Rara membuat jadwal itu di malam hari ketiga.
Ia tulis di kertas HVS yang ia lipat dua, tulisannya rapi, seperti tulisan guru, karena memang begitulah tulisan orang yang tumbuh dikelilingi papan tulis dan buku absensi dan formulir-formulir yang harus diisi dengan jelas. Nama di kolom kiri. Hari di kolom atas. Tugas di kolom tengah: siapa yang temani Bapak pagi, siapa yang siapkan makan siang, siapa yang pastikan obat jam delapan, siapa yang jaga malam.
Ia tempel di pintu kulkas dengan magnet berbentuk ikan yang sudah ada di sana sejak Nisa beli dari pasar malam delapan atau sembilan tahun lalu.
Pagi berikutnya, Hendra melihatnya.
Ia baca diam-diam sambil menuang air ke gelas. Baca sekali, dua kali. Lalu ia taruh gelas itu, berbalik ke Rara yang sedang menggoreng telur.
"Ra."
"Apa."
"Jadwal ini, aku masih ada kerjaan, kamu tahu. Aku kerja remote tapi tetap ada deadline."
Rara tidak menoleh dari kompor. "Makanya aku bagi rata. Kamu dapat sore. Bukan pagi, bukan malam."
"Selasa depan aku ada presentasi."
"Presentasinya jam berapa?"
"Jam dua."
"Bapak tidur siang jam satu. Berarti masih bisa."
Hendra menghela napas. "Kamu tidak tanya dulu, langsung buat jadwal."
Sekarang Rara menoleh. Api kompor ia kecilkan. Ia menatap Hendra dengan cara yang bukan marah, bukan juga sabar. Cara menatap orang yang sudah terlalu lelah untuk berdebat tapi juga terlalu lelah untuk diam.
"Kalau aku tanya dulu," kata Rara, "kapan selesainya? Kamu bilang nanti, Nisa bilang nanti, terus siapa yang urus Bapak selagi kita bahas?"
Hendra tidak menjawab.
"Jadwal itu bisa diubah kalau ada keperluan mendesak. Itu bukan hukum mati." Rara balik ke kompornya. "Tapi setidaknya ada yang pegang. Setidaknya ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab kapan. Karena selama ini yang pegang cuma aku, Hen. Satu orang. Dan aku sudah cape."
Kalimat terakhir itu keluar lebih pelan dari yang lain. Bukan untuk dramatis, justru sebaliknya. Kalimat yang diucapkan dengan suara yang sudah tidak punya tenaga untuk membuatnya terdengar lebih besar dari yang sebenarnya.
Hendra mengambil gelas airnya. Minum. Lalu pergi ke ruang tengah.
Percakapan selesai, bukan karena selesai, tapi karena salah satu pihak memilih untuk tidak meneruskan. Dan itu, di rumah ini, adalah cara mereka menyelesaikan banyak hal sejak kecil.
Nisa melihat jadwal itu sambil sarapan.
Ia membacanya, mengangguk-angguk kecil, lalu makan lagi tanpa komentar. Rara yang duduk di seberangnya memperhatikan.
"Kamu tidak keberatan?" tanya Rara.
"Tidak." Nisa mengambil tempe. "Masuk akal kok."
"Hendra keberatan."
"Iya, aku dengar tadi." Nisa mengunyah sebentar. "Dia pasti oke kok, Mbak. Dia hanya perlu waktu untuk menyesuaikan."
Rara menatap adiknya. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, sesuatu tentang bagaimana menyesuaikan itu adalah kemewahan yang tidak semua orang punya, tentang bagaimana ada orang-orang yang tidak pernah diberi waktu untuk menyesuaikan karena keadaan tidak menunggu. Tapi ia telan.
"Kamu bisa mulai hari ini?" tanya Rara.
"Bisa. Bapak sekarang mana?"
"Di teras. Lagi dengerin burung katanya."
Nisa tersenyum. Ia letakkan sendoknya, berdiri, bawa piringnya ke wastafel. Lalu ia berjalan ke teras, santai, tanpa tergesa, dengan cara bergerak yang selalu membuat Rara setengah iri dan setengah frustrasi karena tidak mengerti bagaimana seseorang bisa selalu se-ringan itu.
Yang tidak Rara katakan, yang tidak Rara katakan kepada siapapun, adalah bahwa jadwal itu bukan hanya soal kepraktisan.
Jadwal itu adalah cara Rara mempertahankan sesuatu yang selama ini hanya ia yang punya: kontrol.
Karena selama tiga tahun terakhir, kontrol adalah satu-satunya yang membuat Rara merasa masih bisa berdiri. Selama tiga tahun ia yang tahu kapan Bapak minum obat, berapa tablet, jam berapa. Ia yang tahu dokternya siapa, nomornya berapa, terakhir kontrol kapan. Ia yang tahu Bapak tidak suka makan ikan kalau tulangnya tidak dikeluarkan dulu, yang tahu Bapak perlu lampu kecil dinyalakan kalau tidur, yang tahu kalau Bapak diam terlalu lama di kamar mandi berarti perlu dicek.
Semua itu ia pegang sendiri. Tanpa minta tolong, bukan karena tidak butuh, tapi karena minta tolong terasa seperti mengakui sesuatu yang belum siap ia akui: bahwa ini terlalu besar untuk satu orang.
Dan sekarang ada dua orang lagi di rumah ini. Dua orang yang datang dengan niat baik tapi juga dengan cara masing-masing yang tidak selalu selaras dengan cara Rara. Dan Rara yang seharusnya lega, yang seharusnya bernapas lebih lega sekarang tidak sendirian, justru menemukan bahwa berbagi kontrol itu lebih susah dari menanggung sendiri.
Karena menanggung sendiri ia sudah tahu caranya. Berbagi, itu yang perlu ia pelajari dari nol.
Hari pertama berjalan cukup baik.
Nisa dengan Bapak di teras sampai siang, mereka bermain sesuatu yang tidak jelas aturannya, semacam tebak-tebakan yang Bapak ciptakan sendiri, dan dari dalam Rara bisa mendengar suara mereka sesekali, suara Bapak yang berkomentar dan suara Nisa yang merespons. Harmonis. Hangat.
Hendra di kamar sampai sore, kerjanya, kata ia. Tapi ia turun tepat jam tiga seperti yang ada di jadwal, mengambil alih dari Nisa, membawakan Bapak air putih dan duduk di kursi sebelahnya tanpa banyak bicara.
Bapak menatap Hendra dari samping.
"Kamu itu wajahnya serius terus," kata Bapak.
Hendra sedikit terkejut. "Iya, Pak?"
"Dari kecil juga begitu." Bapak menatap ke halaman. "Kerja terus kerja terus. Kapan mainnya?"
"Bapak ingat itu?"
"Ingat apa?"