Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #5

Rekaman Pertama

Ada benda-benda yang menyimpan waktu.

Bukan jam. Jam hanya menghitung waktu, dan itu berbeda. Yang menyimpan waktu adalah benda-benda yang tidak dirancang untuk itu: sweater yang baunya tidak berubah walau sudah bertahun-tahun di lemari. Foto yang sudutnya sudah melengkung. Sendok yang gagangnya retak di tempat yang sama persis dengan yang kamu ingat. Benda-benda kecil yang tidak ada harganya di toko manapun, tapi yang di tanganmu terasa seperti pintu, dan kalau kamu mau, kalau kamu cukup berani, kamu bisa membukanya dan masuk ke waktu yang sudah pergi.

HP tua itu adalah pintu.

Nisa tahu itu sejak pertama kali memungutnya kemarin. Sejak matanya membaca angka itu, 1.247 file, dan sesuatu di dadanya berdenyut dengan cara yang bukan sepenuhnya takut dan bukan sepenuhnya rindu, tapi sesuatu di antara keduanya, di tempat yang tidak ada namanya.

Ia sudah memikirkannya semalaman.

Dan pagi ini, jam enam, sebelum Rara bangun, sebelum Hendra turun dari kamarnya, sebelum rumah ini terisi oleh suara dan gerakan dan keputusan-keputusan yang perlu dibuat, Nisa duduk di lantai kamarnya, di kamar yang dulu kamarnya dan Rara bersama, yang sekarang sudah jadi kamar tamu, dengan punggung bersandar ke ranjang dan lutut ditekuk ke dada.

Di tangannya ada HP tua itu.

Bapak semalam meletakkannya di atas nakas seperti biasa. Dan Nisa yang membantu Bapak menyiapkan tidur, menggantikan Rara yang sudah kelelahan, melihatnya di sana. Menatapnya lama setelah Bapak tertidur.

Lalu ia ambil.

Bukan mencuri. Bukan mengambil tanpa izin. Lebih tepatnya, meminjam. Meminjam untuk sesuatu yang ia tidak sepenuhnya bisa artikan bahkan kepada dirinya sendiri.

Ia bawa ke kamarnya. Ia taruh di lantai di depannya. Ia tatap.

Layar retak di sudut kanan atas, diplester selotip bening yang sudah menguning. Tombol tengahnya aus, catnya sudah hilang di bagian yang paling sering dipencet. Di bagian belakang, ada goresan panjang yang, Nisa tiba-tiba ingat dengan jelas seperti kilat, terjadi waktu HP ini jatuh di teras lima atau enam tahun lalu, waktu Bapak sedang merekam suara hujan dan tidak sadar mejanya miring.

Bapak marah sekali waktu itu. Bukan marah yang keras, marah yang sunyi, yang lebih menyesakkan dari marah yang keras. Ia ambil HP-nya, lihat goresannya, lalu masuk ke dalam tanpa bicara apapun. Dan Nisa yang waktu itu ada di sana, yang menyaksikan semuanya, tidak tahu harus bilang apa, jadi tidak bilang apa-apa.

Sekarang ia memegang HP itu.

Layarnya masih hidup, baterainya entah bagaimana masih cukup. Nisa pencet tombol tengah yang ausnya itu. Layar menyala, menampilkan menu utama yang tampilannya sudah jadi antik: ikon-ikon kecil berbentuk kotak, wallpaper foto pemandangan gunung yang pikselnya kasar, jam digital di sudut atas.

Ia masuk ke menu rekaman suara.

1.247 file.

Mereka tidak diberi nama. Tidak ada judul, tidak ada keterangan. Hanya tanggal dan waktu, format angka yang kering dan tidak bercerita. Yang paling awal: tujuh belas tahun lalu. Yang paling baru: tiga minggu yang lalu.

Tujuh belas tahun.

Bapak sudah merekam selama tujuh belas tahun.

Nisa menatap daftar itu, gulungan panjang angka-angka yang mewakili tujuh belas tahun kehidupan yang direkam diam-diam, tanpa ada yang minta, tanpa ada yang tahu untuk apa. Seribu dua ratus empat puluh tujuh momen yang dianggap cukup berharga untuk disimpan.

Oleh orang yang tidak pernah bilang aku cinta kamu kepada siapapun.

Nisa menelan sesuatu yang terasa besar di tenggorokannya.

Ia gulir ke paling bawah, ke yang paling awal. File pertama. Tanggalnya tujuh belas tahun lalu, bulan Maret, jam setengah tujuh pagi.

Jarinya melayang di atas tombol putar.

Apakah kamu siap?

Ia tidak tahu. Ia tidak pernah akan tahu sampai ia melakukannya. Dan ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa ditunggu sampai siap karena siap tidak pernah benar-benar datang, yang ada hanya sekarang atau tidak sama sekali.

Ia pencet putar.

Suara pertama adalah suara piring.

Suara piring yang diletakkan di atas meja, bukan dibanting, bukan dijatuhkan, hanya diletakkan dengan cara yang sudah terbiasa, dengan bunyi yang pendek dan familiar. Lalu suara air mengalir dari keran. Lalu suara kompor dinyalakan, klik klik klik, lalu bret kecil ketika api menyala.

Lalu suara itu.

"Mas, sarapannya mau nasi goreng atau roti?"

Nisa tidak bernapas.

Suara itu, suara yang Nisa sudah delapan tahun tidak dengar kecuali di mimpi, dan bahkan di mimpi selalu tidak cukup jelas, selalu seperti mendengar melalui air. Suara itu sekarang ada di sini, di HP tua yang layarnya retak, di kamar yang masih gelap jam enam pagi, dengan kejernihan yang membuat Nisa tidak bisa langsung percaya bahwa ini nyata.

Suara Ibu.

"Mas, sarapannya mau nasi goreng atau roti?"

Pertanyaan yang sangat biasa. Pertanyaan yang mungkin ditanya ratusan kali selama puluhan tahun menikah. Pertanyaan yang tidak ada yang menyangka perlu direkam, perlu disimpan, perlu dijaga, karena waktu itu Ibu masih ada dan pertanyaan seperti itu akan selalu ada besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.

Sampai tidak ada lagi.

Dari rekaman, terdengar suara Bapak, jauh, dari ruang lain. "Nasi goreng saja."

Lalu suara Ibu lagi: "Pedasnya biasa atau tambah?"

"Tambah."

Dan lalu, Nisa tidak menduga ini, suara tawa kecil Ibu. Bukan tawa yang keras, bukan tawa yang ada sebabnya. Tawa yang keluar begitu saja, seperti sendawa, seperti sesuatu yang terlalu senang untuk ditahan. Tawa orang yang sedang di dapur pagi-pagi, masak untuk suaminya, dan entah kenapa merasa bahagia dengan caranya sendiri yang tenang dan tidak perlu alasan.

Lihat selengkapnya