steril, seperti seseorang sudah bekerja keras menghapus semua jejak manusia dari udara di sana dan yang tertinggal hanya zat kimia dan keheningan yang sopan. Bau yang membuat orang tanpa sadar menurunkan suara mereka setengah oktaf begitu masuk ke dalamnya. Bau yang mengingatkanmu bahwa di tempat ini, tubuh adalah urusan serius.

Mereka tiba jam delapan kurang sepuluh.

Rara yang pegang nomor antrian. Hendra yang dorong kursi roda, Bapak sebetulnya masih bisa jalan, tapi Rara bersikeras karena rumah sakitnya cukup besar dan ia tidak mau Bapak kelelahan sebelum sampai ke ruang dokter. Bapak tidak protes. Ia duduk di kursi roda itu dengan punggung tegak dan ekspresi orang yang sedang piknik, menatap ke kiri kanan koridor dengan minat yang tulus.

"Ini rumah sakit ya," kata Bapak.

"Iya, Pak," jawab Rara.

"Siapa yang sakit?"

Hening sebentar. Hendra dan Rara saling lirik di atas kepala Bapak.

"Bapak mau periksa rutin," kata Nisa dari samping, dengan nada yang paling wajar dari ketiganya. "Biar tahu badan Bapak sehat atau tidak."

"Badan aku sehat," kata Bapak, yakin.

"Bagus. Nanti kita buktikan ke dokternya."

Bapak mengangguk, puas dengan jawaban itu, dan kembali menatap koridor dengan minat yang sama.

Dokter yang menangani Bapak namanya dr. Satrio, spesialis neurologi, usia empat puluhan, kacamata kotak, cara bicara yang terukur dan tidak membuang kata. Bukan tipe dokter yang akan menepuk pundakmu dan bilang semua akan baik-baik saja, tapi juga bukan tipe yang dingin. Lebih ke tipe yang sudah terlalu sering menyampaikan berita yang tidak mudah sampai ia tahu bahwa yang paling menghormati pasien dan keluarganya adalah kejujuran yang disampaikan dengan hati-hati.

Ia periksa Bapak dulu, sendirian, di dalam ruangan, sementara Rara, Hendra, dan Nisa menunggu di luar.

Mereka duduk bertiga di bangku panjang di koridor. Bangku warna abu-abu, keras, tidak nyaman untuk duduk lama. Di kanan mereka ada keluarga lain yang juga menunggu, seorang ibu muda dengan bayi di pangkuan, seorang kakek yang membaca koran, seorang perempuan seusia Rara yang menatap ponselnya dengan ekspresi datar.

Tidak ada yang bicara di antara mereka bertiga.

Hendra menyilangkan tangan di dada. Nisa memainkan tali tasnya. Rara menatap pintu ruang periksa yang tertutup, menatapnya seperti kalau cukup lama memandangi pintu itu, ia bisa tahu apa yang sedang terjadi di baliknya.

Dua puluh menit kemudian, suster keluar dan meminta mereka masuk.

Di dalam, Bapak duduk di kursi di samping meja dokter, tampak tidak terganggu. Di depannya ada segelas air yang entah kapan diberikan, dan Bapak sedang meminumnya dengan tenang seperti sedang di warung.

Dr. Satrio mempersilakan mereka duduk, tiga kursi sudah disiapkan di depan mejanya, berbaris rapi.

"Terima kasih sudah datang," kata dokter itu. Ia membuka map tipis di depannya. "Saya sudah periksa Bapak, dan sudah bandingkan dengan hasil pemeriksaan enam bulan lalu yang ada di catatan kami." Ia berhenti sebentar. "Ada perkembangan yang perlu kita bicarakan."

Perkembangan. Kata yang terasa seperti sesuatu yang baik tapi dipakai untuk hal yang tidak baik.

"Bapak sekarang ada di stadium sedang dari demensia tipe Alzheimer." Dokter itu bicara pelan, jelas, tidak tergesa. "Artinya kondisi sudah melewati fase awal. Beberapa fungsi kognitif, seperti memori jangka pendek, orientasi waktu dan tempat, serta kemampuan mengenali orang-orang terdekat, sudah mulai terdampak lebih signifikan dari sebelumnya."

Hendra mengangguk pelan, seperti sedang di meeting dan menerima laporan. Rara menatap titik di atas kepala dokter. Nisa memegang tali tasnya lebih erat.

"Untuk ke depannya," lanjut dokter, "kondisi ini akan terus berkembang. Saya tidak bisa memberikan garis waktu yang pasti, setiap orang berbeda. Tapi yang perlu keluarga siapkan adalah: perubahan perilaku yang makin sering, kemungkinan ia tidak mengenali anggota keluarga lebih sering, dan di fase yang lebih lanjut, kebutuhan bantuan untuk aktivitas sehari-hari yang lebih dasar."

Di sebelah mereka, Bapak meletakkan gelas kosongnya di atas meja dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu kecil.

"Obatnya gimana, Dok?" tanya Rara.

"Obat yang sekarang kita lanjutkan, saya akan sesuaikan dosisnya. Obat ini membantu memperlambat, tapi tidak menghentikan progres." Dokter itu menatap mereka bergantian, tiga wajah yang masing-masing sedang mengelola sesuatu yang berbeda di baliknya. "Yang sama pentingnya dengan obat adalah lingkungan. Rutinitas yang konsisten. Stimulasi yang ringan, ngobrol, musik yang ia kenal, aktivitas yang tidak membebani. Dan yang paling penting: kehadiran orang-orang yang ia kenal."

"Kalau kondisinya makin buruk?" kata Hendra. "Maksud saya, dalam jangka panjang, apakah ada titik di mana perawatan di rumah tidak lagi... cukup?"

Dr. Satrio mengangguk. "Ada kemungkinan itu. Tapi kita belum di sana. Sekarang, dengan dukungan keluarga yang baik, perawatan di rumah masih sangat memungkinkan dan bahkan dianjurkan." Ia berhenti. "Apakah ada yang tinggal bersama Bapak?"

Rara dan Hendra dan Nisa, semuanya diam setengah detik terlalu lama.

"Saya yang paling dekat," kata Rara akhirnya. "Dua puluh menit dari rumah Bapak."

Dokter mengangguk. Tidak berkomentar lebih dari itu, tapi Rara merasa sesuatu di cara dokter itu mengangguk, ada pengertian di sana yang lebih dalam dari sekadar menerima informasi.

"Ada pertanyaan lain?"

Tidak ada yang bicara.

"Baik." Dokter menutup mapnya. "Resep saya siapkan di depan. Kontrol lagi tiga bulan, atau lebih cepat kalau ada perubahan yang signifikan." Ia menatap Bapak, yang sedang memandangi kalender di dinding dengan ekspresi penasaran. "Pak Bagyo."

Bapak menoleh.

"Bapak sehat. Boleh pulang."

Bapak tersenyum, senyum yang tulus, tidak dibebani oleh apapun yang baru saja dibicarakan di ruangan ini. "Makasih, Pak Dokter. Ganteng."

Hendra menunduk. Bahunya bergerak sekali, antara hampir tertawa dan bukan itu.

Di luar ruangan, suster membawa Bapak ke apotek untuk mengambil resep.

Dan mereka bertiga, Rara, Hendra, Nisa, kembali duduk di bangku panjang yang sama.

Abu-abu. Keras. Tidak nyaman.

Lihat selengkapnya