Ada orang-orang yang menjadi kuat bukan karena mereka memilih kekuatan.
Tapi karena tidak ada yang menawarkan mereka pilihan lain.
Rara adalah anak pertama. Di keluarga seperti ini, keluarga yang tidak pernah punya cukup kata untuk hal-hal yang penting, yang menunjukkan cinta dengan tindakan tapi tidak pernah mengajarkan cara meminta tolong, menjadi anak pertama berarti kamu adalah yang pertama belajar berjalan, yang pertama belajar membaca, yang pertama mencapai sesuatu. Dan itu berarti kamu juga yang pertama menanggung sesuatu.
Tidak ada yang bilang ini kepadanya secara langsung.
Tidak perlu bilang. Itu dipelajari dari cara Ibu menoleh kepadanya dulu ketika ada masalah sebelum menoleh ke siapapun. Dari cara Bapak berkata "Rara, tolong lihat adik-adikmu" bukan sebagai permintaan tapi sebagai fakta yang sudah disepakati tanpa pernah dirundingkan. Dari cara ia tumbuh menjadi orang yang lebih tahu ukuran sepatu adik-adiknya dari ukuran sepatunya sendiri.
Dan sekarang, di usianya yang empat puluh dua, Rara masih melakukan hal yang sama.
Sampai malam Kamis itu.
Kamis malam adalah giliran Hendra.
Rara sudah pastikan itu dua kali, sekali di pagi hari ketika mereka sarapan, sekali di sore hari ketika berpapasan di lorong. Hendra mengangguk keduanya. Iya, Kamis malam aku. Rara percaya itu. Ia mandi, membereskan hal-hal kecil yang perlu dibereskan, lalu masuk kamar jam sembilan dengan niat untuk tidur lebih awal dari biasanya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia izinkan dirinya tidur lebih awal.
Jam sebelas lewat, ia terbangun karena suara.
Bukan suara yang keras. Hanya suara pintu kamar mandi yang tidak menutup sempurna karena engselnya sudah agak longgar, bunyi gesekan kayu yang khas, yang hanya muncul kalau seseorang berjalan lewat di malam hari dan udara bergerak di lorong. Suara kecil. Tapi sudah cukup untuk membangunkan seseorang yang tidurnya tidak pernah benar-benar dalam.
Rara membuka mata.
Ia dengarkan.
Sunyi. Lalu suara langkah pelan. Bukan langkah Hendra, Hendra jalannya lebih berat, sepatunya selalu berbunyi bahkan tanpa sepatu. Ini langkah Bapak. Langkah yang lebih hati-hati, yang mencari-cari pijakan, yang mengenal lantai ini tapi tidak selalu percaya pada pengenalannya itu.
Rara bangun.
Ia keluar kamar. Di lorong, dalam gelap, ia melihat Bapak sedang berjalan ke arah dapur. Sendiri. Hendra tidak ada di kamar Bapak, pintu kamarnya terbuka, lampunya mati.
Rara berdiri di lorong itu sebentar.
Berdiri dan menghitung sampai lima dengan cara yang ia lakukan ketika tidak mau bereaksi sebelum siap.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Lalu ia menyusul Bapak ke dapur.
Bapak ingin minum. Itu saja, ia haus, ia bangun, ia pergi ke dapur. Tidak ada yang salah dengan itu. Rara buatkan segelas air, ia temani Bapak minum, ia antar Bapak kembali ke kamarnya, ia tunggui sampai Bapak berbaring dan matanya menutup.
Semua selesai dalam dua puluh menit.
Lalu Rara berdiri di lorong.
Kamar Hendra pintunya masih tertutup. Dari baliknya tidak ada suara, tidak ada suara ketikan, tidak ada cahaya yang menerobos dari bawah pintu. Hendra sedang tidur. Tidur dengan nyenyak, rupanya, sampai tidak mendengar Bapak bangun.
Rara berdiri di depan pintu kamar itu.
Tangannya mengepal satu kali di sisi tubuhnya.
Lalu ia buka pintu.
"Hen."
Tidak ada respons. Rara menyalakan lampu, lampu kamar yang langsung terang, tanpa peringatan.
Hendra tersentak bangun. "Wha — apa — Rara?"
"Bapak tadi bangun. Jalan sendiri ke dapur."
Hendra mengedipkan mata, masih setengah sadar. "Aku tidak dengar—"
"Tidak dengar karena kamu tidur."
"Ra, aku tidak sengaja ketiduran, aku tadi—"
"Kamu bilang Kamis malammu."
"Iya, tapi—"
"Aku sudah tanya dua kali, Hen. Dua kali kamu bilang iya."
Nada Rara masih terkontrol. Masih datar. Masih dalam batas-batas yang bisa disebut wajar oleh siapapun yang mendengarnya dari luar. Tapi ada sesuatu di bawah nada itu, seperti tekanan di dalam pipa yang sudah menumpuk terlalu lama, yang dindingnya sudah mulai tidak cukup kuat untuk menahannya.
Hendra duduk di ranjang. Mengusap mukanya. "Maaf. Aku tidak sengaja, Ra. Aku kelelahan—"
"Kamu kelelahan."
"Iya."
"Kamu kelelahan setelah berapa hari?"
Hendra menatap kakaknya. Ada sesuatu di cara Rara berdiri di ambang pintu kamarnya, punggung yang terlalu tegak, tangan yang terlalu diam di sisi tubuh, rahang yang sedikit tegang, yang membuat Hendra tidak langsung menjawab.
"Berapa hari, Hen?" ulang Rara.
"Ra—"