Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #7

Kamu Capek Ya, Hen

Ada malam-malam yang tidak terasa berbeda dari malam-malam lain.

Langitnya sama. Suhu udaranya sama. Suara jangkrik yang sama dari arah yang sama. Tidak ada yang mengumumkan bahwa malam ini akan berbeda, tidak ada tanda, tidak ada perasaan khusus di kulit atau di dada yang bilang bersiaplah, sesuatu akan terjadi. Ia datang seperti malam biasa, berjalan seperti malam biasa, dan baru setelahnya kamu sadar bahwa kamu baru saja melewati sesuatu yang tidak akan mudah kamu lupakan.

Malam itu adalah giliran Hendra.

Sudah hampir jam sebelas.

Rara dan Nisa sudah masuk kamar, Rara karena memang selalu tidur lebih awal sejak ia harus bangun paling pagi, Nisa karena katanya ia mau lanjut sketsa sebentar tapi Hendra menduga adiknya juga sudah tertidur di atas sketchbook-nya seperti yang sering terjadi. Rumah sudah sunyi. Lampu-lampu sudah dimatikan satu per satu kecuali lampu tidur kecil di kamar Bapak dan lampu lorong yang sengaja dibiarkan menyala.

Hendra duduk di kursi kayu di sudut kamar Bapak.

Kursi ini sudah ada di sini sejak lama, kayu jatinya sudah menggelap dimakan usia, sandarannya sedikit miring ke kanan, kalau diduduki terlalu lama ada bagian yang mulai menekan tulang ekor dengan cara yang tidak menyenangkan. Tapi kursi ini adalah satu-satunya kursi di kamar Bapak, jadi Hendra duduk di sana, dengan ponsel di tangan yang layarnya sudah ia matikan sejak setengah jam lalu.

Bapak sudah tidur, atau kelihatannya sudah tidur. Napasnya teratur. Matanya tertutup. Selimut batik yang sudah tipis di beberapa bagian menutupinya sampai dada.

Hendra tidak tahu kenapa ia tidak pergi tidur.

Ia seharusnya bisa, Rara bilang kalau Bapak sudah tidur dan keadaan tenang, tidak perlu jaga sepanjang malam, cukup pastikan kondisi aman lalu istirahat. Tapi ada sesuatu yang membuat Hendra tidak bergerak dari kursi itu. Sesuatu yang tidak bisa ia namai dengan tepat, bukan kewajiban, karena kewajiban tidak terasa seperti ini. Lebih ke... kebutuhan. Kebutuhan untuk duduk di sini, di kamar ini, di dekat orang ini, untuk waktu yang tidak ia ukur.

Mungkin karena selama bertahun-tahun ia selalu pergi.

Dan malam ini ia tidak mau pergi dulu.

Kamar Bapak kecil.

Ranjang di tengah, lemari di sebelah kiri, meja nakas kecil di kanan dengan laci yang tidak pernah benar-benar menutup rapat. Di atas meja nakas: gelas air, kotak obat, HP tua, dan satu bingkai foto kecil yang Hendra tidak langsung perhatikan tapi sekarang, dalam cahaya lampu tidur yang oranye dan remang, ia bisa melihatnya.

Ia bangkit pelan dari kursinya. Melangkah ke meja nakas. Mengambil bingkai foto itu.

Foto keluarga, mereka berenam: Bapak, Ibu, Rara, Hendra, Nisa, dan satu lagi yang membuat Hendra sejenak tidak ingat siapanya sebelum ia ingat: Pakde Suwito, kakak Bapak yang sudah meninggal delapan tahun lalu, setahun sebelum Ibu. Di foto itu mereka semua berdiri di depan rumah ini, cat temboknya masih putih bersih, pagarnya masih hitam mengkilat, pohon jambu di belakang mereka masih lebih kecil dari sekarang.

Hendra tidak ingat foto ini diambil kapan. Tidak ingat acara apa. Semua orang tersenyum, Ibu paling lebar, Rara agak kaku karena memang Rara selalu agak kaku di depan kamera, Nisa yang masih kecil melotot ke lensa, Hendra yang masih lebih muda memasang senyum yang bahkan di foto pun terlihat sedikit dipaksakan.

Dan Bapak, Bapak berdiri di belakang, tangannya di bahu Ibu, tidak tersenyum lebar tapi ada sesuatu di sudut matanya yang sekarang, di usia ini, di malam ini, Hendra bisa membaca dengan cara yang dulu tidak bisa.

Bapak bahagia di foto itu.

Bahagia dengan cara yang tenang. Yang tidak perlu ditunjukkan. Yang cukup ada.

Hendra menaruh foto itu kembali. Kembali ke kursinya.

Jam sebelas lewat dua puluh menit, Hendra hampir tertidur.

Kepalanya sudah mulai berat, pandangannya sudah mulai kabur, dan pikiran-pikirannya sudah mulai campur aduk dengan cara yang hanya terjadi di ambang tidur, ketika batas antara yang nyata dan yang tidak mulai melunak.

Lalu Bapak bergerak.

Bukan bergerak karena mimpi buruk, bukan gerakan yang tiba-tiba atau yang mengagetkan. Hanya bergerak, menggeser posisi, membuka mata.

Hendra langsung duduk tegak.

"Bapak?" Suaranya pelan. "Tidak apa-apa? Mau minum?"

Bapak tidak langsung menjawab. Ia berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar dalam diam. Hendra menunggu, siap berdiri, siap ambil air, siap melakukan apapun yang perlu dilakukan.

Tapi Bapak tidak meminta apa-apa.

Ia hanya berbaring dan menatap langit-langit. Dan Hendra yang sudah cukup lama tinggal di rumah ini untuk mengenali perbedaannya, antara Bapak yang bingung dan Bapak yang tidak, duduk dengan satu bagian dirinya yang mulai memperhatikan lebih seksama.

Karena ada sesuatu yang berbeda malam ini.

Cara Bapak berbaring. Cara matanya bergerak, tidak gelisah, tidak mencari-cari sesuatu yang tidak ada. Tenang. Sadar. Seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur dan tahu persis di mana ia berada dan jam berapa ini dan siapa yang ada di kamarnya.

Bapak menoleh ke arah Hendra.

Dan menatapnya.

Bukan cara menatap orang yang mencari-cari nama di balik wajah yang familiar. Bukan cara menatap orang yang sedang mencoba mencocokkan puzzle yang potongannya berserakan. Tapi cara menatap yang langsung, yang penuh, yang sampai. Cara menatap orang yang melihat.

"Hendra," kata Bapak.

Bukan pertanyaan. Bukan ragu-ragu. Namanya, diucapkan dengan cara yang sama persis dengan cara orang yang mengenalmu seumur hidup mengucapkan namamu.

Hendra menahan napas tanpa sadar.

Lihat selengkapnya